fbpx
Beranda Headline Ramai Kontroversi Tarekat Tijaniyah, Ini Keputusan Para Ulama pada Kongres NU Tahun...

Ramai Kontroversi Tarekat Tijaniyah, Ini Keputusan Para Ulama pada Kongres NU Tahun 1931 di Cirebon

Harakah.id – Ramai Kontroversi Tarekat Tijaniyah sempat mengemuka di tahun 1930-an. Pada Kongres NU di Cirebon tanggal 26 Agustus 1931, para ulama pun turut membahas hal itu. Akhirnya para ulama sepakat terkait penyikapan terhadap Tarekat Tijaniyah. Begini kisah dan hasil keputusannya…

Kota Cirebon merupakan daerah awal terjadinya proses Islamisasi yang terjadi di Tataran Sunda (Jawa Barat) yang dipimpin langsung oleh Syaikh Nurjati Cirebon. Menurut Asep Achmad Hidayat dalam bukunya Studi Kawasan Muslim Minoritas Asia Tenggara, kota Cirebon berkembang pesat dibawah pimpin Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah). Beliau merupakan salah satu wali songo yang dikatakan sebagai keturunan dari bangsawan Quraisy. Di kota inilah Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) lahir dan berkembang secara pesat. Bagaimana ikatan organisasi Nahdlatul Ulama  dan kota Cirebon itu lahir? Simak penjelasannya. 

Baca Juga: Keampuhan Hizib Ghozali dan Runtuhnya Kerajaan Murabbithin

Zaenal Masduqi dalam bukunya Cirebon dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial, untuk pertama kalinya, organisasi NU mengadakan kegiatan Congres/Muktamar ke-6 bertepatan pada 12 Rabius Tsani 1350 H/26-29 Agustus 1931 M di Hotel Orange Cirebon. Zaenal mencatat bahwa acara congress ini sangat meriah dan dihadiri oleh 8000 anggota. Para peserta congress terdiri dari golongan ulama yang berjumlah 305 orang dan masyarakat (bukan dari kalangan kyai) berjumlah 400 orang. 

Zaenal melanjutkan bahwa pada hari kedua, muktamar ini dipindahkan ke Masjid Jamie Cirebon (sekarang Masjid al-Taqwa) karena kehadiran masyarakat yang ramai. Sebelum congres dimulai, acara ini sempat ada kendala masalah perizinan pada pemerintahan Belanda. namun, atas usaha KH.Wahab Chasbullah, kegiatan ini dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Adviseur Voor Indlandsche Zaken. Pada saat itu pun Masjid Jamie Cirebon menjadi tempat sejarah congress NU yang pertama di Jawa Barat.

Menurut Budi Sujati dalam bukunya Sejarah Perkembangan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat,kota Cirebon terpilih menjadi tempat congress pertama organisasi NU karena daerahnya yang sangat strategis. Ia bersimpangan antara Jawa Barat bagian Timur yang berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Tengah yang ramai penduduknya. Menariknya, pada tahun 1905, wilayah Cirebon menjadi daerah kotapraja yang dimulai dari kota Pekalongan, Batavia, Meester Cornelis (Jatinegara), Buitenzorg (Bogor), Semarang, dan Bandung. Mengutip dari Zaenal Masduqi, pada tahun 1905, sebagian penduduk wilayah Cirebon didiami oleh orang Eropa (sekitar 23.000 jiwa) dan masyarakat China (sekitar 2.900). 

Baca Juga: Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji
nucare-qurban

Ramai Kontroversi Tarekat Tijaniyah, Ini Sikap Para Kiai…

Tujuan awal diadakannya kongres atau muktamar yang ada di pelbagai organisasi  berupaya untuk mengatasi perpecahan umat Islam dalam masalah-masalah keagamaan. NU hadir untuk membahas beberapa masalah yang muncul di mata masyarakat muslim. Ahmad Zahro dalam bukunya Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999, Muktamar NU ke-6 ini dihadapkan oleh 49 permasalahan agama, namun hanya 13 masalah yang bisa diselesaikan. 

Ahmad Zahro juga melanjutkan bahwa dalam muktamar ini, para kyai dan sesepuh Jawa Barat membahas Tarekat Tijaniyah yang sebagian ulama menganggap sesat saat itu. Saat itu memang ramai kontroversi Tarekat Tijaniyah. Para kyai berhasil menuntaskan dan memutuskan bahwa Tarekat Tijaniyah ialah praktek yang sah dan bersambung hingga Rasulullah SAW. Para kyai muda yang hadir saat muktamar berlangsung diantaranya KH. Ruhiyat, sosok muda visioner yang berhasil mengembangkan NU di Jawa Barat. Kemudian, KH. Zainul Arifin, sosok kyai muda sebagai konsul seluruh cabang NU di Jawa Barat. Sayangnya, penulis belum berhasil menemukan para kyai sepuh lainnya yang hadir di kongres ini. 

Baca Juga: Pandangan Syekh Ibnu Taimiyah Tentang Kaum Sufi yang Jarang Diketahui

Namun, hal yang perlu digaris bawahi ialah sejarah mencatat congres NU ke-6 ini  telah menarik minat masyarakat Cirebon untuk mengenal organisasi NU sebagai pendatang yang saat itu  Persis menjadi organisasi yang paling dikenal dan diikuti oleh masyarakat Jawa Barat. Di tahun ini pun, Cirebon menjadi salah satu wilayah yang berhasil mengembangkan organisasi NU padahal setiap daerah tertentu di Jawa Barat telah dikenalkan sebelumnya.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...