Rasulullah Melarang Radikalisme Beragama, Ini Dasar Hadis dan Penjelasannya

0
82

Harakah.id Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Ibnu Abbas beliau melarang umatnya bersikap radikal atau ekstrim.

Tentang terminologi radikalisme dalam perspektif ajaran Islam, khususnya hadis, dikenal dengan istilah al–ghuluw dan tatharruf. Yang secara sederhana diartikan sebagai sesuatu yang melampaui batas atau sesuatu yang berlebih – lebihan. Sehingga maksud dari radikalisme beragama adalah berlebih – lebihan atau melampaui batas yang telah ditetapkan oleh teks-teks agama (al-Qur’an dan Hadis) dalam menjalankan agama itu sendiri.

Seseorang yang radikal dalam beragama biasanya terlihat dari cara mereka memahami teks – teks agama yang parsial. Hal itu disebabkan karena adanya rasa fanatisme dalam mengikuti sebuah aliran atau pemikiran tertentu dan tidak menerima kebenaran dari orang lain. Karena itu, orang – orang yang radikal dalam beragama sangat rentan melakukan tindakan – tindakan ekstrim, baik secara psikis dengan menuduh sesat aliran atau pemikiran orang lain ataupun secara fisik dengan menindas kelompok – kelompok yang berseberangan dengan mereka untuk memaksakan kehendak dan pendapatnya.

Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Ibnu Abbas beliau melarang umatnya bersikap radikal atau ekstrim.

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda: hindarilah berlebihan dalam urusan agama, sesungguhnya sikap berlebihan dalam beragama telah menghancurkan umat sebelum kalian. (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain, yaitu riwayat Imam Muslim. Nabi Saw. bersabda bahwa binasalah orang – orang yang berlebihan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ قَالَهَا ثَلَاثًا

Dari Abdullah, Nabi saw bersabda: celakalah orang-orang yang bersikap berlebihan atau radikal. Nabi saw mengulanginya tiga kali (HR. Muslim)

Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam sumber buku yang sama (Shahih Muslim cetakan Dar Ihya al-Turats al-Arabi) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimat “al-mutanaththi’un” adalah orang-orang atau kelompok-kelompok yang berlebihan dan melampaui batas dalam segala hal, baik dari segi ucapannya atau perbuatannya. Kiranya cukuplah kalimat ‘celaka’ sebagai sebuah gambaran bahwa berlebihan atau bersikap secara radikal dalam beragama sebagai sebuah larangan yang sangat merugikan dan membawa dampak kehancuran bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat.

Pernyataan – pernyataan dalam hadis yang telah disebutkan diperkuat dengan keterangan ayat – ayat Al-Qur’an. Yaitu surat Al – A’raf ayat 31 – 32. Allah SWT berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ(31) قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(32)

 “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (31) Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (32)”

Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Maidah ayat 87 – 88,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(87) وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ(88)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (87) Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (88)”

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa agama Islam tidak melarang umatnya untuk menikmati kebaikan-kebaikan yang dihalalkan oleh Allah SWT. Agama Islam melarang dan memerangi sikap berlebihan dan melampaui batas yang telah ditetapkan. Adapun Historisitas (Asbabunnuzul) ayat tersebut menyebutkan bahwa sebagian sahabat mengatakan bahwa mereka akan memotong kemaluan mereka, meninggalkan semua kesenangan dunia dan menjalani hidup layaknya pendeta. Setelah mengetahui ungkapan mereka, nabi Saw bersabda: “sesungguhnya saya puasa dan juga berbuka, shalat dan juga tidur, menikah dengan perempuan, siapa saja yang ingin menjalankan sunnahku maka ia termasuk golonganku, dan siapa saja yang mengingkarinya maka ia bukan termasuk golonganku”. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm. 152).

Sebagai penutup, radikalisme beragama yang dimaknai sebagai sesuatu yang berlebih – lebihan dan melampaui batas (al – Ghuluw dan Tatharruf) dalam perspektif hadis merupakan sesuatu yang terlarang. Rasul Saw. bahkan memperingati kita bahwa hal tersebut bisa menimbulkan kehancuran dan mencelakakan pelakunya. Sehingga harus kita hindari dengan beberapa cara yang diantaranya adalah dengan terbuka akan segala keragaman pemikiran, pandangan dan kelompok yang ada. Tidak gampang menjustifikasi seseorang atau kelompok tertentu dan tidak membatasi diri untuk selalu menuntut ilmu. Wallahu ‘alam.

Artikel berjudul “Rasulullah Melarang Radikalisme Beragama, Ini Dasar Hadis dan Penjelasannyaadalah kiriman dari Mushpih Kawakibil Hijaj, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta