Rencana Kemunduran Sarraj dan Hegemoni Turki di Libya

0
130

Harakah.idPemerintah Turki tetap menyatakan akan tetap mendukung penuh Pemerintahan Kesepakatan Nasional atau Government of National Accord (GNA), meski Perdana Menteri Fayez al-Sarraj berencana untuk mengundurkan diri dalam beberapa pekan mendatang. Mengapa?

Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj bakal mundur dari jabatannya. Situasi ini membuat konstelasi politik dan konflik Libya pun akan berubah. Tidak hanya itu, dalam hal ini pemerintah Turki tetap menyatakan akan tetap mendukung penuh dan memberikan solidaritas atas Pemerintahan Kesepakatan Nasional atau Government of National Accord (GNA) meski Perdana Menteri Fayez al-Sarraj berencana untuk mengundurkan diri dalam beberapa pekan mendatang. 

Selain itu, untuk memperkuat kemampuan militer GNA menghadapi serangan pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar, Sarraj menandatangani kesepakatan kerja sama militer dengan Turki. Kesepakatan itu bakal memberikan tambahan amunisi dan kekuatan bagi pasukan GNA dalam mempertahankan Tripoli dari serangan LNA, dan sebaliknya mampu mendesak pasukan Haftar.

Siapa Pemenangnya, LNA atau GNA?

Keputusan Sarraj untuk mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Libya bukan tak ada sebab. Masalah internal di dalam pemerintahan GNA yang dipimpin Sarraj dan konflik dengan Wakil Presiden Ahmad Maiteeq dan Menteri Dalam Negeri Fathi Bashagna, serta ketidakmampuan pemerintah memberikan layanan dasar kepada rakyat Libya. Kondisi inilah yang membuat Sarraj berencana mengundurkan diri dari jabatannya.

Pasca gencatan senjata pada awal September lalu telah diumumkan bahwa para pihak yang bertikai dan berlanjut dengan perundingan maraton yang difasilitasi pemerintah Maroko dan Swiss. Sarraj menyatakan bahwa dirinya bersedia mundur saat pemerintahan baru bersatu terbentuk. Sedangkan, atas kesepakatan di Maroko, disebutkan bahwa akan dilaksanakan pemilihan umum paling cepat pada Maret 2021.

Strategi Jitu Erdogan

Kepentingan Turki atas Libya yakni terkait persoalan eksplorasi gas alam di Laut Tengah. Selain itu, pipa-pipa minyak dari Libya ke Turki menjadi alasan mengapa Turki harus campur tangan dalam persoalan konflik antara LNA dan GNA. Turki juga memasok pasukan dan alat tempur kepada GNA. Sehingga, GNA bagi Turki adalah sekutu terbaik untuk mensukseskan kepentingan hegemoni Turki di Libya.

Erdogan juga mengkalkulasi dengan baik dan terencana apapun hasil yang bakal terjadi jika GNA harus kehilangan pemimpinnya. Erdogan tetap akan mendukung GNA meski Sarraj bakal mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Libya. Kepentingan Turki atas eksplorasi gas alam di laut lepas Mediterania adalah investasi dan pemasukan yang menguntungkan bagi Turki.

Turki selama ini mendapat tentangan dari negara-negara Timur Tengah lainnya, superti halnya Mesir, karene Sirte adalah wilayah yang selama ini menjadi “basis mutlak” minyak bagi Mesir. Jika Sirte sampai jatuh ke tangan Turki yang selama ini adalah musuh bebuyutan bagi Mesir, maka Mesir akan mengerahkan segala cara untuk mengamankan wilayah tersebut.

Erdogan ingin mensukseskan segala upaya yang tengah ia targetkan. Apalagi ia juga bakal maju ke pencalonan presiden di tahun 2024. Maka, pelbagai usaha untuk memuluskan kebijakannya di kawasan, terutama di Libya adalah mutlak adanya. Orientasi Turki ke depan sangat ditentukan bagaimana kebijakan-kebijakan di wilayah regional maupun global.

Strategi dan keputusan Erdogan memang dianggap sebagai hegemoni Turki di kawasan. Tidak hanya itu, visi Turki ke depan berusaha menerapkan Neo-Ottomanisme dalam sistem orientasi pemerintahannya. Kita tunggu saja bagaimana hegemoni Turki memainkan peran dan campur tangannya di kawasan dan global. Apakah pertarungan demi pertarungan akan dimenangkan pihak GNA yang disokong oleh Turki dan Qatar, atau malah pihak LNA yang didukung oleh Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Rusia. 

Konstelasi politik Libya semakin memanas. Meski, Sarraj bakal mundur, tetapi intensitas konflik kedua kubu masih terus berkecamuk. Tensi yang bergejolak membuat keduanya harus saling berkonflik. Mungkinkah terjadi perdamaian antara pihak LNA dan GNA? Atau pihak LNA yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar yang bakal memenangkan perseteruan? Skenario perebutan kekuasaan Libya terus bergulir, menanti siapa yang bakal memegang pengaruh Libya, pihak LNA atau GNA.