fbpx
Beranda Keislaman Hikmah Renungan Pasca Ramadhan, Pemenang atau Pernah Menang?

Renungan Pasca Ramadhan, Pemenang atau Pernah Menang?

Harakah.id Apakah kita termasuk pribadi-pribadi pemenang yang berhasil melalui ujian-ujian selama Ramadhan dengan gemilang? Tentu saja kita semua berprasangka baik bahwa kita adalah para pemenang itu. Tapi kita tetap harus berhati-hati.

Apakah kita termasuk pribadi-pribadi pemenang yang berhasil melalui ujian-ujian selama Ramadhan dengan gemilang? Tentu saja kita semua berprasangka baik bahwa kita adalah para pemenang itu. Tapi kita tetap harus berhati-hati.

Ujian Yang Masif
Berlalunya bulan suci Ramadhan sesungguhnya menjadi ujian bagi para pribadi yang berprasangka baik bahwa diriya adalah pemenang.

Tatkala puasa tidak lagi menjadi kewajiban harian. Ketika qiyamul layl berjamaah tidak lagi didengungkan. Ketika zakat-infak-sedekah tidak lagi diiklankan di sana-sini. Ketika Al-Qur’an dikembalikan ke lemari penyimpanan. Saat inilah ujian dimulai. Ujian yang masif bagi para pemenang.

Ibadah “Sunyi”
Selepas bulan Ramadhan, banyak ibadah menjadi “sunyi”. Tidak ada lagi pemberitaan, pengingat maupun ajakan.

Ketika bulan Ramadhan, banyak orang memberitakan datangnya kewajiban berpuasa. Banyak lagi yang mengingatkan untuk berniat setiap malam. Bahkan ramai pula orang mengajak makan sahur di waktu dini hari. Saat ini selewat Ramadhan, Puasa sunnah yang sebenarnya juga disyariatkan, sudah sepi dari pemberitaan. Memang masih ada yang mengingatkan puasa sunnah baik Syawwal maupun ayyamul bidh, atau lainnya. Tapi yang jelas sudah tidak ada lagi ajakan sahur dini hari yang diteriakkan bocah keliling kampung sambil menggebuk bedug.

Kemarin saat Ramadhan, meski di tengah pandemi, masih banyak pengingat untuk melaksanakan tarawih. Ada saja info mengenai masjid yang melaksanakan tarawih berjamaah dengan protokol kesehatan tentunya. Banyak juga info dan tips shalat tarawih berjamaah di rumah. Kadang malah ada himbauan untuk terus menambah jumlah rakaat dengan mendirikan shalat tahajjud.

Dini hari yang biasa sepi, akan terkoyak oleh keramaian teriakan bocah membangunkan sahur. Keliling kampung sambil bernyanyi, “…Mbangunin sahur diomelin, nggak dibangunin kesiangan,… Bingung, bingung…”. Itu cerita bulan Ramadhan. Masa pandemi atau bukan, sama saja. Para bocah itu tidak takut wabah. Sekarang, ketakutan akan pandemi nampaknya sudah jauh berkurang. Namun dini hari sudah kadung kembali sepi.

Jadilah puasa sunnah, shalat tahajud dan berbagai ibadah lainnya kita lakukan tanpa banyak promosi. Ibadah “sunyi” seperti ini seakan melepaskan kita beribadah sendiri.

Godaan “Heboh”
Berkebalikan dengan ibadah yang sunyi, kebiasaan lama yang buruk menarik kita kembali menekuninya. Dengan seheboh-hebohnya. Tapi kita tidak menyadarinya. Meskipun jika kita mau jujur pada diri sendiri, pastinya kita akan dapat merasakan.

Obrolan meski masih berupa chatting via internet bukan kopi darat, sudah berhamburan gosip-gosip terbaru. Atau gosip lawas yang tertunda pemberitaannya sehubungan dengan datangnya Ramadhan yang lalu.

Yang juga sering tak terasakan adalah makin terasa mudahnya kita meninggalkan ibadah. Bukan saja yang sunnah. Bahkan yang wajib semisal shalat wajib lima waktu. Awalnya hanya tertunda beberapa saat karena ada hal lain yang lebih menarik perhatian. Kemudian makin lama penundaannya makin berat. Sampai lewat waktu.

Jebakan Baru
Belum cukup godaan heboh seperti itu. Kita pun sebenarnya dihadapkan pada jebakan baru. Pemikiran semisal “sudah cukup banyak beribadah selama Ramadhan” menjadikan kita lalai untuk melanjutkan “kerajinan” kita beribadah.

Kemudian doa kita agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun depan diselewengkan maknanya oleh nafsu kita. Maknanya bergeser menjadi “masih ada waktu untuk kembali bertaubat di Ramadhan nanti”. Pemikiran yang optimis, memang. Tapi kebablasan!

Pemenangkah Kita?
Sampai di sini kita perlu mempertanyakan kembali: apakah benar-benar kita pemenang?

Pernah Menang
Jika benar bahwa selewat bulan suci Ramadhan kita kembali kepada kebiasaan buruk kita. Jika benar bahwa di luar Ramadhan ini ibadah kita menurun bahkan sampai ke titik nol. Jika sungguh terjadi bahwa ada kemaksiatan baru yang kita kerjakan sekarang ini. Maka kemungkinan besar, benar bahwa kita pernah menjadi pemenang.

Selalu Menang
Namun ajaran Islam tidak mengajarkan sedemikian. Ibadah Ramadhan bertujuan menghasilkan manusia bertakwa. Takwa yang sebenar-benarnya adalah “walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun” alias takwa sampai akhir hayat.

Dengan demikian, tuntutannya adalah agar kita selalu menang di tiap pertandingan, dalam berbagai lapangan pertandingan dan atas siapa pun lawan tandingnya! Berat? Nah, siapa bilang menjadi pemenang itu mudah?!

*Artikel ini ditulis oleh Toto Mulyoto (Toto Abi Ihsan), Tinggal di Bekasi Timur, Pembelajar kasep, anggota grup WA Belajar Menulis Asuhan Ustadz Drs. H. Ahmad Yani (LPPD Khairu Ummah), kontributor Buletin Jum’at Khairu Ummah, dalam upaya meninggalkan “dunia hitam” penghitung dan penikmat riba, relawan LAZ UCare.


nucare-qurban
nucare-qurban

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...