fbpx
Beranda Headline Resolusi Jihad Kiai Hasyim dan Landasan Kaidah Fikih di Balik Peristiwa Pertempuran...

Resolusi Jihad Kiai Hasyim dan Landasan Kaidah Fikih di Balik Peristiwa Pertempuran Surabaya

Harakah.idMeletusnya pertempuran 10 November di Surabaya tak lepas dari sebaran Resolusi Jihad yang disampaikan Hadratussyeikh Hasyim Asyari. Siapa sangka, ada landasan kaidah fikih di balik pengambilan keputusannya.

الدَّفْعُ أَقْوَى مِنْ الرَّفْعِ

ad-daf’u aqwa minar raf’i

(Mencegah lebih efektif dibanding menghilangkan)

Para ahli fiqh mempunyai ketelitian tinggi dalam berfikir. Sesuatu yang kelihatannya sama, sebenarnya berbeda, harus dihukumi dengan berbeda pula. Misalnya. Ada dua ember air. Keduanya  sama-sama berukuran 216 liter. Perbedaannya, ember pertama adalah gabungan dari sejumlah air musta’mal (air yang digunakan membersihkan hadas atau kotoran dan tidak sah digunakan lagi). Sedang ember kedua sudah berjumlah minimal 216 liter sebelum digunakan membersihkan hadas.

Para ulama berbeda pendapat menyikapi air ember pertama. Sebagian ulama berpendapat bahwa air musta’mal  yang dikumpulkan menjadi 216 liter dapat kembali menjadi suci dan mensucikan. Kelompok ulama lain tidak sependapat. Mereka mengatakan kumpulan air itu, sekalipun mencapai 216 liter, tidak dapat kembali digunakan mensucikan.

nucare-qurban

Ini berbeda dengan air dalam ember kedua. Para ulama sepakat bahwa air yang berukuran 216 liter, sekalipun telah digunakan mensucikan diri seperti untuk berwudu, ia tetap suci dan dapat digunakan mensucikan diri lagi. Pertanyaan muncul, mengapa sama-sama berjumlah 216 liter tapi hukumnya dibedakan? Ember pertama diperdebatkan (khilaf). Ember kedua disepakati airnya masih suci dan mensucikan.

Ternyata, para ulama mengamati bahwa air musta’mal yang dikumpulkan lalu jumlahnya mencapai 216 liter memiliki pola “mengangkat” atau “menghilangkan” sifat musta’mal. Sedangkan air dalam ember kedua, memiliki pola “mencegah” atau “menolak” sifat musta’mal yang datang kepada air ketika air tersebut digunakan bersuci. Ini adalah soal logika efektifitas potensi kekuatan.

Baca Juga: Periuk Nasi Ibunda Kiai Saifuddin Zuhri dan Kisah Penyelamatan Naskah Soekarno

Logika “menolak” dibangun di atas asumsi adanya potensi kekuatan yang dapat digunakan melindungi diri dari ancaman luar/asing yang hendak mempengaruhi atau menguasai subyek tertentu. Air 216 liter dinilai memiliki kekuatan membersihkan yang dapat mencegah atau menolak datangnya kotoran atau hadas ketika berwudu atau bersuci. Kotoran atau hadas merupakan ancaman asing yang akan mempengaruhi kebersihan air.

Ini berbeda dengan logika “menghilangkan” yang berangkat dari asumsi bahwa subyek telah dikuasai, lalu subyek berusaha menghilangkan pengaruh luar/asing. Air musta’mal adalah air yang sudah dipengaruhi  oleh kekuataan eksternal sehingga tidak memiliki daya mensucikan.  Menurut sebagian ulama, air musta’mal dapat dikembalikan kekuatannya dengan menyatukan sejumlah air musta’mal hingga mencapai dua kulah (216 liter). N amun pendapat ini ditentang oleh ulama lain.

Dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, para ulama pernah mengalami situasi memilih antara menggunakan strategi “menolak” atau “menghilangkan”.

Pada zaman penjajahan Belanda, para ulama banyak yang mengambil sikap non-kooperatif. Sikap ini didasarkan kepada logika “raf’u” yang berarti “mengangkat” atau “menghilangkan” penjajahan. Hal ini karena penjajah Belanda telah berhasil menguasai kehidupan sosial-politik bangsa Indonesia. Khususnya umat Islam. Para ulama dan umat Islam berupaya menghilangkan penjajahan dengan segenap kemampuan yang dimilinya. Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, dan lain sebagainya dikenal sebagai tokoh ulama yang menggunakan logika raf’u atau pengusiran.

Baca Juga: Ketika Kiai Hasyim Bekerjasama Dengan Kolonial Jepang Agar Santri Bisa Latihan Militer

Kondisi berubah setelah zaman kemerdakaan. Bangsa Indonesia berhasil merdeka, setelah Belanda takhluk pada Jepang. Jepang kemudian takhluk pada sekutu. Belanda merupakan salah satu anggota sekutu. Sebagai kompensasi atas sumbangsihnya dalam membela sekutu, Belanda ingin wilayah jajahannya kembali. Maka, mereka datang kembali ke Indonesia bersama tentara sekutu yang hendak melucuti tentara Jepang yang kalah perang.

Penjajah yang telah terusir itu hendak kembali. Mereka telah menjadi kekuatan asing yang hendak menguasai wilayah yang telah merdeka. Untuk merespon fenomena tersebut, seluruh elemen bangsa berupaya menolak kehadiran Belanda. Para ulama berkumpul di Surabaya. Membahas tindakan yang akan diambil. Dan hasilnya adalah seruan untuk berjihad fi sabilillah mempertahankan kemerdekaan membela agama dan negara.

Seruan ini disebut Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Resolusi Jihad ini kemudian melahirkan Perang Surabaya pada 10 November (1945). Perang yang diperingati sebagai Hari Pahlawan di kemudian hari. Logika menolak kembalinya penjajahan –kekuatan eksternal yang hendak menguasai, adalah logika “daf’u”, atau menolak penjajahan. Logika menolak (daf’u) lebih strategis (aqwa) mengalahkan penjajahan daripada logika mengusir (raf’u) kekuatan penjajah yang telah bercokol seperti tahun-tahun sebelum kemerdekaan. Di sinilah, logika fiqh memandu para ulama mempertahankan kemerdekaan. Menolak lebih efektif daripada mengusir.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...