fbpx
Beranda Gerakan Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.idRespons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja, alasan itu tidak bisa jadi pembenaran praktek pelenyapan istri dan anak cucu, atau bahkan keluarga tokoh PKI. Para Kiai melakukan santunan dan kirim anak-anak yatim tokoh PKI ke pesantren.

- Advertisement -

Para ulama ahli fikih punya prinsip, perkara haram dapat berubah hukumnya dalam situasi darurat.  Contohnya, memakan bangkai hukumnya haram. Tetapi dalam situasi darurat, seperti ketika tidak ada makanan sama sekali sehingga dapat mengancam keselamatan nyawa, umat Islam dibolehkan memakannya. Kebolehan ini hanya sekadar kebutuhan yang dapat menjaga kelangsungan hidup, tidak boleh lebih.

Baca Juga: Debat Diponegoro Versus Kiai Mojo Soal Bentuk Khilafah Model “Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ing Tanah Jawi”

Contoh lain. Selesai buang air, seorang muslim wajib cebok menggunakan air. Bila tidak ditemukan air, dia dibolehkan menggunakan batu sebagai ganti air. Pastinya, tidak sebersih menggunakan air. Penggunaan batu untuk cebok pastinya menyisakan sedikit kotoran. Kotoran yang tidak dapat dibersihkan menggunakan batu, dihukumi sebagai najis yang dimaafkan (ma’fu) sehingga sah dibuat shalat. Ketentuan sah ini berdasarkan kaidah darurat. Namun, kaidah ini terbatas pada kotoran yang tidak dapat dibersihkan secara tuntas. Bila seseorang membawa batu kotor yang digunakan cebok dalam shalat, maka shalat menjadi tidak sah. Ini berdasarkan kaidah “Perbuatan yang dibolehkan karena darurat, hanya sekadarnya saja.”

مَا أُبِيحَ لِلضَّرُورَةِ يُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا

Ma ubiha lidlarurah yuqaddaru biqadriha

Para ulama banyak berpegang kepada kaidah ini dalam menyelesaikan masalah. Dalam masalah politik, para kiai juga berfikir dalam koridor ini. Ketika suatu tindakan dibolehkan karena alasan darurat, ia hanya boleh dilakukan sekadarnya saja. Tidak boleh berlebihan. Hal ini pernah terjadi pada tahun 1965-an. Ketika terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan respons para kiai dalam tragedi Gestapu tidak berlebihan.

Pemberontakan 1965, dimulai dengan sejumlah benturan sosial antara para kader PKI dengan masyarakat pada umumnya. Kader PKI banyak melakukan provokasi, bahkan teror, perampokan, dan pembunuhan. Korbannya banyak dari kalangan pejabat dan tokoh agama. Terutama para kiai, aktifis Ansor, dan santri pada umumnya. Peristiwa “pemanasan” ini menjadi penanda penting akan terjadinya benturan yang lebih besar antara PKI dan unsur masyarakat lain seperti TNI dan NU. Kondisi ini menempatkan PKI sebagai bahaya yang harus diwaspadai. PKI adalah dharar, ancaman dan bahaya. Sesuai kaidah fikih, bahaya harus dilenyapkan (ad-dhararu yuzalu).

Pelenyapan PKI baru menemukan momentumnya pada 1965. Ketika PKI melalui kadernya di unit militer Pengawal Presiden Cakrabirawa yang dipimpin Letkol. Untung melakukan upaya makar. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengamati dan mengambil sikap bahwa telah terjadi pengambil alihan kekuasaan yang didalangi PKI. Hal itu dibuktikan dengan editorial Harian Rakjat, koran resmi PKI, yang mendukung upaya Letkol. Untung. Letkol. Untung adalah kader PKI yang menyusup ke tubuh TNI. Selanjutnya, PBNU mengeluarkan “Resolusi Mengutuk Gestapu”.

Baca Juga: Mengapa Kampus Islam Harus Didirikan? Ini Jawaban dan Argumen Kiai Saifuddin Zuhri

Resolusi ini berisi tiga tuntutan kepada Presiden. Pertama, Presiden membubarkan PKI yang dinilai mendalangi Gerakan Tiga Puluh September 1965 (Gestapu). Kedua, Presiden mencabut izin media yang mendukung gerakan tersebut. Ketiga, menyeru umat Islam membantu ABRI memulihkan/menertibkan kondisi setelah Gestapu. (Mun’im DZ, Benturan PKI-NU 1948-1965, PBNU, 2014).

Peristiwa ini dibarengi dengan peristiwa bentrokan antara kubu pendukung PKI melawan kubu lawannya seperti kaum nasionalis (PNI), TNI, pendukung Masyumi, pendukung NU, dan elemen masyarakat lainnya. PKI menjadi sasaran kemarahan masyarakat. Terjadi pembunuhan besar-besaran. NU memandang keberadaan PKI sebagai bahaya sejak pertama kemunculannya. KH. Hasyim Asy’ari dalam Muktamar NU 1947 di Madiun, menyatakan bahaya keberadaan paham “historis materialisme” yang mengajarkan bahwa tidak ada realitas selain benda, tidak ada roh, tidak ada yang gaib. Puncak permusuhan antara pendukung PKI dan NU terjadi pada tahun 1965 dengan tuntutan pembubaran PKI dan seluruh organisasi pendukungnya. Di lapangan, bentrokan berdarah terjadi pendukung PKI dan pendukung NU. Pemerintah kemudian mengeluarkan TAP MPR yang melarang penyebaran paham Marxisme dan Komunisme. Para pengikut PKI diburu di mana-mana dan anak cucunya dipinggirkan oleh masyarakat.

Baca Juga: Kenapa Mayoritas Saintis Tidak Percaya Tuhan, Dialog Kiai Madura Dan Profesor Melbourne Tentang Agnosiknya Ilmuan

Namun, respons para kiai dalam tragedi Gestapu memang tidak berlebihan. Di banyak daerah yang terdapat kiai-kiai NU dan pesantren, anak-anak dan janda tokoh PKI disantuni, dilindungi, diayomi, ditahlilkan, dibantu mengadakan selamatan. Anak-anak tokoh PKI banyak disekolahkan, dipesantrenkan, dan dididik agar menjadi orang yang baik dalam beragama dan bermasyarakat. Saat ini cukup banyak anak-anak tokoh PKI yang telah berhasil menjadi anggota DPR, bupati, pengusaha, dan lainnya atas bantuan para kiai.

Ini menunjukkan bahwa para kiai sekalipun melihat PKI sebagai bahaya yang harus dilenyapkan, namun harus dibatasi pada para pelakunya. Tidak perlu melenyapkan keluarga dan anak keturunannya. Hal ini karena prinsip “Ma ubiha lid dharurati yuqaddaru bi qadriha” (perkara yang dibolehkan karena darurat hanya sekadarnya saja). Membunuh tokoh PKI yang membahayakan dibolehkan karena darurat, yaitu untuk bertahan hidup karena mereka menyerang terlebih dahulu. Karenanya, harus dibatasi pada upaya sekadarnya yang diperlukan. Keluarga mereka sering tidak tahu menahu tentang siapa dan apa yang dilakukan ayah atau kakaknya.

Baca Juga: Tidak Berpotensi Menggantikan Agama, Kiai Ahmad Shiddiq Yakinkan Para Ulama Menerima Asas Tunggal Pancasila

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...