Revolusi Akhlaq Ala FPI, Luka Lama Bersemi Kembali

0
3504

Harakah.idAda satu hal menarik yang dibawa HRS setiba di Indonesia melalui penjelasan Munarman selaku Sekretaris FPI. Apa itu? Yakni gema “Revolusi Akhlaq”. Inilah revolusi akhlaq ala FPI.

Belakangan hari ini perbincangan media terkait kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) mencuat. Sekian lama ia menetap di negeri Saudi kini tinggal menghitung hari. Kepulangan yang dinanti-nantikan oleh pendukungnya merupakan sebuah kabar gembira. Tidak tangung-tangung, ia bahkan menyusun sederet agenda setibanya di tanah air. Apakah itu? Tentu patut ditunggu.

Namun, sebelum merambat ke agenda HRS. Ada satu hal menarik yang dibawa HRS setiba di Indonesia melalui penjelasan Munarman selaku Sekretaris FPI. Apa itu? Yakni gema “Revolusi Akhlaq”. Di lansir dari Channel YouTube Front TV. Minggu (18/10).

“Kalau rezim Pak Jokowi dengan pimpinan Pak Jokowi membuat slogan revolusi mental, maka Habib Rizieq menyuarakan, dan membawa, serta akan memimpin revolusi akhlak,” kata Munarman. Demikian katanya tentang revolusi akhlaq ala FPI.

Lebih lanjut ia mengatakan, “bahwa revolusi akhlaq bertujuan untuk kembali kepada akhlak yang berdasarkan al-qur’an dan as-sunnah. Maksudnya adalah akhlak orang yang tadinya suka bohong kemudian di revolusi jadi tidak bohong, orang yang tidak shalat menjadi suka shalat, orang yang suka khianat jadi tidak khianat. Itu maksud dari HRS. Ia menginginkan revolusi bagi yang terjajah menjadi tidak tertindas, orang yang terdzalimi jadi orang yang bebas dari pendzaliman.” jelas Munarman selaku Sekretaris FPI.

Sungguh cita-cita mulia apa yang dibawa HRS demi membela ummat dan tentu patut kita apresiasi langkah-langkahnya. Kita pun berharap demikian. Sebab Nabi Muhammad SAW lahir di muka bumi tidak lain dengan tujuan utama yakni menyempurnakan akhlak manusia.

Kata revolusi pun saya kira penuh makna tersirat di dalamnya. Sebut saja semangat kebangsaan. Tentu ini adalah harapan kita semua untuk terus membangun negeri menjadi lebih baik. Namun, dari sini timbul pertanyaan menggelitik dibenak pribadi. Pertama, revolusi akhlak yang disampaikan apakah sudah sesuai dengan cerminan HRS? Meski akhlak saya pun perlu dibenahi. Kedua, kata “revolusi” itu apakah identik dengan cara-cara kekerasan?. Mengingat FPI selalu dipandang sebelah mata. Wallahu ‘alam.

Petisi Revolusi Akhlak kini sudah muncul di perbincangan publik. Ada yang mendukung ada juga tidak. Yah wajarlah. Tanpa perbedaan apalah arti keberagaman. Namun, tren Revolusi itu apakah sebuah upaya mengembalikan citra FPI di pentas nasional? Katakanlah iya. Alih-alih berpegang teguh kepada al-qur’an dan as-sunnah. Maka tidak heran jika setelah kedatangan HRS mereka akan menyuarakan kritik pedas sebagai kaum oposisi. Selain itu, apakah mereka juga akan bersuara terkait diksi radikalisme yang selalu menjadi isu hangat di Indonesia. Konon, bahkan demi kebenaran sekalipun akan ditegakkan. Apa itu? Ya apa saja. Takbir!!

Beberapa hari mendatang Indonesia akan ramai kembali setalah HRS muncul dipermukaan. Konon, pada tanggal 10 November. Sungguh rencana yang amat matang bak pahlawan yang ditunggu-tunggu di medan pertempuran atau ini hanya kebetulan?. Lantas setelah datang, apa yang akan dilakukan HRS?. Perkiraan saya sudah tentu akan menyerang pemerintah dengan isu-isu terhangat. Seperti Omnibus Law UU Cipataker atau mungkin membela Sugik Nur dan kembali menggelar aksi berjilid-jilid. Entahlah, kita lihat saja nanti.

Kembali ke awal terkait agenda HRS setiba di Indonesia. Dilansir dari Channel YouTube Front TV, Rabu (4/11). HRS mengatakan mempunyai agenda tersendiri setelah tiba di Indonesia. Diantara agenda yang menjadi bahan perbincangan adalah ia akan menuntut secara hukum bagi orang-orang yang beranggapan bahwa dirinya melampaui izin tinggal (overstay) selama di Arab Saudi.

“Oleh karena itu, saya nyatakan, mulai saat ini, siapa pun, termasuk pejabat Indonesia baik dalam negeri maupun luar negeri, kalau ada yang mengatakan saya overstay, saya akan tuntut secara hukum,” ujar Rizieq melalui video tersebut.

Jika melihat petisi yang disuarakan FPI terkait revolusi akhlaq ala FPI yang disampaikan HRS kemudian diperjelas oleh Munarman. Apakah ini yang di maksud revolusi akhlak yang diawali penuntutan balas karena sakit hati oleh orang-orang yang menganggap dirinya overstay? Tentu bertolak belakang. Ia malah mendahulukan image pribadi daripada melihat isu terkini.

Katanya revolusi? Saya kira tidak usah disandingkan dengan akhlak. Katanya membela ummat. Ini malah membela diri. Tapi tidak masalah juga sih kan urusannya. Sungguh berat memang apa yang dibawa HRS. Saya pun menyakini keilmuan serta pengaruhnya di Indonesia tidak diragukan. Tapi apakah tidak malu dengan akhlaknya yang sering menjadi pemicu konflik melalui mimbar agama? Bukan berarti saya meragukan. Akhlak saya pun patut dipertanyakan.

Baiklah, kembali ke inti. Tentu ini satu hal menarik yang patut dibincangkan terkait manuver HRS beserta pendukung fanatiknya yaitu FPI. Ternyata dibalik petisi yang menandai kepulangan HRS masih tersimpan dendam kesumat dengan cara menuntut balik lewat hukum. Atau mungkin ini adalah bagian luka lama sejak Pilpres 2019 yang di mana paslon pilihannya kini menikmati kursi kementrian. Bahkan berjanji akan memulangkan HRS jika menang. Ternyata? Jawab sendiri.

Namun, dari semua itu, andai saja HRS benar-benar menyampingkan hal itu kemudian lebih mementingkan kesejahteraan ummat, membangun negeri dengan langkah-langkah strategis dan lain sebagainya. Mungkin lain cerita. Saya kira ini yang kemudian disebut revolusi akhlak. “Persatuan Indonesia dan Kemanusian yang adil dan beradab”.

Semoga dengan kedatangan HRS di Indonesia dapat memberikan pengaruh positif serta membawa arah kebaikan demi kemaslahatan bangsa. Bukan hanya memicu konflik apalagi tentang agama. Tidak lupa semoga beliau diberikan kesehatan jasmani dan rohani.  Demikian revolusi akhlaq ala FPI. Amiin.