Beranda Keislaman Muamalah Riba Diharamkan Bukan Tanpa Alasan, Ada Hikmah Besar di Baliknya

Riba Diharamkan Bukan Tanpa Alasan, Ada Hikmah Besar di Baliknya

Harakah.id – Seiring dengan anjuran untuk berdagang, Islam juga melarang keras praktek dan transaksi riba. Alasannya, karena riba berpotensi besar merugikan pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi.

Secara hukum yang dibebankan kepada seorang hamba (taklifi), riba merupakan sebuah transaksi yang haram dilakukan oleh siapa saja, orang yang terlibat di dalamnya pun dapat disebut sebagai pelaku dosa besar. Memang tidak semua bentuk riba dapat serta merta dikategorikan sebagai dosa besar. Karena yang termasuk dosa besar ialah transaksi yang di dalamnya terdapat unsur pertambahan atau bunga (ziyadah), semisal riba fadhli dan riba qardhi.

Uraian di atas didasarkan pada penuturan Syekh Sulaiman bin Umar Al-Ujaili dalam kitab Hasyiyatul Jamal. Beliau mendasarkannya pada hadis Nabi Saw.;

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah Saw. melaknat pemakan riba, penyetor riba, pencatat transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (H.R. Muslim).

Baca Juga: 6 Kunci Sukses Berbisnis Ala Imam Az-Zarnuji Untuk Bekal Kembali Bekerja di Masa New Normal

Sedangkan praktik riba yang di dalamnya hanya mengandung unsur penundaan (takhir) dalam hal serah-terima atau penyerahan hak kepemilikan, tanpa adanya unsur ziyadah, maka itu dianggap dosa kecil. Karena dampak yang ditimbulkan adalah rusaknya sebuah akad (fasid), tidak seperti riba yang mengandung unsur ziyadah.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 275;

ٱلَّذِینَ یَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا یَقُومُونَ إِلَّا كَمَا یَقُومُ ٱلَّذِی یَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوۤا۟ إِنَّمَا ٱلۡبَیۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰا۟ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَیۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ فَمَن جَاۤءَهُۥ مَوۡعِظَةࣱ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥۤ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ

Alladzina ya’kulur riba la yaqumuna illa kama yaqumul ladzu yatakhabbatuhusy syaithanu minal mass, dzalika biannahum qalu innamal bai’u mitslur riba. Wa ahallallahul bai’a wa harramar riba. Fa man ja’ahu mau’idzatun min rabbihi fantaha falahu ma salafa ilallah, wa man ‘ada fa ulaika ashabun nar, hum fiha khalidun.

Artinya:

Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. [Q.S. Al-Baqarah (2) 275]

Baca Juga: Bekerja Tetap Lebih Utama Daripada Iktikaf di Masjid Selama Ramadan

Hukum haram dalam  riba sebenarnya bersifat dogmatis (ta’abbudi), yang tidak perlu dibangun atas motif-motif rasional. Artinya, terkait keharaman riba, kita cukup mengikutinya tanpa perlu penjabaran mengapa, serta tanpa perlu kritik menyertainya. Meski demikian, banyak ulama yang mencoba menguak berbagai hikmah dari diharamkannya riba. Seperti yang dilakukan oleh oleh Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi juga pernah menyebutkan bahwa peraturan Islam yang begitu ketat menyangkut riba, sebenarnya terkandung maksud untuk menjaga kemaslahatan manusia itu sendiri. Baik kemaslahatan menyangkut akhlak secara individu, kemaslahatan dalam hubungan sosial masyarakat, maupun kemaslahatan perekonomian secara luas.

Pernyataan tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ali Ash-Shabuni dalam kitab Rawai’ul Bayan fi Tafsiril Ayatil Ahkami min Al-Qur’an. Menyangkut kemaslahatan individu, beliau menegaskan bahwa bahaya riba adalah dapat memantik sikap egois pelakunya. Kemudian kemaslahatan sosial, beliau menegaskan bahwa riba dapat menjadi penyebab permusuhan dan hilangnya rasa kasih sayang. Sedangkan dalam hal ekonomi, oleh beliau, riba dianggap dapat menjadikan manusia berkelas-kelas dengan alasan ekonomi, yaitu si kaya dan si miskin. 

Ketika menafsirkan surah Al-Baqarah ayat 275, Imam Fakhruddin Ar-Razi juga menyebutkan beberapa hikmah dari diharamkannya riba. Di antaranya ialah, sebagai berikut:

Pertama, transaksi riba itu berkonsekuensi pada pengambilan harta orang lain tanpa adanya ganti. Misalnya seseorang menjajakan uang miliknya sebesar satu juta, tetapi diganti sebesar dua juta, maka ia mendapatkan tambahan satu juta itu tanpa memberikan ganti apa pun.

Pantas saja apabila riba diharamkan, karena harta seseorang itu berkaitan erat dengan kebutuhannya, yang di dalamnya terkandung juga kehormatan si pemiliknya. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad Saw.;

حُرمَةِ مَالِ المُؤمِنِ كَحُرمَةِ دَمِهِ

“Kehormatan harta orang mukmin itu seperti kehormatan darahnya.” (H.R. Ahmad)

Baca Juga: Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi Muhammad

Kedua, karena dengan bergantung pada riba, akan menghalanginya untuk bekerja dan menjalankan usaha. Jika si pelaku riba telah merasakan bertambahnya harta dengan menjalankan riba, maka akan berdampak pada sikapnya yang meremenkan persoalan bekerja, dan mungkin saja menjadikannya tak siap menanggung risiko usaha. Apabila hal ini terjadi secara banyak, maka akan semakin banyak pula terputusnya kebermanfaatan bagi orang lain.

Ketiga, langgengnya riba juga dapat menjadi sebab terputusnya kebaikan antarsesama, yaitu yang salah satunya caranya ialah melalui cara pinjam-meminjam. Jika meminjamkan uang dengan mengharap lebihnya kembali, maka akan memutus rasa ikhlas, belas kasih, dan kebaikan. Berbeda halnya dengan sistem hutang yang kembalinya sama dengan yang dipinjamkan, akan tumbuhlah rasa ikhlas untuk tolong menolong antar sesama.

Keempat, diperbolehkannya riba sama halnya dengan membuka peluang bagi orang kaya untuk mengeruk harta tambahan dari orang miskin, yang notabene lebih lemah darinya. Karena sebagaimana dimaklumi bahwa pinjaman itu lazimnya terjadi dari orang miskin terhadap yang lebih kaya.

Perilaku demikian itu sudah barang tentu menyalahi asas kasih sayang Allah Swt. Karena melakukan riba itu sama halnya dengan melakukan pemerasan terhadap orang yang lebih lemah. Apabila terjadi, akibatnya terdapat ketimbangan kelas sosial dan ekonomi. Yang kuat akan semakin kuat, sedangkan yang lemah akan semakin lemah karena sengaja dilemahkan. Puncaknya, adalah ketika perilaku tersebut menimbulkan rasa dengki dan sakit hati.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...