Ringkasan Sejarah Hagia Sophia, Dari Basilika Kristen Ortodoks, Masjid Agung Hingga Situs Kebudayaan Kuno

0
154
Ringkasan Sejarah Hagia Sophia, Dari Basilika Kristen Ortodoks, Masjid Agung Hingga Situs Kebudayaan Kuno

Harakah.idBaru-baru ini, Presiden Turki Erdogan mengumumkan soal alih fungsi Hagia Sophia. Setelah sebelumnya hanya difungsikan sebagai musem dan situs sejarah, Hagia Sophia akan kembali difungsikan sebagai masjid. Banyak pihak yang merespons, baik pro maupun kontra, terhadap keputusan tersebut.

Hagia Sophia adalah keajaiban arsitektur agung nan megah yang terletak di Istanbul Turki.  1.500 tahun yang lalu, ia awalnya dibangun sebagai basilica kekristenan. Hampir mirip dengan Menara Eiffel di Paris atau Parthenon di Athena, Hagia Sophia adalah simbol kota kosmopolitan yang bertahan cukup lama. Selain itu, sebagaimana warisan struktur bangunannya yang menyumbang pengaruh besar, Hagia Sophia juga berperan sekaligus merekam fase-fase sejarah peradaban dunia selama berabad-abad. Baik di Istanbul maupun bagi sejarah dunia itu sendiri, Hagia Sophia adalah saksi penting untuk meliat diorama pergulatan politik, agama, seni dan arsitektur dalam sejarah.

Hagia Sophia terletak di Kota Tua Istanbul dan telah digunakan selama berabad-abad sebagai simbol bagi umat Kristen Ortodoks maupun Umat Muslim. Sebagaimana ia juga menjadi pusat bagi pergulatan kebudayaan di Turki sendiri.

Istanbul sendiri adalah kota kuno yang berpijak di selat Bosporus; sebuah rute perairan yang berfungsi sebagai perbatasan geografis antara Eropa dan Asia. Dengan kata lain, Turki sendiri sebenarnya terletak di dua belahan benua; Asia dan Eropa

Mengenal Lebih Dekat Bangunan Agung Bernama Hagia Sophia

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, Hagia Sophia (Ayasofya dalam bahasa Turki) pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali dalam sejarah.

Kaisar Bizantium Constantius menugaskan pembangunan Hagia Sophia pertama kali pada tahun 360 M. Pada saat pembangunan gereja pertama, Istanbul lebih dikenal dengan nama Konstantinopel. Nama ini diambil dari nama ayah Kaisar Constantius yaitu Constantine I, penguasa pertama Kekaisaran Bizantium.

Hagia Sophia pertama kali dibangun dengan atap dari kayu. Struktur bangunan pertama ini kemudian dibakar pada tahun 404 SM, bersamaan dengan pecahnya kericuhan di Konstantinopel pada rentang tahun 395 – 408 SM. Sebagamana layaknya picu konflik yang terjadi dalam sistem kerajaan, konflik politik internal keluarga Kaisar Arkadios adalah penyebab utam terjadinya kericuhan.

Pengganti Kaisar Arkadios, Kaisar Theodosios II, kemudian membangun kembali Hagia Sophia. Struktur baru Hagia Sophia selesai pada tahun 415. Hagia Sophia kedua dibangun dan memiliki lima “nave” (sebuah bagan bangunan dalam Geraja), sebuah pintu masuk yang monumental dan ditutupi oleh atap kayu.

Namun, satu abad kemudian, Hagia Sophia kembali dibakar untuk kedua kalinya bersamaan dengan sebuah peristiwan pemberontakan yang dikenal dengan “Pemberontakan Nika”. Pemberontakan ini diinisiasi untuk melakukan perlawanan terhadap Kaisar Justinian I yang memerintah Bizantium antara tahun 527 hingga 565.

Akibat kerusakan yang sangat fatal, Hagia Sophia lantas dibongkar kembali dan dibangun dari awal pada tahun 532. Kaisar Justinian memerintahkan seorang arsitek terkenal bernama Isidoros dan Anthemios untuk proyek rekonstruksi Hagia Sophia. Bangunan baru Hagia Sophia selesai 5 tahun kemudian dan berdiri hingga hari ini.

Kemewahan Struktur dan Arsitektur Hagia Sophia

Hagia Sophia yang baru, menurut para sejarawan, adalah sebuah model bangunan yang seluruh aspek struktur dan arsitekturnya merupakan simbol. Ia menggambarkan kombinasi desain tradisional basilica ortodoks dengan model altar semi kubah yang memiliki dua narthex (beranda). Di bagian lengkungan kubahnya, terdapat mosaik enam hexapterygon (malaikat bersayap).

Selain itu, Hagia Sophia juga menggunakan marmer yang langsung dikirim dari Anatolia dan Suriah. Marmer-marmer berkilau itu dipasang di lantai dan langit-langit basilica. Batu batanya juga diimpor langsung dari Afrika Utara. Tempelan marmer menutup rapi badan bata Hagia Sophia berkilau dan memantulkan sinar seperti layaknya riak air yang tersapu cahaya. Mozaik kebizantiuman yang terbuat dari emas, perak, kaca, terra cotta dan batu warna-warni di beberapa bagian dinding dan atap, semakin menambah anggun nuansa interior Hagia Sophia.

Hagia Sophia memiliki 104 kolom yang diimpor langsung dari Kuil Artemis di Ephesus dan kuil-kuil kuno di Mesir. Bangunan agung nan mewah ini memiliki panjang sekitar 269 kaki dan lebar 240 kaki. Tingginya mencapai 180 kaki di udara.

Dengan kata lain, Hagia Sophia adalah repsentasi dan perwakilan dari sebuah peradabaan agung Bizantium di Abad Pertengahan.

Hagia Sophia, Konstantinopel Dan Kerajaan Ottoman Kaisar al-Fatih

Setelah hampir selama Sembilan abad menjadi lokus peradaban, politik, sosial, seni dan agama bagi Kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia kembali menyaksikan satu peralihan fase sejarah ketika tentaran Kekaisaran Ottoman menggeruduk datang gerbang tua Konstantinopel.

Kualitas bahan dan kecanggihan arsitektur Bizantium memang tidak perlu diragukan. Berkali-kali tembok benteng Kota Konstantinopel menggagalkan penyerbuan pasukan, termasuk pasukan besar Kekaisaran Ottoman. Dengan ketinggian, ketebalan dan ketangguhan kodimen bebatuannya, belum lagi parit-parit yang menyimpan tombak di dasarnya, seakan-akan memusnahkan kehendak setiap Kaisar yang berniat merebut Konstantinopel.

Namun semuanya berubah ketika pasukan Ottoman di bawah kendali Sultan Mehmed al-Fatih datang. Pada tahun 1453, Kekaisaran Ottoman dan Sultan Mehmed berhasil masuk serta merebut kota yang sudah lama diidam-idamkan leluhurnya itu. Kaisar Ottoman lantas mengganti nama kota Konstantinopel menjadi Kota Istanbul.

Setelah Istanbul diresmikan, Hagia Sophia kemudian dibeli oleh Sultan Mehmed dan sedikit direnovasi untuk dijadikan masjid. Tidak ada perubahan signifikan yang dilakukan. Beberapa simbol kekristenan hanya ditutupi kain, tidak dihilangkan. Beberapa bagian lainnya, ditutupi dengan mozaik kaligrafi Islam yang dirancang langsung oleh seorang seniman terkenal bernama Kazasker Mustafa İzzet.

Masjid Hagia Sophia kemudian dipasangi medali besar yang digantungkan di kolom-kolom utama Hagia Sophia. Medali-medali besar berlapis emas itu berisi nama Allah, Nabi Muhammad, empat khalifah dan dua cucu Nabi.

Di Kaisar Ottoman Kanuni Sultan Suleyman, Sultan Murad III hingga Sultan Abdulmecid, Hagia Sophia terus mengalami penambahan dan renovasi yang semakin menambah keagungan serta kemewahannya tanpa harus menghilangkan jejak-jejak sejarah di dalamnya.

Sejak 1935, sembilan tahun setelah Republik Turki didirikan oleh Kemal Ataturk, bangunan legendaris itu dioperasikan sebagai museum oleh pemerintah nasional. Hagia Sophia tercatat mampu menarik lebih dari tiga juta pengunjung setiap tahunnya.

Namun, perdebatan soal mengembalikan fungsi Hagia Sophia menjadi masjid memang tidak pernah usai. Di tahun 2013, beberapa pemimpin agama Islam di negara itu berusaha agar Hagia Sophia dibuka kembali sebagai masjid. Dan pada akhirnya, di tahun 2020, di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan, Pemerintah Turki resmi mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid.

Rencana Erdogan untuk melakukan renovasi dan menghilangkan sebagian besar simbol-simbol basilica kekristenan mengundang banyak respons, baik dari kalangan agamawan, pegiat kebudayaan, UNESCO dan lembaga yang fokus merawat situs-situs peradaban kuno. Ada yang pro da nada juga yang kontra.

Tapi terlepas dari aspek apapun, Hagia Sophia tetap sebuah situs peradaban yang merekam jejak-jejak peristiwa dan peralihan fase dalam sejarah. Maka sudah sepatutnya ia dijaga agar generasi di masa depan tetap dapat menyaksikan, mengamati dan belajar dari sejarah.