Beranda Khazanah Risalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Kitab Karya Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari yang Harus...

Risalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Kitab Karya Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari yang Harus Jadi Pedoman Keagamaan Orang Nusantara

Harakah.id Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah salah satu karya Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari. Meskipun terbilang tipis, namun karya ini penting dan harus dijadikan pedoman keberagamaan orang Nusantara.

Peradaban Islam akan terus berkembang mengikuti zaman dan keadaannya. Dari perkembangan tersebut para ulama tidak henti-hentinya mengupayakan sebuah ijtihad agar Islam tetap relevan dengan keadaan. Meski para ulama mutaqaddimin telah begitu banyak menulis kitab untuk mengurai dan menjawab berbagai persoalan yang terjadi, tentu era selanjutnya akan tidak sama dengan era sebelumnya dan perlu akan adanya rujukan dan bahan bacaan baru untuk menyelesaikan persoalan umat Islam.

Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari merupakan salah satu cendikiawan muslim yang banyak menulis kitab. Di antara kitab karangan beliau ada yang menjelaskan tentang cara hidup dalam lingkungan masyarakat, ada juga tentang pedoman dalam rumah tangga, dan ada pula yang membahas tentang akidah dan tradisi yang terjadi di Nusantara.

Di antara kitab beliau yang menjelaskan tentang aqidah dengan penjelasan luas dan juga membahas tradisi secara ringkas adalah kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah. Kitab yang menjelaskan tentang akidah; mulai dari kelompok yang selamat (an-najiyah), dan kelompok yang salah dalam memahami akidah. Tidak hanya itu, KH Hasyim Asy’ari juga mengurai beberapa kesalahan-kesalahan kelompok yang salah dijadikan tokoh, dengan dalil dan hujjah yang kuat, serta penjelasan yang akurat.

Tentang Risalah Ahlissunnah wal Jamaah

Kitab kecil yang hanya memuat 36 halaman ini secara khusus membahas seputar akidah disertai dengan dalil argumentative, juga menyinggung tentang luar aqidah seperti tidak bolehnya mengajak pada kesalahan dan lain sebagainya. Sebagaimana kitab-kitab sejenis pada umumnya, kitab ini berisikan hadist-hadist nabi seputar aqidah, serta argumentasi ilmiah tentang penolakan pada aqidah yang tidak sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah.

KH Ishom Hadziq dalam pengantar kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan tegas menyampaikan bahwa kebanyakan orang Islam saat ini sangat membutuhkan terhadap penjelasan perihal aqidah yang benar. Karena sudah tidak bisa dibedakan antara seorang tokoh dan orang biasa, tidak bisa ditentukan mana yang benar dan mana yang salah, serta begitu percaya diri orang bodoh mengeluarkan fatwa, padahal sama sekali tidak mempunyai ilmu yang cukup dalam menjelaskan agama. Oleh sebab itu, KH Hasyim Asy’ari menulis kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, dengan penjelasan yang akurat dan sarat akan makna, jauh dari pemahaman salah dan penyelewengan agama. Dengan harapan, mudah-mudahan umat Islam selamat dari upaya-upaya penyelewengan Islam dalam perihal Aqidah yang disampaikan oleh orang bodoh yang merasa pintar. Dengan demikian, umat Islam akan sesuat dalam ucapan, tindakan, dan keyakinannya dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebenarnya tidak ada penyebutan secara eksplisit perihal latar belakang panulisan kitab tersebut, namun secara implisit terkandung dalam tujuan penulisannya yaitu supaya bisa menjadi pedoman bagi umat Islam agar tidak salah dalam menentukan akidah.

Pandangan KH Hasyim Asy’ari terhadap Kelompok di Nusantara

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari memandang bahwa pada mulanya masyarakat Nusantara sepakat untuk berpedoman mengikuti Imam asy-Syafi’I dalam permasalahan Fiqih, mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam masalah Aqidah, dan mengikuti Imam al-Ghozali dalam masalah Tasawuf. Kesepakatan itu terus mengakar kuat di bumi Nusantara.

Namun, setelah tahun 1330 H, mulai muncul kelompok-kelompok yang menggerogoti terhadap kesepakatan itu, banyak masyarakat Nusantara yang mulai tidak meyakini akan kebenaran yang sudah mengakar disebabkan kelompok baru yang mulai bermunculan.

Pertama, Salafiyun (bukan salafi-wahabi) yang masih berpedoman pada ajaran terdahulu sesuai keyakinan pada awalnya, mencintai ahlu bait Rasulullah, para ulama dan orang saleh, mengambil barokah dari beliau-beliau, ziarah kubur, meyakini adanya syafaat, manfaatnya mendoakan mayat, dan meyakini tawassul.

Kedua, kelompok yang mengikuti pemahaman Muhammad Rasid Ridha, dan berpedoman pada bid’ah yang disampaikan oleh Abdul Wahab an-Najdi, Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Kelompok ini mulai mengharamkan apa yang diyakini kesunnahannya oleh masyarakat Nusantara, seperti melakukan ziaroh, tahlil, dan tawasul. Kelompok kedua ini menurut pandangan KH Hasyim Asy’ari telah menjadi penyakit bagi masyarakat Nusantara, mereka telah menggerogoti sebuah kebenaran dan menggantinya dengan kesalahan, maka kewajiban bagi masyarakat Nusantara ialah menghindari dari pemahaman seperti ini. Mereka bagaikan orang yang terkena penyakit judam, wajib dihindari agar tidak tertular dari penyakit bahanyanya, mereka telah mempermainkan Islam dan tidak layak untuk diikuti.

Ketiga, kelompok Rafidiyun, yaitu orang-orang yang membenci sahabat Abu Bakar as-Siddiq radiyallahu ‘anhu, dan mencintai Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Sebagian dari mereka ada yang terjerumus pada kufur dan zindiq disebabkan pemahamannya yang salah. Kelompok ini menurut KH Hasyim Asy’ari juga tidak boleh untuk diikuti dan wajib dihindari.

Keempat, kelompok Ibahiyun, yaitu orang-orang yang mempunyai pemahaman bahwa jika seorang hamba telah sampai pada puncak spiritualitas dan memilih iman daripada kufur, maka gugur darinya semua perintah dan larangan, serta tidak menjadikannya ahli neraka sebab melakukan dosa besar. Kelompok ini sudah terjerumus pada kekafiran dan tidak boleh diikuti. Pada hakikatnya kelompok ini adalah orang bodoh yang tersesat, tidak mempunyai guru yang bisa meluruskan pemahaman salahnya.

Kelompok kedua, ketiga, dan keempat tidak boleh diikuti menurut pandangan KH Hasyim Asy’ari.

Masyarakt Nusantara harus waspada dan hati-hati terhadap kelompok tersebut. Mereka lebih berbahaya dari orang-orang yang jelas kafir dan ahli bid’ah, mereka menyamar untuk mengajak memeluk agama Islam, padahal kenyatannya mereka justru merusak Islam, mereka menyebarkan paham-paham salah penuh kebencian. Tentu semua ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam pada kenyataannya.

Bab yang disampaikan lengkap

Secara global, kitab kecil yang memiliki 10 bab ini lebih pada penjelasan tentang tradisi yang sudah mengakar di Nusantara. Pada awalnya membahas tentang esensi sunnah dan bid’ah. Tidak hanya itu, dalam kitab itu mengurai tentang pelbagai bid’ah yang baik (hasanah) dan tidak (madzmumah). Melalui kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, KH Hasyim Asy’ari juga menjelaskan tentang tradisi-tradisi yang ada di Nusantara, mulai dari yang sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak, serta menjelaskan awal munculnya ahli bid’ah.

Beberapa bid’ah disampaikan secara detail dan kompherensif. Misalnya, pendapat Syaikh Zarruq membagi bid’ah menjadi tiga bagian, yaitu: bid’ah yang jelas, bid’ah yang disandarkan, dan bid’ah yang diperselisihkan. Bid’ah yang jelas adalah suatu pekerjaan yang ditetapkan tanpa mempunyai dasar hukum. Bid’ah yang disandarkan adalah bid’ah yang mempunyai landasan hukum dan dapat diterima oleh masyarakat. Sedangkan yang terakhir adalah bid’ah yang masih ada dalam ranah perdebatan; yaitu bid’ah yang berpijak pada dua dalil atau saling tarik-menarik. (h. 04).

Kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah terdiri dari 10 pasal. Pasal pertema menjelakan tentang esensi dari kata sunnah dan bid’ah; mulai dari tinjauan secara etimologi, dan tinjauan secara terminology, dilengkapi dengan berbagai contoh dari keduanya.

Pasal kedua membahas tentang pedoman masyarakat jawa (baca: Nusantara) terhadap aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, dan menjelaskan awal munculnya bid’ah dan menyebarnya di tanah jawa, serta membahas tentang macam-macam kelompok ahli bid’ah yang ada di tanah jawa. 

Pasal ketiga membahas tentang garis kebenaran bersama ulama salaf, menjelaskan tentang maksud as-sawadul a’dzom, serta pentingnya berpedoman pada salah satu mazhab 4.

Pasal keempat membahas tentang wajibnya mengikuti para ulama mujtahid bagi orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk ijtihad.

Pasal kelima membahas tentang kewajiban berhati-hati dalam mencari guru dan mengambil ilmu darinya, serta takut terhadap fitnah ahli bid’ah, orang munafiq, dan tokoh-tokoh yang tersesat.

Pasal keenam membahas tentang hadist-hadist dan atsar tentang diangkatnya ilmu, maraknya kebodohan, serta penjelasan bahwa akhir zaman adalah buruk, dan lebih menariknya juga membahas tentang agama yang hanya dimiliki oleh kalangan khusus.

Pasal ketujuh membahas tentang dosa mengajak terhadap kesesatan dan mengajak pada pekerjaan yang buruk.

Pasal kedelapan membahas tentang terjadinya perpecahan umat nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi waallam menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, serta kelompok-kelompok sesat dan kelompok yang selamat yaitu Ahlussunnah wal Jamaah.

Pasal kesembilan membahas tentang tanda-tanda hari hari kiamat sudah dekat.

Pasal kesepuluh membahas tentang hadist-hadist yang berkaitan dengan keadaan orang meninggal dunia mampu mendengar, berbicara, mengetahui orang yang memandikan, mangkafani, dan memakamkannya. Serta membahas tentang kembalinya ruh kedalam jasad setelah mati.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...