Beranda Headline Cara Jalaluddin Rumi Menengahi Paham Qadariyah dan Jabariyah

Cara Jalaluddin Rumi Menengahi Paham Qadariyah dan Jabariyah

Jalaluddin Rumi berpendapat, takdir adalah semacam hukum kehidupan (law of life). Hukum kehidupan mengatakan, kalau Anda melakukan ini atau itu, maka Anda akan menerima konsekwensi atas tindakan Anda, baik atau buruknya. Dengan demikian, takdir menurut Rumi, bukan pada tindakan dan jalan hidup seorang manusia.

Harakah.id – Para sufi, pada umumnya, dikenal sebagai kaum yang hidup dengan kepasrahan total kepada Allah. Namun beda dengan Jalaluddin al-Rumi. Ini tampak dari cara pandangnya menengahi perseteruan paham Qadariyah dan Jabariyah. Dalam sejarah, keduanya merupakan aliran ekstrem yang saling berseberangan, yang lahir dari perkembangan dinamika politik pasca wafatnya Rasulullah Saw.

Titik utama debat dua aliran ini ada pada soal kehendak manusia. Qadariyah berpendapat, manusia adalah makhluk yang sepenuhnya bebas bertindak dan berkehendak. Dalam istilah bahasa Inggrisnya free will dan free act. Manusia adalah pencipta bagi segala tindakannya sendiri.

Sebaliknya, bagi kaum Jabariyah, segala tindakan manusia merupakan takdir yang telah ditetapkan. Manusia terikat oleh kehendak mutlak Allah Swt. Nasib dan segala amal perbuatan manusia, baik buruknya telah ditentukan sejak semula dalam qada dan qadar. Istilah bahasa Inggris untuk paham semacam ini ialah fatalisme atau predestination.

Meski sama-sama ngotot, argumen masing-masing kelompok ini masih menyisakan masalah. Pertanyaan untuk kaum Jabariyah, jika semua kehendak manusia telah ditentukan Allah, mengapa ia dipandang berdosa saat melakukan kesalahan, atau mengapa Allah memberikan perintah dan larangan? Sedangkan pertanyaan untuk Qadariyah, kalau manusia berkuasa penuh atas kehendak dan tindakannya, kenapa banyak orang yang gagal menggapai rencananya? Atau bagaimana menghubungkan kebebasan manusia dengan takdir (qada dan qadar) yang merupakan bagian dari rukun iman?

Baca Juga: Sejarah Kelahiran Istilah Sufi.

Untuk memecahkan persoalan itu, kaum Asy’ariyyah menyodorkan konsep kasab atau iktisab. Kendati begitu, para pakar maupun akademisi masih menganggap konsep ini lebih condong ke Jabariyah.

Adu argumen kaum Qadiryah dan Jabariyah, yang berlangsung sejak sekitar tahun 100-an H, tak pernah benar-benar mencapai titik temu. Hingga ratusan tahun berikutnya, munculah Jalaluddin Rumi, seorang ulama, penyair, dan sufi besar yang lahir di  Samarkand, 6 Rabiul Awwal 604.

Rumi sendiri merupakan salah satu tokoh Asy’ariyyah. Guru Besar Filsafat Islam Mulyadi Kartanegara menyebutnya sebagai ulama Asy’ariyah yang cukup progresif dalam mereformulasi konsep kasab. Sebagai kaum Asy’ariyyah, pandangan Rumi dianggap lebih condong ke pendirian kaum Qadariyah.

Rumi percaya bahwa manusia punya kebebasan untuk memilih (free choice). Menurutnya, tidak mungkin Allah memberi perintah dan larangan, sebagaimana banyak termuat dalam kitab suci al-Qur’an, kalau manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih tindakan-tindakannya.

Pembuktian lain bahwa manusia punya kehendak bebas yaitu adanya rasa bersalah saat seseorang telah melakukan perbuatan dosa dan nista. Begitu juga dengan rasa kesal, misalnya ketika seorang mencuri barang milik Anda. Jika memang semua tindakan telah ditentukan pasti oleh Allah, kenapa harus ada rasa kesal bahkan marah kepada orang yang mengambil barang milik Anda? Tindakan mencuri itu sendiri juga membuktikan bahwa si pencuri punya kebebasan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tak terpuji tersebut.

Rumi menegaskan, kebebasan untuk memilih ini adalah amanat dan hadiah terbesar dari Allah yang hanya diberikan kepada makhluk bernama manusia. Atas karunia ini, manusia wajib bersyukur dengan cara memanfaatkan kebebasan ini sebaik-baiknya.

Dalam salah satu syairnya, Rumi berkata,

Jangan jadi Jabariyyah karena mereka adalah seperti orang yang mencampakkan hadiah yang telah ada di tangan mereka.

Jangan menjadi Jabariyyah, karena itu seperti orang yang tidur di tengah jalan.

Jangan tidur di tengah jalan! Berjalanlah Anda hingga sampai ke pintu gerbang istana.

Di sanalah baru kita bertawakkal, sembari berharap bahwa sang Raja berkenan menerima kita di istana.

Kebebasan memilih adalah adalah hadiah dari Yang Kuasa. Berterimakasihlah kepada-Nya, dengan cara menggunakan hadiah tersebut dengan sebaik-baiknya.

Anda punya tangan, mengapa enggan direntang?

Anda punya kaki, mengapa dibiarkan lumpuh?

Sesungguhnya, ketika sang Tuan memberikan alat apa saja, maka engkau harus mengerti apa yang harus dilakukan dengan alat tersebut.

Kalau engkau mau bertawakkal, bertawakkalah dengan karyamu.

Tebarlah bibit, baru engkau bertawakkal kepada-Nya. (Mulyadi Kartanegara, Gerbang Kearifan, 2008)

Selanjutnya, bagaiamana menghubungkan antara kebebasan kehendak manusia dengan takdir sebagai salah satu hal yang wajib diimani orang Muslim?

Rumi berpendapat, takdir adalah semacam hukum kehidupan (law of life). Hukum kehidupan mengatakan, kalau Anda melakukan ini atau itu, maka Anda akan menerima konsekwensi atas tindakan Anda, baik atau buruknya. Dengan demikian, takdir menurut Rumi, bukan pada tindakan dan jalan hidup seorang manusia. Apakah Rumi berhasil menyelesaikan perdebatan paham Qadariyah dan Jabariyah? Wallahu a’lam.

Baca Juga: Syeikh Hamzah Fansuri, Si Sufi Multitalent.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...