Beranda Keislaman Akidah Saat Eksistensi Tuhan Menjadi Sangat Konkret, Kondisi Yang Tak Semua Orang Alami

Saat Eksistensi Tuhan Menjadi Sangat Konkret, Kondisi Yang Tak Semua Orang Alami

Harakah.idBagi saya, sang dosen itu memberikan kritik terhadap model keimanan sebagian orang beragama yang seringkali dengan sadar ataupun tidak sadar meyakini bahwa Tuhan hanya hadir pada saat tertentu.

Suatu ketika seorang dosen bercerita tentang pengalamannya melakukan perjalanan penelitian ke Papua. Saya tidak ingat detail ceritanya tetapi seingat saya waktu itu pesawat yang ditumpangi sang dosen mengalami turbulensi.

Kata beliau kepada kami, “Saat itu Tuhan menjadi sangat konkret.” Sontak hampir satu kelas tertawa, termasuk saya. Akan tetapi, saya kira tawa kami yang serempak itu tidak mesti menyiratkan kami dalam suatu kondisi pemahaman sama terhadap “lelucon” yang dilontarkan. Sangat mungkin kami memahaminya berbeda-beda. Tentu pemahaman yang tidak sama juga ada pada bagi teman-teman saya yang tidak tertawa entah karena tidak paham atau tidak setuju dengan pernyataan yang disampaikan.

Sebagian dari anggota kelas mungkin ada yang memahami bahwa sang dosen itu sedang melakukan kritik terhadap konsep Tuhan per se. Artinya, sang dosen mengkritik eksistensi Tuhan yang hanya ada ketika diyakini keberadaanya. Dalam kata lain, Tuhan tidak eksis di luar pikiran manusia. Logika seperti ini saya kira adalah salah satu poin dalam ateisme dan agnostisisme.

Di bidang ilmu kami, tindakan mengkritik konsep Tuhan bukan sesuatu yang terlalu tabu. Apalagi memang, sebagian dari pemikir besar ilmu yang kami geluti ini skeptis dengan keberadaan Tuhan. Ini memang sejalan dengan salah satu cirinya yang empiris, bahwa segala yang ada harus dapat diamati secara kasat mata. Di luar itu, maka tidak eksis.

Bagi mahasiswa-mahasiswi di kelas yang memang tidak meyakini keberadaan Tuhan, mereka tidak punya masalah dengan kalimat sang dosen. Akan tetapi, sebagian dari anggota kelas itu saya tahu ada dalam posisi yang mengidentitaskan diri sebagai orang yang beragama dengan taat. Namun, bagi saya pribadi lontaran sang dosen itu tidak memiliki kesalahan.

Tulisan ini berupaya untuk memaparkan apa yang saya pahami dari perkataan itu, kalimat yang justru menurut saya bisa membuat kaum beragama menjadi lebih tepat dalam memahami kepercayaannya. Tentu saya hanya akan memaparkan pemahaman saya yang berada dalam perspektif Islam karena memang agama saya saja yang saya betul-betul pahami. Jika teman-teman yang beragama lain ingin menulis dengan perspektifnya sendiri, silakan. Itu bagus, agar kita memiliki keragaman cara pandang dalam memahami persoalan ini.

Bagi saya, sang dosen itu memberikan kritik terhadap model keimanan sebagian orang beragama yang seringkali dengan sadar ataupun tidak sadar meyakini bahwa Tuhan hanya hadir pada saat tertentu. Padahal keberadaan Tuhan itu tidak pernah tergantung dengan apapun jua. Salah satu sifat dalam Sifat 20 adalah qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri), Allah tidak membutuhkan apapun mengenai keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, keperkasaan-Nya, dsb. Allah berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 6, “Sungguh, Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”

Apabila Allah bergantung dengan sesuatu, berarti Allah tidak Maha Sempurna. Maka, Allah juga tidak bergantung dengan pikiran manusia. Apakah manusia mempercayainya atau tidak, Tuhan tetap ada. Apakah seluruh manusia ingkar atau seluruh manusia taat terhadap-Nya, Allah tetap Allah yang diri-Nya tidak disebabkan oleh hal lain.

Dalam tataran pengetahuan saja, mungkin orang Islam yang mempelajari sifat qiyamuhu binafsihi akan mudah memahaminya. Akan tetapi, saya kira, dalam tataran praktik, kita orang Islam seringkali secara tidak sadar sedang mengingkari salah satu sifat Tuhan tersebut. Dalam contoh keadaan genting di atas pesawat yang saya singgung di mula-mula tulisan ini, mungkin orang-orang dalam pesawat waktu itu sebagian bertambah harapannya akan pertolongan Tuhan. Tuhan menjadi “lebih konkrit” karenanya, seperti yang diucapkan sang dosen.

Pun dalam keadaan gawat, sebagian dari kita sering mengucapkan, “Kalau sudah begini, hanya Allah yang dapat menolong.” Padahal, saat dalam kondisi yang tidak gawat pun, kita juga membutuhkan pertolongan Allah. “Semudah” membalikkan telapak tangan pun kalau Allah tidak menolong kita, kita tidak mampu melakukannya. Begitu juga dengan Allah yang seolah-olah lebih kita rasakan kehadirannya saat keadaan gawat, padahal Allah selalu dekat dengan kita dalam situasi apa pun. Allah berfirman dalam Surah Qaaf ayat 16, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Sifat lain yang perlu kita gali selanjutnya adalah mukhalafatuhu lilhawaditsi (tidak menyerupai dengan perkara baru [mahluk-Nya]). Allah dalam keyakinan Islam tidak memiliki kesamaan apapun dengan yang diciptakan-Nya. Dalam Surah Al-Syura ayat 11, Allah berfirman “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.”

Ruang dan waktu termasuk yang diciptakan Allah, maka Allah tidak dapat didefinisikan dalam ruang dan waktu. Jika dikatakan Allah melihat setiap perbuatan hamba-Nya, maka bukan berarti Allah memiliki mata seperti manusia dan hewan, perbuatan melihat itu sendiri pun juga tidak sama dengan melihatnya makhluk Allah. Dalam beberapa ayat Alquran, Allah juga menyebut dirinya berada di atas ‘Arsy (singgasana). Akan tetapi, hukumnya sesat jika kita meyakini bahwa ‘Arsy yang dimaksud adalah singgasana layaknya tempat duduk raja, di mana Allah duduk di atasnya seperti duduknya manusia (menggunakan pangkal paha). Ayat tersebut harus di-ta’wil di mana diartikan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy itu artinya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Pikiran atau akal adalah contoh dari makhluk-Nya juga, maka mustahil Allah berada pada suatu tempat di dalam pikiran kita sebagaimana argumen orang ateis dan agnostik. Lebih lanjut, manusia dapat berpikir juga atas dasar apa yang pernah ia lihat, dengar, cium, raba, dsb. Lalu bagaimana mungkin manusia dapat membayangkan wujud Allah bermodalkan hal-hal yang baru (makhluk Allah)? Tentu tidak bisa. Anggapan bahwa Allah hanya berada dalam pikiran manusia salah besar sejak dari asumsinya karena Allah sendiri tidak berada di dalam sesuatu yang diciptakannya, begitu juga wujud Allah tidak dapat dijangkau dengan pikiran manusia.

Saya kira itulah pelajaran yang dapat kita petik dari perkataan sang dosen. Saya ikut tertawa karena bagi saya itu adalah kritik yang cukup jenaka dalam melihat realita keimanan yang dimiliki orang-orang Islam termasuk saya sendiri. Memahami ujaran sang dosen itu sebagai bentuk kritik lebih memberi kita hikmah daripada menganggapnya sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap eksistensi Tuhan.

Seorang sufi besar dunia, Ibnu ‘Athaillah, dalam Al-Hikam mengatakan, “Al-Haqq (Allah) tidak terhijab. Engkaulah yang terhijab dari melihat-Nya.” Hijab (dinding) yang dimaksud itu saya kira salah satunya adalah ilmu kita yang masih cacat dan kurang. Kita tidak bisa memahami Allah bukan karena Allah dikuasai oleh sesuatu sehingga Dia tidak dapat dimengerti. Akan tetapi, kita lah yang membuat hijab di depan mata kita sendiri dengan kebodohan kita. Oleh sebab itu, sudah seyogianya kita sebagai orang beriman selalu belajar dalam memahami Allah dengan sebenar-benarnya. Sebab, apa nilai dari kepercayaan kita jika kita pun tidak memahami dengan tepat apa yang kita percayai?

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Ilfan Zulfani, Mahasiswa Sosiologi FISIP UI dan Santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok.


[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...