Beranda Keislaman Hikmah Saat Manusia Mencintai Allah SWT, Apakah Semua Akan Menjadi Indah?

Saat Manusia Mencintai Allah SWT, Apakah Semua Akan Menjadi Indah?

Harakah.idSekiranya manusia benar-benar mencintai Allah SWT, dirinya akan selalu bahagia manakala bersama Allah SWT.

Seorang yang sedang kasmaran merasa dunia ini begitu indah. Indah dan bahagia yang dirasakannya bersumber dari cintanya pada yang dicintai. Manakala orang yang dicintainya memanggilnya, dirinya memenuhi panggilan itu sepenuh hati. Sebab baginya itu bukan panggilan biasa, melainkan adalah panggilan cinta.

Dia selalu berusaha membahagiakan orang yang dicintai. Selalu setia, dan sangat menjaga orang yang dicintainya.

Dia bahagia. Tak ada lagi kesengsaraan, yang ada hanya cinta. Meski orang melihat dirinya seperti terkurung dalam sangkar. Namun, sejatinya, dia merasa bebas dan bahagia. Sama bahagia, ah, bahkan bisa lebih bahagia daripada burung-burung yang terbang bebas di langit. Sebab dunia burung-burung adalah terbang di langit, sementara dunia sang pecinta adalah pada yang dicintainya. Jangan pisahkan burung dari langit biru, burung itu akan sedih. Pun, jangan pisahkan sang pecinta dari cintanya, dia akan sedih. Bahagia sang pecinta ada pada cintanya.

Cinta menjadi ibarat i’tikad (tekad) bagi sang pecinta. I’tikad yang mengikat dirinya. Buya Hamka menerangkan perihal i’tikad dalam bukunya “Tasawuf Modern”: …kalau manusia melawan i’tikad-nya, dikerjakan pekerjaan yang dilarang oleh i’tikad-nya atau dihentikan pekerjaan yang disuruhkannya, ketahuilah bahwa orang itu telah didorong oleh kekuatan lain bukan kekuatan asli dari kehendak jiwanya, melainkan kekuatan musuhnya, yaitu hawa-nafsunya. Selama dia bekerja melawan i’tikad-nya, selama itu pula hati sanubarinya memberontak melawan perbuatannya. Kalau perbuatan salah itu langsung timbullah rasa yang lain dalam diri, yaitu sesal.

Sehingga sang pecinta akan selalu menjaga cintannya yang adalah i’tikad hidupnya, jangan sampai dirusak oleh godaan-godaan. Sebab bahagianya ada dalam cintanya. Cinta adalah anugerah Allah SWT terindah dalam hidup. Maka jagalah cinta itu.

Demikian, kalau sekiranya manusia benar-benar mencintai Allah SWT, dirinya akan selalu bahagia manakala bersama Allah SWT. Ah, bukannya Allah SWT tak terbatas ruang dan waktu, Dia selalu mengawasi hamba-Nya, dengan kata lain selalu bersama hamba-Nya. Maka manusia yang benar-benar mencintai Allah SWT akan selalu bahagia, sebab Allah SWT yang dia cintai selalu bersamanya.

Mungkin orang-orang melihat dirinya kurang bahagia. Sebab waktunya habis untuk pergi-pulang masjid, habis untuk zikir, habis untuk baca al-Qur’an, dan seakan terkurung (terikat) hidupnya dengan agama. Dirinya seakan tak sempat menikmati hidup. Tak sempat dugem, tak ikut minum-minum, tak ikut bersenang-senang, dan kesenangan duniawi lainnya. Dia hanya selalu pulang-pergi masjid. Dia pasti tak bahagia, bukan? 

Ah, itu hanya pandangan orang yang tak tahu bagaimana rasa cintanya pada Allah SWT. Sang pecinta bahagia, sangat bahagia. Dia selalu menantikan waktu untuk pergi ke masjid, sebab di sana dirinya akan sujud di hadapan Allah SWT (Dzat yang dicintainya). 

Butir-butir tasbih dan merdunya zikir membuatnya tenggelam dalam lautan ketenangan. Sebab dengan zikir, dia mengingat Allah SWT. “Sungguh dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Sangat semangat membaca al-Qur’an. Sebab menganggapnya sebagai surat cinta dari Allah SWT. Ajaran agama dirasakannya bukan sebagai pengikat dengan ragam aturan, melainkan jalan menuju kebebasan hidup dari kefanaan duniawi menuju keselamatan hidup dunia-akhirat. Agama membawanya dari bahagia semu menuju bahagia yang hakiki.

Tak pernah meremehkan ancaman-ancaman Allah SWT dalam al-Qur’an, tak pernah meremehkan perintah Allah SWT, dan selalu awas terhadap larangan Allah SWT. Sebab dia tahu kalau termasuk sombong pada Allah adalah tak memperhatikan ancaman-ancaman-Nya dan menganggap syariat sebagai sesuatu yang remeh serta tak mau mengamalkannya (Samsul Ma’arif, Berguru pada Sulthanul Auliya’: Kisah dan Hikmah dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Sang Pemimpin Para Wali).

Sementara sang pecinta tak akan pernah sanggup menyombongkan diri pada yang dicintai. 

Selalu berprasangka baik pada Allah SWT dan berusaha untuk tak berprasangka buruk. Sebab dia tahu bahwa yang paling utama dalam konteks akhlak pada Allah SWT adalah menisbahkan segala yang baik pada-Nya dan menafikan segala yang buruk, bahkan menurut Imam al-Gazali termasuk menyucikan Allah SWT dari segala pujian makhluk. Sebab batas akhir dari pujian makhluk belum lagi mencapai pujian yang sebenarnya buat Allah SWT (Quraish Shihab, Yang Hilang dari Kita Akhlak).

Tak pernah memberi hatinya pada yang lain, sebab pecinta akan selalu setia. Sehingga selalu insaf, kalau menyekutukan Allah SWT, menganggap ada Tuhan selain-Nya atau ada yang setara dengan-Nya, merupakan dosa terbesar dalam mencintai Allah SWT.

Dia tahu kalau yang paling utama dihindari dari aneka keburukan adalah menyekutukan-Nya dengan sesuatu (Quraish Shihab, Yang Hilang dari Kita Akhlak). Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 13: Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang paling besar.

Demikian, manusia yang benar-benar mencintai Allah SWT pasti akan berusaha mengamalkan agama. Berusaha selalu dalam aktivitas yang diridhai Allah SWT. 

Kalaupun “belum” ada tanda-tanda mencintai Allah SWT dalam diri kita. Maka mulailah membangun cinta itu (mendekatkan diri pada Allah SWT). Bisa dimulai dengan upaya membiasakan diri mendirikan salat. Semoga kita termasuk dalam golongan yang benar-benar mencintai Allah SWT. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...