Saat Nabi Palsu Memuji Nabi Muhammad Melalui Puisi, Inilah Profil Mutanabbi

0

Harakah.idAl-Mutanabbi bernama lengkap Abu Ath-Thoyyib Ahmad bin Al-Husain Al-Ju’fi, lahir di Kufah pada tahun 303 H. Dia dikenal sebagai penyair ulung yang hebat dan juga sangatlah pandai, tak heran apabila dirinya dijuluki sebagai Al Mutanabbi.

Dalam kesusastraan Arab, syair-syair pujian terhadap Nabi sudah ada sejak zaman dahulu, yaitu saat Nabi Muhammad itu sendiri lahir.  Namun,  Zaki Mubarak menjelaskan di dalam bukunya, bahwa syair pujian terhadap nabi ini semakin banyak muncul di saat Nabi Muhammad telah wafat.

Para penyair kala itu merasa sangat kehilangan sosok yang dikasihinya, sehingga mereka pun berbondong-bondong membuat syair-syair yang amat indah, tak terkecuali dengan Hasan bin Tsabit. Namun pada kesempatan kali ini kita tidak akan membahas mengenai syair pujian Nabi pada masa itu, tapi yang akan kita bahas adalah syair-syair pujian Al-Mutanabbi kepada sang Nabi. 

Al-Mutanabbi bernama lengkap Abu Ath-Thoyyib Ahmad bin Al-Husain Al-Ju’fi, lahir di Kufah pada tahun 303 H. Dia dikenal sebagai penyair ulung yang hebat dan juga sangatlah pandai, tak heran apabila dirinya dijuluki sebagai Al Mutanabbi.

Sebenarnya ada beberapa hal yang kontroversional dalam julukan Al Mutanabbi ini, sekilas jika dilihat secara tekstual Al-Mutanabbi memiliki arti yang mengaku nabi. Hal ini jelas tidak bisa diterima di dalam Islam.

Namun ada versi pendapat lain tentang asal muasal penjulukan Abu Ath-Thayyib ini dengan gelar Al-Mutanabbi, yaitu sebab kehebatan syair-syairnya yang begitu indah dan menakjubkan, sehingga orang-orang menganggapnya bagai wahyu yang diturunkan kepada seorang nabi. Pendapat inilah yang mungkin bisa diterima banyak orang.

Sebenarnya, jika melihat diwan-diwan yang ditulis oleh Al-Mutanabbi ini, tidaklah ada satupun syair yang khusus berisikan pujian kepada Nabi Muhammad, hal ini tentunya bukan tanpa alasan. Karena pada suatu ketika pernah Al-Mutanabbi ditanya oleh seseorang mengenai kenapa dirinya tidak pernah membuat syair yang memuji Nabi. Lalu Al-Mutanabbi pun menjawab:

وتركـــت مدحي للوصـــي تعمداً # إذ كــان نوراً مســتطيلاً شامـلاً

وإذا استقل الشيء قام بذاته # وصفات ضوء الشمس تذهب باطلا

Aku sengaja tidak memuji dirinya, sebab dirinya saja sudah berupa cahaya yang terpancar secara sempurna

Jika suatu hal tidak terikat apapun maka dia akan eksis dengan sendirinya, begitu pula dengan sifat cahaya matahari yang menerangi kebathilan

Jawaban di atas bisa dibilang adalah sebuah afirmasi dari Almutanabbi kenapa selama ini dirinya tidak pernah membuat satupun syair khusus yang berisikan pujian kepada sang Nabi.

Namun apabila ditinjau dari segi ilmu badi’ dalam balaghoh, tepatnya pada sub bab muhassinat maknawiyah. Apabila dicermati, ungkapan di atas tadi mengandung unsur tauriyah sekaligus muqobalah

Tauriyah sebab makna dekatnya atau tersuratnya memang sedang tidak memuji Nabi dengan redaksi وتركـــت مدحي, namun makna jauhnya atau tersiratnya sesungguhnya dirinya saat itu pula sedang memuji Nabi. Karena dengan pengakuannya yang tidak mampu untuk memberi pujian itu disebabkan saking mulianya hingga tidak adanya lagi kata pujian yang pantas diberikan kepadanya. 

Muqobalah sebab di awal menyebutkan tidak memuji nabi, namun bait-bait selanjutnya justru berisikan pujian kepada nabi. Yang mana dia menyebutkan bahwa nabi adalah cahaya yang purna tiada lagi ada yang menandingi.

Walaupun mungkin memang Almutanabbi ini tidak membuat satupun syair yang berisikan khusus pujian kepada nabi, namun ada beberapa syair yang terselip di dalam qosidahnya yang berisikan pujian kepada Nabi.

Salah satunya di dalam satu qosidahnya yang berjudul كبرت حول ديارهم (Aku tumbuh besar diantara rumah-rumah mereka), sebenarnya qosidah ini berisikan pujian Al-Mutanabbi kepada Abul Muntashir Syuja’ bin Muhammad bin Aus Bin Ma’ni bin Arridho al-Azdi. Namun pada bait yang ke 21 berisikan pujian kepada Nabi, berikut adalah bait-baitnya yang memuji nabi;

أَمُريدَ مِثلِ مُحَمَّدٍ في عَصرِنا # لا تَبلُنا بِطِلابِ ما لا يُلحَقُ

لَم يَخلُقِ الرَحمَنُ مِثلَ مُحَمَّدٍ # أَبَداً وَظَنّي أَنَّهُ لا يَخلُقُ

يا ذا الَّذي يَهَبُ الجَزيلَ وَعِندَهُ # أَنّي عَلَيهِ بِأَخذِهِ أَتَصَدَّقُ

أَمطِر عَلَيَّ سَحابَ جودِكَ ثَرَّةً # وَاِنظُر إِلَيَّ بِرَحمَةٍ لا أَغرَقُ

Jangan uji kita dengan menyuruh kita untuk mencari sosok yang seperti Muhammad pada masa ini

Karena Tuhan Yang Maha Pengasih selamanya tidak akan pernah lagi menciptakan mahluk semulia Muhammad dan aku kira pun begitu

Wahai dzat yang maha banyak memberi, sungguh atasnya dan dengannya serta dengan mempercayai keyakinannya aku bersedekah 

Limpahkanlah air hujan padaku dengan kedermawananmu serta lihatlah aku ini dengan rahmat-Mu agar aku selamat 

Memang tidak sebanyak dan sepanjang seperti halnya pujian-pujian Nabi yang dituliskan oleh para penyair lainnya. Namun jika diresapi maknanya dan dihayati maksudnya, pujian Almutanabbi yang begitu singkat ini, sangatlah mendalam dan begitu indah.

Diawali dengan memuji kepada Nabi, yang kemudian dilanjutkan dengan memohon doa kepada Allah, merupakan urutan yang sistematis sebagai bentuk tawasulan Al-Mutanabbi kepada sang Nabi sebelum memohon doa kepada Ilahi Robbi.