Beranda Kolom Safari Ramadan di Papua: Masjid "Kontainer" Darussa'adah Tembagapura

Safari Ramadan di Papua: Masjid “Kontainer” Darussa’adah Tembagapura [4]

Harakah.idSafari Ramadan di Papua ini adalah catatan perjalanan dakwah Ramadan Ustadz Ulin Nuha. Tahun ini, di Ramadan kali ini, beliau mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Tembagapura di Bumi Cendrawasih. Bagaimana kisahya? Yuk simak kisah perjalanan beliau.

Satu hal yang menurut kami patut dicontoh dari Masjid Darussa’adah Tembagapura, selain antusiasme jamaahnya dalam beribadah, adalah dari segi pengelolaannya. Hal ini kiranya juga dapat ditemukan di masjid-masjid lain yang berada di area operasional PTFI.

Adalah Yayasan Masyarakat Muslim PT Freeport Indonesia (YMM-PTFI) yang mengelola suasana kehidupan bermasyarakat dan beribadah warga muslim di area tambang ini. YMM menjadi lembaga yang mewadahi mereka dalam mewujudkan pribadi muslim yang baik dan taat. Di antaranya melalui pengelolaan masjid yang terkoordinasi satu sama lain.

Tidak kurang dari 18 masjid dan musholla yang tersebar di area Jobsite mulai dari Porsite hingga Grasberg diakomodir oleh yayasan ini. Tak terkecuali Masjid Darussa’adah Tembagapura. Bahkan berdirinya yayasan ini tidak terlepas dari keberadaan masjid yang ada di Tembagapura itu.

Ikhwal berdirinya Masjid Darussa’adah Tembagapura bermula dari semakin berkembangnya operasi perusahaan pada tahun 1974 yang menuntut jumlah karyawan yang semakin banyak. Di antara mereka terdapat komunitas Muslim yang mulai sering melakukan ibadah keagamaan secara bersama-sama. Mereka berinisiatif untuk menyusun rangkaian kontainer bekas lalu dijadikan sebagai masjid sederhana yang berlokasi di Barak C dekat ujung Street 20 di samping Sungai Mulki yang membelah kota Tembagapura.

Dari masjid kontainer itu, muncul beberapa aktifis penggerak yang peduli dengan pentingnya kegiatan ibadah bagi umat Islam di Tembagapura. Maka berdirilah Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) pada tahun 1975 yang kini berubah menjadi YMM.

Seiring dengan bertambahnya populasi karyawan Muslim, masjid kontainer pun diperlebar ke kiri dan kanan, dan terus meluas dengan tambal sulam. Di masjid kontainer itulah berpusat seluruh kegiatan keagamaan sepanjang waktu, mulai dari shalat fardhu berjamaah, pengajian al-Qur’an, hingga shalat Jum’at.

Seiring berjalannya waktu dan tuntutan kebutuhan, masjid pun direlokasi ke tempat di mana Masjid Darussa’adah berada sekarang. Masih berupa bangunan kontainer, masjid ini mengalami beberapa kali perluasan secara swadaya. Hingga pada tahun 1993, menejemen PTFI menyetujui dibangunnya masjid dengan kontruksi yang permanen, besar dan indah dengan nama Darussa’adah. Tidak tanggung-tanggung, dalam rangka meresmikan masjid tersebut, didatangkanlah dai sejuta umat, KH. Zainuddin MZ, bersama Executive VP and GM PTFI, Dave Farncisco, untuk menandatangani prasasti peresmian masjid.

Sebagai masjid yang terletak di jantung kota Tembagapura, adalah suatu kewajaran jika ia menjadi magnet bagi hampir seluruh kegiatan komunitas masyarakat Muslim yang terhimpun dalam wadah YMM. Bahkan banyak para pekerja expatriate yang bertanya, “Where is the location of praying call?” (Dimana letak suara adzan dikumandangkan?). Sebab mereka sering mendengar kumandang adzan namun tidak tahu di mana masjid berada. Tampaknya mereka sangat terbantu untuk bangun pagi lantaran adzan Subuh senantiasa berkumandang.

Desain bangunan Masjid Darussa’adah Tembagapura sebagaimana yang tampak sekarang ini adalah desain khas bangunan di Tembagapura. Pertama kali menyinggahi, kami mengira dinding masjidnya adalah tembok tebal layaknya masjid pada umumnya. Namun setelah kami amati lekat-lekat dan mengetoknya ternyata dinding itu berbahan asbes yang di antaranya diisi glasswool peredam. Langit-langit dibangun rendah untuk memberi kesan hangat di suasana lingkungan pegunungan yang berhawa dingin.

Darussa’adah tergolong masjid yang luas dan cukup megah. Ruang utama terdiri dari dua lantai untuk jamaah laki-laki dan satu lantai untuk jamaah perempuan. Dengan shaf berjarak selama Pandemi, masjid ini masih mampu menampung 1000-an jamaah. Maka alangkah luasnya masjid ini di masa normal; mungkin bisa menampung 2000 sampai 3000-an jamaah.

Di bagian tengah masjid berdiri beberapa tiang berlapis kayu. Di samping kanan-kirinya menempel lemari mini untuk mushaf al-Qur’an, juga botol-botol kecil minyak wangi yang didisediakan bagi sesiapa yang membutuhkan. Di bagian mihrab berdiri jam besar serta mimbar dengan desain ukiran kayu yang estetis. Sementara di atap, pencahayaan bersinar terang di setiap dua meter yang didukung dengan dinding berwarna putih.

Head sprinkler menggantung dan berjejer rapi yang terhubung ke Hydrant, sebagai antisipasi bila ada kebakaran. Selain ruang utama untuk shalat berjamaah, Masjid Darussa’adah juga dilengkapi dengan ruang kantor, dapur, toilet dan tempat wudhu, kamar ustadz, kamar tamu, perpustakaan, hingga studio Radio Suara HMM.

Dari pemancar radio ini, sosialisasi kegiatan dan dakwah masjid mengudara. Selain shalat fardhu berjamaah, masjid juga mengadakan pengajian rutin, Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ), pembacaan Yasin dan Tahlil, shalawatan, hingga pengajian ibu-ibu Departemen Peranan Wanita (DPW). Semua itu diselenggarakan dengan rapi oleh para pengurusnya di bawah tata kelola YMM.

Dalam beberapa kesempatan, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di area PTFI bersama dengan paguyuban ataupun sponsorship mendatangkan ustadz tamu di luar ustadz tetap, khususnya di bulan Ramadhan, baik sebagai imam maupun penceramah. Puluhan ulama kondang nasional, bahkan internasional, pernah menjadi dai tamu di sini. Termasuk dua guru kami: Kiai Ali Mustafa Yaqub dan Kiai Ahsin Sakho Muhammad.

Adalah suatu kehormatan, pada tahun ini, kami berkesempatan menjadi imam tamu selama Ramadhan di Masjid Darussa’adah. Sebenarnya undangan tersebut kami terima pada tahun lalu, namun Pandemi Corona menjadikan rencana tersebut tertunda. Ala kulli hal, semoga kehadiran kami di sini memberikan manfaat bagi semua.

Terlepas dari itu semua, yang terpenting dari keberadaan suatu masjid adalah ia dibangun atas dasar ketakwaan, sehingga mampu memberi peran dalam membina dan menyatukan para jamaah untuk berlomba-lomba beribadah kepada Allah swt. Ia memberikan perlindungan, keamanan, ketenteraman, dan kebahagiaan kepada orang-orang yang ada di dalamnya. Hal itu pula kiranya yang kami dapati di Masjid Darussa’adah ini, di tengah kesibukaan bekerja setiap hari.Allah swt berfirman:

لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ

“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. Al-Taubah: 108)

Ayat ini menegaskan bahwa masjid yang dibangun sejak semula atas dasar ketakwaan kepada Allah swt adalah lebih baik untuk dijadikan tempat ibadah, untuk mempersatukan kaum Muslimin semuanya dalam segala hal yang diridai-Nya. Yang dimaksud dengan masjid yang didirikan pertama kali atas dasar ketakwaan pada ayat ini adalah Masjid Quba atau Masjid Nabawi di Madinah. Hal itu lantaran di dalamnya terdapat orang-orang yang suka membersihkan diri dari segala dosa dengan mendirikan shalat, berzikir, dan bertasbih kepada Allah swt.

Bahkan pada ayat selanjutnya disebutkan bahwa orang-orang yang mendirikan masjid dengan maksud jahat diumpamakan sebagai orang-orang yang mendirikan bangunan di pinggir jurang yang longsor, sehingga akhirnya mereka terjerumus bersama masjid yang dibangunnya ke dalam neraka Jahannam. Na’udzu billah min dzalik.Semoga Allah senantiasa merahmati dan membimbing kita dalam jalan yang diridai-Nya. Amin.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...