Beranda Khazanah Safari Ramadan di Papua: Melongok Pengolahan Bijih Tambang

Safari Ramadan di Papua: Melongok Pengolahan Bijih Tambang [6]

Harakah.idBijih tambang adalah material mentah yang kemudian akan diolah menjadi logam, baik itu emas, perak maupun yang lain. Di sela-sela dakwahnya di Papua, Ustadz Ulin Nuha berkesempatan untuk melihat proses pengolahan bijih tambang.

Tak terasa, hari ini adalah hari ke-20 kami menikmati Ramadhan di Tembagapura. Sebagaimana hari Ahad sebelumnya, hari ini Pak Joko mengajak kami kembali untuk meng-explore area tambang PTFI. Beliau menawarkan kami untuk berkunjung ke area pengolahan bijih tambang. Tepatnya di area concentrating.

Sebenarnya, hari Ahad sebelumnya kami bersama rombongan telah menyinggahi area itu, sepulang dari Grasberg. Namun, saat itu kami hanya melihat-lihat bagian luar dan tidak seberapa lama mengingat waktu perlahan melipir ke siang hari. Karenanya, biar lebih afdhal, Pak Joko mengajak kami untuk menuntaskan kunjungan di area itu, sekedar menghilangkan rasa penasaran kami mengenai bagaimana emas, tembaga, dan perak berproses?

Pagi itu, sekitar pukul 07.30 WIT, kami dijemput oleh Pak Joko di Guest House Masjid Darussa’adah. Selain beliau, kami berangkat mendaki gunung dengan mengendarai Toyota Land Cruiser bersama Cak Rahmat dan Ust. Nasrullah Aziz. Jika pada minggu sebelumnya kami harus mengitari gunung dengan medan jalan yang tajam untuk sampai ke Grasberg, hari ini tidak demikian. Sebab, area yang hendak kita kunjungi berada di bawah puncak Grasberg, diapit oleh gunung-gunung sekitarnya.

Setelah kami melewati pemukiman Ridge Camp, setir mobil langsung diarahkan ke kanan. Tidak berselang lama kami sampai di kantor Fatal Risk Management (FRM), kantor tempat Pak Joko bekerja. Di depan kantor kami sempat mendongakkan kepala dan terlihat di atas kami lintasan kereta gantung atau tram yang kami kunjungi minggu sebelumnya.

Di kantor manajemen risiko itu, selama beberapa saat Pak Joko memberikan briefing kepada anggotanya. Mereka hendak mengecek hasil pengerjaan las di salah satu bagian tambang Grasberg Block Caving (GBC) di area Underground Mine. Secara kebetulan kami juga hendak mampir ke GBC terlebih dahulu untuk melihat-lihat operasional kereta tambang bawah tanah sebelum nantinya menuju area concentrating. Maka pagi itu, kami serombongan berangkat bersama tim FRM memasuki perut bumi. Tentu lengkap dengan peralatan safety.

Memasuki goa GBC bak masuk labirin yang entah ke mana arahnya. Perempatan-perempatan jalan bawah tanah begitu banyak. Demikian halnya dengan lampu lalu lintas. Jika belum hafal medan jalan, jangan coba-coba masuk sendirian. Tampaknya medan jalan bawah tanah untuk menuju area GBC lebih rumit daripada menuju area DOZ dan DMLZ yang kami kunjungi dua minggu sebelumnya.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di area operasional kereta tambang bawah tanah. Kami singgah di bengkel kereta terlebih dahulu sembari mengambil dokumentasi. Dalam hati kami bergumam, “tidak hanya keretanya yang melintas di bawah tanah, bahkan bengkelnya yang sebesar itu pun ada di sana.” Di tempat inilah, Pak Wagirin, salah seorang jamaah Darussa’adah, bekerja setiap hari. Dari bengkel kami menuju ke sudut lain untuk melihat kereta melintas. Di tempat itu, Pak Warto, juga salah seorang jamaah Darussa’adah, biasa ngantor.

Kereta tambang bawah tanah ini atau disebut juga lori adalah salah satu infrastruktur yang dikembangkan Freeport di Underground Mine. Kereta tersebut dibangun untuk mempermudah pengangkutan material bijih tambang menuju lokasi pabrik pengolahan. Satu rangkaian lori mampu mengangkut batuan hingga 350 ton dalam sekali jalan. Cara ini dianggap sangat minim risiko dan jauh lebih aman. Terlebih, kereta tambang ini dikendalikan dari jarak jauh di ruang khusus gedung kantor OB 4 yang terletak di luar tambang bawah tanah. Bahkan, tidak sedikit operatornya berasal dari kalangan kaum hawa.

Purna dari area kereta tambang bawah tanah, kami langsung keluar dari perut bumi menuju area pengolahan bijih (Mill) tambang yang terletak di Milepost 74. Pak Joko yang operasional kerjanya di pengolahan bijih ini mengajak kami melihat bagian demi bagian proses terbentuknya konsentrat. Secara umum proses itu melalui daerah konsentrator utama, yaitu Konsentrator Utara/Selatan, Konsentrator #3, dan Konsentrator #4. Pengolahan bijih tambang berproses melalui pemisahan mineral berharga dari pengotor yang menutupinya. Langkah-langkah utamanya adalah penghancuran, penggilingan, pengapungan, dan pengeringan. Penghancuran dan penggilingan ditujukan untuk mengubah besaran bijih menjadi ukuran pasir halus guna membebaskan butiran yang mengandung tembaga dan emas.

Sementara pengapungan atau flotasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk menghasilkan konsentrat tembaga-emas. Bubur konsentrat (slurry) yang terdiri dari bijih yang sudah halus dan air dicampur dengan reagen dimasukkan dalam serangkaian tangki pengaduk yang disebut dengan sel flotasi, di mana penambahan udara dipompa ke dalam slurry tersebut.

Reagen yang digunakan adalah kapur, pembuih (frother) dan kolektor. Pembuih akan membentuk gelembung yang stabil, yang mengapung ke permukaan sel flotasi sebagai buih. Reagen kolektor bereaksi dengan permukaan partikel mineral sulfida logam berharga sehingga menjadikan permukaan tersebut bersifat hidrofobik (menolak air). Butir mineral sulfida yang hidrofobik tersebut menempel pada gelembung udara yang terangkat dari zona slurry ke dalam buih yang mengapung di permukaan sel. Buih yang bermuatan mineral berharga tersebut meluap dari bibir atas mesin flotasi kedalam palung (launders) sebagai tempat pengumpulan mineral berharga. Mineral berharga itu disebut ‘konsentrat’.

Sesampainya di area pengapungan atau flotasi ini, Pak Joko menawari kami untuk merasakan sensasi ‘nyiduk’ buih konsentrat yang meluap dari atas mesin flotasi. Beliau menyodorkan sarung tangan karet. Sejurus kemudian, dengan agak sedikit ragu dan takut, kami ulurkan tangan ke permukaan mesin untuk meraih buih tersebut. Sesaat kami melihat dan merasakan seperti menyentuh buih deterjen metalik. Pikiran kami lantas melayang-layang dan bertanya-tanya, “bagaimana ceritanya buih metalik ini bisa menjadi kalung atau gelang emas yang dijual di pasaran dengan harga mahal itu ya?”

Akhirnya kami pulang tanpa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, karena memang prosesnya tidak terdapat di sana. Konsentrat yang dalam bentuk slurry itu selanjutnya dipompa ke Portsite melalui jaringan pipa slurry sepanjang 115 km. Sesampainya di Portsite, konsentrat ini lalu dikeringkan sampai kandungannya hanya 9% air. Pak Joko sempat menunjukkan mesin pompa itu dari kejauhan sebelum akhirnya kami pulang menuju Masjid Darussa’adah Tembagapura.

Alhamdulillah. Selalu ada pengalaman dan pengetahuan yang dapat diserap dari setiap perjalanan yang kami lakukan. Penasaran mengenai proses pengolahan tambang pun akhirnya mendapatkan jawaban, meskipun belum sepenuhnya. Maka saatnya kita songsong hari ke-21 Ramadhan esok hari. Hari di mana Nabi saw mencurahkan segenap dirinya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan melebihi hari-hari lainnya. Aisyah ra berkata:

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Nabi saw mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya (dengan beribadah), dan membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tetiba kami teringat dengan keluarga kecil kami di Purwokerto sana. Semoga Allah swt senantiasa menjaga mereka. Jangan lupa bangun malam ya! Insya Allah setengah bulan lagi purna tugas dan kita akan bersua!

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...