fbpx
Beranda Keislaman Ibadah Salat Jangan Lama-Lama, Ngerusak Islam! Gus Baha Menjelaskan Dimensi Sosial dan Aspek...

Salat Jangan Lama-Lama, Ngerusak Islam! Gus Baha Menjelaskan Dimensi Sosial dan Aspek Solidaritas dalam Ibadah

Harakah.idGus Baha menjelaskan dimensi sosial ibadah dengan memberikan pemahaman kalau ibadah harus juga perhatikan aspek solidaritas. Kalau tidak begitu, Islam bakal rusak. Ibadah jadi hilang esensinya.

- Advertisement -

Ibadah harus juga memperhatikan aspek sosial dan dimensi solidaritas. Sebagai agama yang diturunkan kepada umat manusia, seluruh aturan dan tata laku ibadah dalam Islam pasti memperhatikan sisi kemanusiaan manusia. Maka sudah menjadi kewajiban serta keniscayaan jika seluruh ibadah harus dilakukan dengan memenuhi aspek-aspek sosial dan solidaritas kemanusiaan.

Salah satu contoh simpel yang dipakai Gus Baha untuk menjelaskan persoalan ini adalah kasus seorang imam yang terlalu lama ngimami salat. Dalam konteks berjamaah, seorang Imam bukan hanya dituntut paham dan mengerti hal-hal yang berkaitan dengan rukun dan syarat salat. Seorang Imam juga tidak hanya dituntut bisa membaca al-Quran dengan baik dan benar. Terlepas dari aturan-aturan regulatif semacam itu, seorang Imam juga dituntut untuk paham kondisi jamaahnya.

Aspek kemanusiaan dalam tata laku ibadah juga pernah diperlihatkan oleh Nabi. Dalam sebuah pengajian, Gus Baha bercerita, suatu saat Rasulullah Salat Zuhur dua rakaat. Saat keluar dari masjid, Dzul Yadayn mengingatkan Nabi perihal berkurangnya jumlah rakaat salat Nabi. Dzul Yadayn bertanya, “ini aturan yang baru atau panjenengan sedang lupa?” Rasulullah langsung berbalik arah dan menambah dua rakaat Salat Zuhurnya.

Menurut Gus Baha, hal semacam ini biasa aja. Dari dulu kita menyifati Rasulullah dengan “al-A’radhu al-Basyariyyah”, yang punya sisi kemanusiaan. Justru dengan lupanya Nabi, ada aturan bagi ummatnya ketika lupa rakaat salat. Dengan kata lain, masalah-masalah ibadah tidak bisa dilepas dari unsur kemanusiaan umat yang melaksanakannya.

Gus Baha lalu menjelaskan,

Dulu itu ada sahabat Nabi (Muadz bin Jabal) yang mengimami salat terlalu lama. Ada sahabat lain yang mufaroqoh karena salatnya kelamaan lantaran ingin mengurus unta. Sahabat ini kemudian mengadu ke Rasulullah, ‘Rasulullah, saya ini mufaroqoh dengan imam karena salatnya terlalu lama. Saya dimarahi [Muadz] dan dianggap saya ini munafik.’ Sahabat Muadz, yang jadi imam, dimarahi balik oleh Kanjeng Nabi, ‘kamu itu kalau salat jangan kelamaan, bisa merusak Islam! Orang akhirnya tidak senang salat gara-gara salatmu kelamaan’…

Melalui cerita yang masyhur itu, Gus Baha secara tidak langsung ingin menjelaskan kalau agama harus diposisikan semudah mungkin. Karena Allah sendiri, “yuridu-llahu bikumul yusra wa la yuridu bikumul ‘usr” (Allah itu menghendaki untukmu kemudahan-kemudahan dan tidak menghendaki kesusahan-kesusahan).  Yang fardhu harus diposisikan fardhu, yang sunnah juga harus diposisikan sunnah. Jangan sampai yang sunnah tampak wajib sehingga agama kemudian jadi sulit di mata orang awam dan orang yang berniat masuk Islam.

Maka kata Gus Baha’,

Berkahnya hadis itu pada main Qulhu (Surat al-Ikhlas) semua. Karena khawatir dimarahi Nabi jika terlalu lama. Hahaha… Padahal marah kepada Mu’adz itu, Nabi menganjurkan agar tidak membaca al-Baqarah, tapi diganti sibbihisma… Tapi hadisnya diplesetkan jangan sabbihisma, tapi Qulhu. Hehehe… Karena Mu’adz kala itu baca al-Baqarah di rakaat pertama dan al-Maidah di rakaat kedua. Ya meriang toh? Hahah… tapi memang jadinya sekarang jadi Qulhu rakaat pertama, inna a’thayna rakaat kedua. Hahaha… tapi saya cocok dengan yang begini. Bagaimanapun Islam jangan sampai jadi problem (biang kerok).”

Dari penjelasan Gus Baha tersebut, kita tahu kalau imam harus paham kondisi dan situasi makmumnya. Ketika seseorang mengimami salat di masjid-masjid kampung dan tau kalau makmumnya terdapat orang-orang sepuh, ya dipersingkat saja! Jangan sampai baca surat-surat panjang, ya bisa bikin orang-orang tua sakit pinggang. Heuheu… sebaliknya, ketika seorang imam tahu kalau dia sedang ngimami santri di pesantren yang notabene muda-muda, ya gak masalah kalau salat dilaksanakan agak lama sebagai latihan. Di sini imam dituntut untuk memiliki kepekaan sosial.

Menurut Gus Baha, kemudahan Islam yang semacam ini yang terlihat di masa sahabat dulu. Beliau lalu memberikan sebuah kisah tambahan tentang bagaimana Islam di masa sahabat begitu mudah dan tidak memberatkan,

“Ada sahabat yang hidup di masa Tabiin. Dijelaskan di Kitab al-Bukhari. Saat iqomah dikumandangkan malah si sahabat tadi kabur. Dia lalu berlari mengejar untanya. Saat mau takbiratul ihram, sahabat ini tidak meneruskan. Keluar masjid karena mau ngejar untanya. Dia ini sahabat, bukan tabiin. Saat kembali ke masjid, dia dalam keadaan makmum masbuq. Selesai salat, dikomentari tabiin, ‘lihatlah orang tua ini! Begitu cinta dunia. Dia ini hidup di masa Nabi, tapi lebih mendahulukan unta daripada takbiratul ihram (salat)’. Mendengar komentar seperti itu, si Sahabat ini menangis. Dia berkata, ‘aku (melakukan ini) di masa Nabi tuh ndak masalah. Kok di masa tabiin jadi masalah’. Hahaha… Jadi dia menangis itu karena di masa Nabi Islam itu gampang. Ada yang ngurusin unta, ada yang melakukan macam-macam. Hahaha… Makin ke ke sini kok Islam tambah repot.”

Gus Baha pun mengajak kita berpikir, coba misal si sahabat tadi meneruskan salatnya. Untanya hilang. Salat akan dijadikan obyek tersangka hilangnya unta. Belum lagi si Sahabat sudah tua. Kalau untanya hilang, dia pulang pake apa? belum lagi jika misal unta tersebut satu-satunya harta keluarganya. Jadi ketika untanya hilang, semuanya akan berpikir ia hilang karena salat. Kan ini ndak bener?! Kata Gus Baha, harusnya ya untanya dikejar dan dicari dulu. Kalau ketemu yang dipancang dulu. Kalau dipikir aman, ya mulai salat. Kalau gak dapet jamaah, ya salat munfarid atau sendirian.

Baik contoh kasus Sahabat Muadz yang ngimami salat maupun kasus sahabat yang kehilangan untanya, sama-sama menggambarkan bagaimana Islam seharusnya ditampilkan dengan mudah dan ringan. Jangan sampai orang menjadikan agama sebagai beban dan hal yang mendatangkan masalah. Salah satu cara agar Islam tetap terlihat mudah adalah dengan mempertimbangkan aspek sosial dan dimensi solidaritas yang secara fitrah sudah ada bersama aturan-aturan agama sejak pertama ia diturunkan.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...