Beranda Keislaman Hadis Sama-Sama dari Hadis, Mengapa Ulama Beda Pendapat?

Sama-Sama dari Hadis, Mengapa Ulama Beda Pendapat?

Harakah.id – Perbedaan ini tidak lantas kemudian menjadi cela bagi otoritas keulamaan mereka.

Saat menemukan adanya kesimpulan dan pendapat yang berbeda dari para ulama tentang suatu masalah, maka kita tidak boleh membayangkan perbedaan ini muncul otomatis menunjukkan sebagian mereka tidak berhujjah dengan hadis. Dalam banyak kasus, meskipun semua sepakat mengambil dalil dari hadis, namun tetap saja kesimpulan yang mereka hasilkan itu berbeda-beda.

Di antara faktor yang menyebabkan perbedaan itu adalah interaksi para ulama dengan hadis-hadis Rasulullah Saw.

1. Ada Sebagian Hadis yang Sampai kepada Seorang Ulama, Namun Boleh Jadi Tidak Sampai Kepada Sebagian yang Lain.

Contoh kasus seperti ini telah terjadi sejak masa sahabat. Salah satunya seperti kasus ketika Sayyidina Umar Ibn Khattab Ra membuat keputusan tentang besaran diyat yang berlaku jika seseorang mencederai atau memotong jari tangan orang lain. Beliau menetapkan besaran diyat yang berbeda untuk jari sesuai dengan nilai guna jari tersebut dalam kehidupan manusia. Untuk jari kelingking diyatnya adalah enam ekor unta, jari manis sembilan ekor unta, jari tengah sepuluh ekor unta, jari telunjuk 12 ekor unta, dan ibu jari sebanyak 13 ekor unta.

Pada kemudian hari Sayyidina Umar meralat keputusan tersebut karena memperoleh sebuah hadis dari Abu Musa al-Asy’ary bahwa Nabi Saw pernah berkata,

هَذِهِ وَهَذِهِ سَوَاءٌ يَعْنِي الْخِنْصَرَ وَالْإِبْهَامَ

“Ini dan ini sama saja,” yang beliau maksudkan kelingking dan telunjuk. (HR: Bukhari no. 6895).

Keadaan semacam ini atau adanya sebagian hadis yang tidak sampai kepada sebagian ulama dan sahabat adalah sesuatu yang normal dan manusiawi, hal ini tidak lantas kemudian menjadi cela bagi otoritas keulamaan mereka.

2. Sampainya Hadis dengan Kualitas yang Berbeda.

Kemungkinan lain yang juga menjadi sebab perbedaan pendapat adalah adanya hadis tentang sebuah masalah yang sama-sama dijangkau oleh para ulama, namun sebagian ulama memperolehnya dalam keadaan yang layak menjadi hujjah, sedangkan kepada sebagian ulama yang lain hadis tersebut sampai dalam keadaan yang dinilai tidak dapat menjadi hujjah. Keadaan ini, misalnya, terjadi jika jalur transmisi hadis yang sampai pada seorang ulama diisi oleh para perawi yang sahih,sedangkan jalur transmisi hadis yang sama kepada ulama yang berbeda diisi oleh rawi yang bermasalah, seperti, kepribadian yang tidak kredibel, hafalan yang buruk atau adanya rawi yang tidak teridentifikasi.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...