fbpx
Beranda Khazanah Sanksi Amerika Serikat dan Stabilitas Perbankan Iran

Sanksi Amerika Serikat dan Stabilitas Perbankan Iran

- Advertisement -

Harakah.idKeputusan Amerika Serikat untuk mengembargo ekonomi Iran kembali berlanjut. Meski sudah ditentang oleh negara-negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan PBB. Sanksi Amerika ini tentu berdampak pada dunia perbanknan Iran. Bagaimana dampaknya?

Keputusan Amerika Serikat untuk mengembargo ekonomi Iran kembali berlanjut. Meski sudah ditentang oleh negara-negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan PBB. Tampaknya AS masih ngotot untuk bertahan melakukan ekspansi politiknya. Kabar terbaru, kebijakan yang diambil oleh AS yakni memberikan sanksi terhadap sektor perbankan Iran, Kamis (8/10/2020) waktu setempat dan menarget 18 bank Iran.

Kebijakan AS (sanksi Amerika) tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran menjelang pemilu AS. Pihak Departemen Luar Negeri AS memakai alasan lama dengan menyebut 18 lembaga keuangan Iran terlibat dalam transaksi keuangan untuk mendukung pengembangan senjata nuklir negara tersebut.

AS menerapkan kebijakan dengan membekukan aset-aset 18 bank Iran di AS, melarang warga dan perusahaan di AS untuk berhubungan dengan mereka. AS juga memberlakukan sanksi tambahan terhadap pihak-pihak mana pun yang menjalin hubungan bisnis dengan mereka. Bank-bank asing yang berhubungan dan menjalin kerjasama dengan bank-bank Iran akan terancam kehilangan akses pada pasar dan sistem keuangan AS.

Sanksi Amerika dan Situasi Perbankan Iran

Pergolakan politik antara Iran dan AS terus berlanjut. Pasca kematian Jenderal Qassem Soleimani pada 3 Januari 2020 yang lalu. Kini, hubungan kedua negara tambah memanas. AS mencoba melakukan pelbagai cara untuk menekan Iran, termasuk dari sektor ekonomi. Hal ini tentu memberikan dampak nyata bagi Iran atas sanksi-sanksi yang diberikan oleh AS tersebut.

Berdasarkan informasi dari Associated Press menyebutkan bahwa lembaga yang disanksi oleh AS adalah Amin Investment Bank, Bank Keshavarzi Iran, Bank Maskan, Bank Refah Kargaran, Bank-e Shahr, Eghtesad Novin Bank, Gharzolhasaneh Resalat Bank, Hekmat Iranian Bank, Iran Zamin Bank, Karafarin Bank, Khavarmianeh Bank, Mehr Iran Credit Union Bank, Pasargad Bank, Saman Bank, Sarmayeh Bank, Tosee Taavon Bank, serta Tourism Bank dan Islamic Regional Cooperation Bank.

Lembaga-lembaga keuangan tersebut dinilai telah melakukan transaksi untuk mendukung terorisme yang didanai Iran. Karena itu, lembaga-lembaga keuangan tersebut dijadikan sasaran Instruksi Presiden (Inpres) AS Nomor 13902. Sesuai peraturan tersebut, seluruh pihak yang menjadi sasaran sanksi dilarang untuk menggunakan layanan sistem keuangan AS. Seluruh aset yang telah ada di AS juga bakal dibekukan. Pihak mana pun dilarang menggunakan layanan keuangan AS untuk bertransaksi dengan pihak-pihak yang masuk daftar sanksi tersebut.

Kondisi ini membuat perbankan Iran melemah. Pasalnya, pola transaksi dan perbankan dunia telah terintegrasi dengan dollar AS. Situasi ini menambah daftar panjang sanksi ekonomi AS atas Iran. Iran pun merespon kebijakan AS ini sebagai sebuah usaha untuk menghancurkan sisa saluran keuangan yang bisa digunakan Iran untuk membeli makanan dan obat selama pandemi.

Kontestasi Iran-AS 

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah Trump secara unilateral pada 2018 keluar dari kesepakatan nuklir Iran. Langkah itu disusul dengan pemberlakuan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran. Ketegangan berlanjut saat Jenderal Tertinggi Pasukan Garda Depan Revolusi Iran, Qassem Soleimani, meninggal di Baghdad, Irak karena serangan drone milik AS.

Kontestasi antara AS-Iran tidak akan pernah usai. Peristiwa demi peristiwa terjadi dan berkelindan sesuai kondisi dan situasi yang bergulir. Kepentingan politik, ideologi, dan ekonomi masing-masing negara menjadi perbenturan kedua negara. Implikasinya, AS-Iran terus berkonflik satu sama lain. 

Tidak hanya itu, upaya Iran untuk mengembangkan nuklir pun harus terhenti karena kesepakatan nuklir Iran-AS. Meski akhirnya AS keluar dari perjanjian tersebut. Di bawah pemerintahan Donald Trump, kebijakan luar negeri AS atas Iran sangat keras. Beberapa usaha yang dilakukan Trump atas Iran telah “mencekik” Iran dari berbagai arah.

Meski demikian, Iran mencoba bertahan dan mandiri di tengah gempuran AS yang membabi buta. Kini, di masa pandemi covid-19, Iran juga masih terseok-seok dengan kondisi perekonomian yang tak menentu. Apalagi sanksi Amerika pada sektor perbankan Iran menambah beban dan penderitaan Iran.

Iran berusaha melakukan apapun untuk keluar dari jeratan sanksi ekonomi, meski AS telah mengembargo ekonomi dengan kuatnya. Situasi yang sulit ini harus dihadapi Iran, tetapi negara mullah ini tak menyerah. Bahkan, satu-satunya negara yang kontra dan menjadi ancaman AS di Timur Tengah. Kedepan, kontestasi dan perseteruan kedua negara terus berjalan dinamis dan fluktuatif. Pelbagai perbedaan kepentingan menyebabkan hubungan dan kerjasama Iran-AS sulit menemukan kata mufakat untuk berdamai.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...