Sarung Kiai Asnawi vs Dasi Kiai Saifuddin Zuhri, Dan Cara Kaum Sarungan Antisipasi Kehadiran Kolonial

0
197
Sarung Kiai Asnawi vs Dasi Kiai Saifuddin Zuhri, Dan Cara Kaum Sarungan Antisipasi Kehadiran Kolonial

Harakah.idKaum sarungan, termasuk para Kiai, selalu memiliki caranya sendiri dalam berpikir. Di masa kolonial, logika yang dibangun para kiai sepuh adalah logika antikolonialisme dan non-kooperatif. Maka tak heran para kiai sepuh seperti Kiai Asnawi, menolak pemakaian dasi karena mirip kompeni.

Kiai Saifuddin Zuhri masih sangat ingat, bagaimana “raut amukan” Kiai Asnawi waktu Konferensi Besar Ansor NU di Kudus waktu itu. Para Pemuda Ansor yang sudah merasa parlente karena mengenakan dasi untuk pertama kalinya langsung saja terpaku, merinding dan pucat pasi. Bagaimana tidak, seorang Kiai sepuh dan dikenal wali seperti Kiai Asnawi “marah-marah” karena mereka dilihat lebih nampak seperti kompeni dibanding pemuda Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Itulah yang membuat Kiai Saifuddin Zuhri gugup saat tahu Kiai Asnawi berkunjung ke kediamannya tiba-tiba,

Suatu hari, aku kedatangan tamu ulama besar Kiai Haji Raden Asnawi Kudus. Kedatangannya yang tiba-tiba membuatku sedikit gugup. Ketika itu aku mengenakan dasi, sudah siap berangkat ke kantor. Enam belas tahun yang lampau pernah terjadi sedikit ribut-ribut dalam Konferensi Besar Ansor NU di Kudus, Karena KHR. Asnawi “mengamuk” gara-gara pemuda NU yang Ahlus Sunnah wal Jamaah itu mengenakan dasi. Ulama besar itu anti-dasi.

Kiai Saifuddin memberikan tanda petik kata “mengamuk”. Tak lain untuk menjelaskan, bahwa amukan seorang Kiai bersahaja seperti Kiai Asnawi tentu berbeda dengan amukan orang pada biasanya. Mungkin saja gambaran amukan Kiai Asnawi hanya berbentuk sikap diam dan aura mencekam yang beliau pancarkan dari raut wajahnya. Para santri yang tergabung di Ansor, termasuk Kiai Saifuddin, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyimpulkan kalau Kiai Asnawi sedang marah.

Baca Juga: Hikayat Sarung di Tengah Peradaban Fashion; Dari Stereotipe, Penyingkiran Hingga Upaya Pembid’ahan

Kasus itu bukan yang pertama kalinya. Kiai Asnawi beberapa kali menampakkan sikap penolakan terhadap atribut yang kental dengan aroma kolonial. Beberapa kali, melalui surat, Kiai Asnawi juga melakukan “protes” kepada muridnya, Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari, terkait penggunaan terompet dalam upacara dan kegiatan kepemudaan di NU. Di masa-masa itu, Kiai Asnawi adalah sosok kiai sepuh, yang menolak kehadiran kolonialisme secara kaffah.

Sikap semacam itu mungkin saja tidak hanya diperlihatkan oleh Kiai Asnawi. Beberapa kiai lain mungkin memiliki pandangan yang sama. Sikap dan cara pandang semacam itu maklum mengingat betapa penjajah sudah menyusahkan masyarakat Indonesia sejak lama. Cara pandang yang bertitik tolak pada sikap antipati total terhadap kehadiran kompeni menjadi sikap dan cara pandang yang dirasa cocok untuk misi penyelamatan dan dirasa mengandung unsur maslahah.

Dalam Studi Poskolonialisme, model kehadiran yang paling membahayakan dari kolonialisme adalah model kehadirannya di ruang-ruang budaya. Kolonialisme tidak lagi menegakkan diferensisasi atau pembedaan dengan yang pribumi. Sebaliknya, mereka berusaha bertransformasi layaknya bunglon. Hadir ke tengah-tengah masyarakat tanpa sekat, menyatu dalam budaya dan menampakkan diri bahwa mereka bukan musuh.

Dalam situasi seperti ini, kolonialisme tengah membangun kesan bahwa kolonialisasi tidaklah sejahat yang dipikirkan. Kolonialisme membuat kolonialisasi tampak normal dan tidak ada masalah. Lebih jauh lagi, mereka berusaha memproduksi kesan bahwa kolonialisasi sangat dibutuhkan dan bermanfaat agar masyarakat Indonesia lebih berbudaya. Kompeni hadir sebagai orang tua yang tengah membimbing anaknya menuju pencerahan dan pembudayaan.

Salah satu cara yang diambil ya melalui kolonialisasi kesan berbusana. Kompeni mulai terlihat menggunakan songket dan blankon. Mereka bersikap, hidup dan berprilaku layaknya seorang priyayi dan raja Jawa. Sebaliknya, model-model busana Barat yang dianggap “modern”, “rasional” dan “berbudaya” seperti dasi, celana, jas dan sepatu, digulirkan menjadi wacana kebudayaan hegemonik yang lantas melahirkan umpan balik berupa stigma berkebalikan, kalau sarung, peci dan pakaian pribumi itu “kolot”, “mistik-klasik-konvensional”, dan “tidal menggambarkan budaya peradaban maju”.

Hadirnya sosok seperti Kiai Asnawi yang menolak atribut kompeni penting. Utamanya dalam proses penundaan terjadinya apropriasi atau peniruan, dan proses injeksi subyektifitas. Kiai Asnawi hadir untuk mengingatkan kalau dasi itu atribut kompeni. Posisi Kiai Asnawi semacam ini mirip dengan posisi Kiai Wahab yang terus mengawal kesadaran dan mentalitas Soekarno. Ketika Mbah Wahab menolak permintaan Soekarno agar dirinya menggunakan celana biar tampak rapi, Mbah Wahab sebenarnya sedang memberikan pelajaran dan sedikit guncangan pada nalar Soekarno yang mulai terlencengkan oleh wacana kolonial.

Baca Juga: Dari Sarung Mandar Mbah Wahab Chasbullah, Soekarno Mengaji Ilmu Geo-Politik Global dan Anti-Kolonialisme Budaya

Tapi sejak tokoh-tokoh nasional yang mengawal proses kemerdekaan mulai dipandang selamat dari cengkeraman wacana kolonial, Kiai Asnawi mengubah sikapnya. Termasuk saat menatap Kiai Saifuddin Zuhri yang gugup karena tertangkap mengenakan dasi,

“Mengapa kok seperti gugup?” bertanya KHR. Asnawi yang mungkin melihatku dalam situasi ‘tidak tenang’.

“… Mohon dimaafkan karena aku mengenakan ini…,” kataku sambil memperlihatkan dasi yang aku kenakan. Pikiranku mengenang peristiwa Konferensi Besar Ansor NU di Kudus tatkala KHR. Asnawi menarik dasi salah seorang pemimpin Ansor NU. Tokoh-tokoh seperti KH. Thohir Bakri, KH. Abdullah Ubaid, KH. Mahfudz Shiddiq, semua mengenakan dasi seperti Ansor-Ansor yang lain.

“Haaa… yang dulu berbeda dengan sekarang,” jawab ulama besar itu sambil tertawa lebar. “Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Lain Kedu lain Semarang, lain dulu lain sekarang. Dulu saya anti-dasi karena ada “illat” yang mengharamkan. Memakai dasi di zaman itu tasyabbuh orang Belanda dan orang-orang kafir lainnya yang biasa memakai dasi. Tetapi memakai dasi di zaman sekarang tidak tasyabbuh Belanda tetapi menyerupai Bung Karno dan Abdulwahid Hasyim!”

Tawa Kiai Asnawi dan penjelasannya tentu menggambarkan bagaimana Kaum Sarungan dan Kiai Sepuh seperti Kiai Asnawi sebenarnya punya logika berpikirnya sendiri. Gugupnya Kiai Saifuddin Zuhri dan ketawa Kiai Asnawi menambah keyakinan kalau cara berpikir kaum sarungan tampak progresif, logis, tentatif dan kondisional. Indikator berpikirnya tidak dilandaskan pada emosi, tapi argumentasi logis mengenai illat hukum (sesuatu yang menyebabkan terjadinya hukum). Cara berpikir seperti ini yang seringkali disalahamati oleh pengamat, pakar dan peneliti Barat, yang selalu sampai pada kesimpulan kalau Kaum Sarungan selamanya konvensional, irrasional dan stagnan.

Kiai Asnawi dan sarungnya menunjukkan kalau berpikir hanya membutuhkan diam dan pemahaman akan keluasan. Sebagaimana layaknya sarung yang meniscayakan kebebasan, keleluasaan dan kelenturan, maka penggunanya, seperti Kiai Asnawi, juga diberkahi strategi berpikir yang cerdas, logis dan taktis.