Beranda Keislaman Tafsir Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.idDi antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya.

Membaca Alquran harus penuh kehati-hatian. Hal ini karena kecerobohan akan berdampak pada perubahan makna. Beberapa perubahan makna dapat berakibat fatal karena terkait dengan akidah.

Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya.

Dhamir huwa yang terletak setelah huruf jar memiliki dua kondisi bacaan. Terkadang ia dibaca Hi, yaitu ketika berada setelah huruf ‘Ala, Fi, Bi,  dan Ila.

Adapun jika berada setelah huruf ‘An dan Min maka dhamir tersebut dibaca dengan bunyi Hu. Oleh karenanya, kata عليه dalam Alquran dibaca dengan ‘alaihi yaitu dengan mengkasrahkan bunyi dhamirnya.

Akan tetapi silahkan buka Alquran atau mushaf yang umum ada di Indonesia! Tepatnya pada surah Al-Fath ayat sepuluh.

Terdapat satu kata عليه yang justru dibaca ‘alaihu yaitu dengan mendhummahkan bunyi dhamir. Apa yang membuat bacaan di sini berbeda dengan mainstream kata عليه dalam Alquran? Berikut penjelasannya.

Pertama sekali perlu dipahami bahwa ada perbedaan Qiraat pada kata tersebut. Jumhur imam Qiraat membacanya dengan ‘alaihi, sama seperti kebiasaan bacaan terhadap kata ini di tempat lain dalam Alquran.

Namun qiraat Hafs dari riwayat ‘Ashim membacanya dengan ‘alaihu. Kebanyakan mushaf di Indonesia menulisnya dengan bacaan tersebut, karena riwayat tersebut merupakan model qiraat yang umum kita ikuti ketika membaca Alquran.

Perbedaan bacaan di sini mengacu pada asal muasal dhamir Hu atau Hi yaitu Huwa. Dhamir huwa pada dasarnya dibaca Hu kecuali dalam dua kondisi yaitu beriringan dengan huruf Ya’ sukun atau huruf berbaris kasrah. Oleh karenanya, kata عليه dibaca dengan ‘alaihi karena huruf sebelumnya adalah Ya’ sukun.

Syihabuddin Al-Alusi dalam tafsir Ruhul Ma’ani (26/97) menjelaskan:

وقرأ الجمهور “عليه” بكسر الهاء، كما هو الشائع، وضمها حفص هنا، قيل: وجه الضم أنها هاء “هو” وهي مضمومة، فاستصحب ذلك 

Artinya: jumhur ulama membaca dengan mengkasrahkan dhamir Hi, sebagaimana bacaan biasa. Namun, Hafs membacanya dengan dhummah. Landasan bacaan Dhummah di sini adalah dengan mengembalikan pada asal bacaan dhamir yaitu Hu.

Selain itu, bacaan Hu di sini disebabkan karena setelahnya adalah lafaz Allah yang maha agung, sehingga ia tetap dibaca dengan bunyi dhummah yang terkesan lebih tebal dan mulia dibandingkan bunyi kasrah.

Hal ini menyiratkan bahwa ia berkaitan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Allah SWT. sehingga dibaca secara berbeda dibandingkan kata عليه di tempat yang lain.

Makna tersirat yang lain dari bacaan ‘alaihu adalah dari sisi tema besar ayat. Ayat ini sedang berbicara tentang bai’at atau janji kepada Rasulullah.  

Kata عليه di sini berbicara tentang mereka yang menepati janji tersebut, sikap mereka di kemudian hari tidak berubah dengan janji yang mereka buat semula. Sama halnya dengan bunyi Hu pada kata عليه yang tidak berubah dari kaidah dasarnya yang semula yaitu dibaca dhummah, meskipun ia terletak setelah huruf Ya’ sukun.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...