Seandainya Ilmu Hadis Tidak Ada, Apa Yang Terjadi Pada Islam?

0
787

Harakah.idSeandainya kaidah-kaidah verifikasi sanad tidak pernah dibuat oleh para ulama hadis, para musuh-musuh agama akan sangat leluasa menciptakan riwayat-riwayat palsu tentang agama dan memanipulasi sanad-sanadnya. Sanad merupakan titik jelas pemisah anatar apa itu riwayat dengan cerita-cerita biasa.

Setalah wafatnya Rasulullah SAW, informasi tentang Rasul baik berupa ucapan maupun perbuatan beliau disebarkan dan dibahas dalam lingkungan para sahabat. Namun saat itu, kaidah-kaidah penerimaan dan verifikasi hadis belum berkembang seperti sekarang. Setelah umat Islam terus berkembang dan berbagai konflik terjadi di internal umat Islam, kesadaran untuk membuat batas-batas jelas tentang hadis Nabi mulai sangat dirasa kebutuhannya. Potensi pemalsuan dan penyalahgunaan hadis sendiri telah lama diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW, dimana beliau memberikan ancaman keras pada siapa saja yang berdusta atas nama beliau.

Pada masa sekarang kajian hadis telah berlangsung dan terus berkembang selama belasan abad, melibatkan ribuan ulama pada setiap generasi. Kita dapat memperoleh berbagai catatan dokumentasi rapi tentang hadis-hadis, kaidah-kaidah verifikasinya, identitas nama-nama yang terlibat dalam periwayatannya lengkap dengan penilaian terhadap kredibelitas mereka, dan juga berbagai kaidah pegangan dalam memahami hadis-hadis tersebut.

Apa yang akan terjadi pada agama ini seandainya kaidah-kaidah yang kemudian terhimpun sebagai ilmu hadis itu tidak pernah ada? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita dapat melihat keadaan yang terjadi pada agama-agama dan syariat para nabi sebelumnya. Mereka tidak pernah menetapkan kaidah-kaidah tentang sanad dan penukilan sebuah riwayat dari nabi mereka, mereka juga tidak mencatat identitas para perawi yang terlibat ketika suatu ajaran nabi disampaikan sekian generasi sesudahnya, akibatnya adalah: agama dan mazhab mereka secara perlahan menyimpang dari prinsip awalnya. Hal ini semakin parah seiring transmisi ajaran mereka dari mulut ke mulut atau dari kitab ke kitab.

Dengan melihat fakta di atas, risalah Nabi Muhammad SAW dapat menjadi penutup risalah karena Allah telah menganugerahkan para ulama-ulama hadis sejak masa awal agama ini. Mereka telah menghimpun hadis-hadis, membuat kaidah dan batas-batas bagaimana standar sebuah hadis dapat diterima dan diamalkan, membendung arus penyusupan berbagai penyimpangan yang bertujuan mengacaukan agama Islam.

Ibn Hazm pernah berkata, “Sebuah transmisi hadis beredar dari satu orang perawi yang tsiqah kepada perawi tsiqah yang lain, hal ini terjadi sampai kepada sumber hadis yaitu Rasulullah SAW. Inilah yang menjadi keistimewaan agamai Islam yang tidak dimiliki oleh agama apapun sebelumnya, sehingga membuat agama ini dapat bertahan dan orisinal sepanjang masa.”

Standar dan pedoman yang telah dirumuskan dalam hadis kemudian juga dikutip dalam pencatatan sejarah. Hal ini ternyata sangat besar pengaruhnya, karena sebuah peristiwa historis yang terjadi sepanjang masa umat Islam pun dapat lebih efektif proses verifikasinya. Dahulu belum ada alat teknologi dan media seperti saat ini, sebuah informasi tidak dapat direkam dalam bentuk gambar dan video, sehingga dengan mencatat alur penyampaian sebuah peristiwa, termasuk nama-orang yang terlibat di dalamnya, seberapa tinggi kepercayaan kita terhadap mereka, maka ini dapat memberikan gambaran seberapa terpercayanya cerita sejarah tersebut.

Tanpa jasa dari para ulama ahli hadis, tentu banyak sekali khurafat dan keyakinan batil yang perlahan disusupkan ke dalam agama dengan cara memalsukan sumbernya sebagai hadis atau ucapan Nabi. Sebagian ulama berkata bahwa ada tiga perkara istimewa yang diberikan kepada umat Isalam dan tidak didapat oleh umat-umat sebelumnya yaitu sanad, ilmu nasab dan ilmu I’rab. Ketiga perkara ini dalam perannya masing-masing telah memelihara ajaran Islam dari berbagai serangan.

Al-Hakim al-Naisaburi berkata, “Seandainya kaidah-kaidah verifikasi sanad tidak pernah dibuat oleh para ulama hadis, para musuh-musuh agama akan sangat leluasa menciptakan riwayat-riwayat palsu tentang agama dan memanipulasi sanad-sanadnya. Sanad merupakan titik jelas pemisah anatar apa itu riwayat dengan cerita-cerita biasa.”

Sufyan al-Tsauri mengibaratkan bahwa kajian sanad itu layaknya sebuah senjata yang sangat penting bagi kaum muslimin. Dengan senjata itu mereka telah berhasil menjaga agama-agama mereka dan membendung serangan-serangan terhadapnya. Abdullah Ibn al-Mubarak, sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat pernah berkata, “Tanpa verifikasi sanad, sungguh siapa saja dapat berkata apa saja tentang agama ini.”