Beranda Keislaman Ibadah Sedekah atau Selamatan untuk Orang Meninggal, Apakah Pahalanya Akan Sampai?

Sedekah atau Selamatan untuk Orang Meninggal, Apakah Pahalanya Akan Sampai?

Harakah.id – Menyelenggarakan selamatan atau kenduri untuk keluarga yang telah meninggal dunia pahalanya akan sampai.

Sedekah berasal dari bahasa Arab “shadaqah”. Artinya memberikan sesuatu kepada orang lain. Waktunya bebas. Bisa hari ini, esok, lusa dan seterusnya. Barangnya juga bebas. Bisa makanan, uang atau jasa. Yang menerima boleh ayah, ibu, adik atau orang miskin. Yang jelas, tujuannya ingin mencari ridha Allah lewat ibadah sedekah.

Sedekah juga bukan hanya soal memberikan sebagian harta bagi yang membutuhkan, namun manfaat sedekah lebih luas dan akan dirasakan pada orang yang melakukannya. Seperti berikut:

  • Memperkuat keimanan
  • Meningkatkan rasa empati sosial
  • Terhindar dari nilai materialism
  • Rasa syukur kepada Tuhan
  • Melatih berpikir positif
  • Terhindar dari  sikap kikir
  • Semakin panjang umur
  • Mendapatkan rasa bahagia
  • Dan lain-lain

Masalahnya sekarang, bagaimana jika sedekah itu untuk orang lain, apakah pahalanya sampai kepada yang dituju? Misalnya, saya ingin sedekah kepada ayah atau ibu yang telah meninggal, apakah Allah berkenan menerima dan pahalanya bisa sampai kepada ayah dan ibu saya?

Kebanyakan orang Indonesia, terutama yang berdomisili di pedalaman, sangat akrab dengan ritual sedekah ini. Bentuknya bisa berupa sedekah barang yang dibagikan kepada fakir dan miskin, bisa juga dengan menyelenggarakan selamatan atau kenduri yang pahalanya diperuntukkan kepada keluarga yang telah meninggal dunia. Mereka melakukan ibadah sedekah ini berdasarkan kepada dalil hadis:

Dari Aisyah, ia menceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi lalu berkata: ‘Ibuku meninggal yaa Rasulallah. Andai dapat bicara niscaya ia pasti akan bersedekah. Apakah dia mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya?” Rasul menjawab, “Ya, dapat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil lainnya,

Dari Abu Hurairah, ia meriwayatkan: ada laki-laki datang kepada Nabi lalu ia berkata, “Ayahku telah meninggal dunia dan ia tidak berwasiat apa-apa. Apakah saya bisa memberikan manfaat kepadanya jika saya bersedekah atas namanya?” Nabi menjawab, “Ya, dapat”. (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah)

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...