Beranda Keislaman Muamalah Sejak Kapan dan Mengapa Buya Arrazy Hasyim Dikritik Soal Konsep "Ismu Ruh"?

Sejak Kapan dan Mengapa Buya Arrazy Hasyim Dikritik Soal Konsep “Ismu Ruh”?

Harakah.idDi tengah polarisasi netizen, Buya Arrazy Hasyim menanggapi kritik terhadap dirinya. Seperti apa respon dan tanggapan beliau?

Ismu ruh. Masih cukup ramai diperbincangkan di media sosial persoalan “Ismu ruh” atau “Nama ruh”. Buya Arrazy Hasyim –tokoh yang mempopulerkan istilah tersebut terus menjadi bahan perbincangan.

Pada umumnya, respon netizen adalah mempertanyakan dan menggugat konsep tersebut. Tetapi, sebagian di antara netizen ada pula yang mencoba menjelaskan pandangan Buya Arrazy Hasyim dan tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada beliau.

Di tengah polarisasi netizen, Buya Arrazy Hasyim menanggapi kritik terhadap dirinya. Tanggapan itu dapat dilihat dalam video yang diposting oleh chanel Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah dengan judul KAJIAN SIFAT 20 KITAB AQIDATUL AWWAM, rekaman kajian akidah di Masjid Nurul Hidayah, Perumahan Simprug Diporis, Tangerang, 20 Maret 2022.

Buya Arrazy Hasyim menyebut bahwa kritik terhadap beliau mulai masif sejak beliau mengisi kajian Isra’ dan Mikraj di Kementerian Agama pada 28 Februari 2022. Menurutnya, sejak itu mulai banyak kritik, bahkan tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya.

Menurut Buya Arrazy Hasyim, ini ada kaitannya dengan trend politisasi agama yang senang naik di Indonesia belakangan ini. Di Indonesia, politisasi agama sudah “gawat”. Pada menit ke 1:23 – 2:20, “Dulu saya kajian, bapak-bapak sekalian, soal makrifatur ruh, gak ada yang protes. Giliran saya ngisi di Kemenag, dicari-cari kesalahan saya. Oh, kayaknya memang ada yang gak seneng kita buka ilmu ini.”

Sekalipun mendapatkan kritik dan tuduhan yang beraneka macam, beliau mengingatkan jamaahnya untuk tidak membalas. Beliau mengatakan, “Jadi antum gak usah balas-balas ya. Biarin aja ya. Jadi gak usah khawatir.”

Menurut Buya Arrazy Hasyim, ada beberapa hal yang dipersangkakan kepada dirinya. Terutama beliau dituduh menetapkan seorang figur tertentu sebagai Wali Ghauts atau Al-Mahdi. “Saya kemudian diperkarakan masalah al-ghauts, al-mahdi. Antum coba cek, apakah saya pernah me-nash-kan menyebutkan al-mahdi seseorang. Ada gak dalam kajian saya. Pak Hasyim, ikut saya kan selama ini. Ini kemana-mana ikut saya ngaji. Ke puncak juga ikut. Pernahkah gak saya mengatakan al-ghauts al-mahdi si fulan? Pernah gak, gak ada. Justru saya mencintai seluruh ahlul bait. Karena saya khawatir nanti dari keluarga mereka keluar al-mahdi.” Demikian kata tokoh yang populer dengan sebutan Buya Arrazy Hasyim itu.   

Dalam bagian lain video tersebut, pria kelahiran Sumatera Barat tersebut juga menegaskan bahwa persoalan “ismu ruh”, bukan masalah akidah. Tidak percaya juga tidak apa-apa. Seperti dalam persoalan kalam dan fiqih, dalam pembahasan tentang tasawuf juga tidak lepas dari persoalan khilafiyah atau perbedaan pendapat.

Buya Arrazy Hasyim juga menjelaskan bahwa pada mulanya, beliau juga inkar dengan konsep ismu ruh ini. Tetapi, perlahan beliau mempelajarinya; baik dari gurunya maupun dari literatur kitab-kitab tasawuf. Beliau menemukan kecocokan antara apa yang disampaikan gurunya yang disebutnya “ummi” (baca: tak bisa baca kitab) dengan apa yang tertuang dalam literatur kitab.

Beliau juga menegaskan bahwa beliau tidak masalah dikritik dan dipermasalahkan oleh sejumlah asatidz. Demikian respon Buya Arrazy Hasyim dalam menghadapi tuduhan sebagian pihak yang kurang cocok dengan pandangan dan sikapnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...