Beranda Gerakan Sejak Kapan Konsep Harakah Islamiyah Menjadi Kata Kunci dan Cita-Cita Gerakan Kebangkitan...

Sejak Kapan Konsep Harakah Islamiyah Menjadi Kata Kunci dan Cita-Cita Gerakan Kebangkitan Islam?

Harakah.idApa itu “harakah islamiyah”? Sejak kapan kata “harakah” muncul dan disandingkan dengan Islam?

Sebagai kata, “harakah” dalam kalimat “harakah islamiyah” lahir bersamaan dengan lahirnya Bahasa Arab. Ia menunjukkan makna geliat, gerak, perubahan dan perpindahan. Jauh sebelum abad modern menyentuh tatar Arab-Islam, “harakah” hanyalah kata biasa. Ia tidak digunakan kecuali hanya untuk menunjukkan proses gerak dan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Atau dari satu kondisi ke kondisi yang lain.

Dalam sejarah dan peradaban, kata tidak selamanya hanya menjadi kata. Dalam satu momentum tertentu, sebuah kata ternyata mampu meningkatkan level abstraksinya. Sebuah kata bisa menjadi simbol konotatif bagi kegiatan dan pekerjaan tertentu, slogan bagi ideologi tertentu, atau bahkan media mitologis tempat mimpi, ambisi dan keinginan sekelompok manusia ditumpuk satu.

Kata perempuan misalnya, mengalami peningkatan abstraksi sejak gerakan perempuan bernama “Feminisme” meletus di Barat. Kata perempuan tidak lagi menunjukkan jenis kelamin atau diferensiasi genetikal dengan laki-laki. Ia kini mewakili satu sikap, posisi politik maupun kultural dan keberpihakan dalam satu situs gerakan kaum ibu di tengah kondisi sosial yang dianggap terlalu partiarkal.

Hal yang sama juga dialami kata “Soekarno”, “Sosialisme” dan “Marxisme” di masa Orde Baru. Ia menerima beban makna tambahan setelah terjadinya beberapa peristiwa dan susupan kepentingan politik rezim dalam upaya melakukan peralihan kekuasaan. Begitu juga dengan kata “Islam”. Beberapa peristiwa seperti hancurnya WTC di Amerika, turut menjadi titik peralihan kondisi semantis dan peningkatan resonan hermeneutis dalam anatomi kata tersebut.

Dengan kata lain, peningkatan level abstraksi dalam makna kata selalu beriringan dengan peristiwa. Ia mempengaruhi mentalitas manusia, yang pada akhirnya juga mempengaruhi cara pandang dan kesannya dalam memperlakukan sebuah kata. Sebuah kata, yang awalnya hanya dijadikan media bahasa biasa sehari-hari, bisa saja lalu menjadi jimat yang sangat sensitif dan diresapi oleh penuturnya. Tak terkecuali kata “harakah”…

Kata “harakah” adalah kata yang sangat biasa sebelum pertengahan abad 20. Ia lalu bertransformasi, menerima beban makna tambahan dan warisan sekantong ideologi politik-kebudayaan kala “al-Nahdlah” ditabuh, Jamaluddin al-Afghani meneriakkan Pan-Islamisme dan kala semangat revivalisme bertunas dalam tubuh masyarakat Arab-Islam. Kata “harakah” tidak sendirian. Bersama dengan kata-kata lainnya seperti “al-turats” (tradisi), “al-tsawrah” (revolusi) dan “al-Nahdlah” (kebangkitan), “harakah” tumbuh menjadi slogan. Ia juga menjadi rapal mantra dan mimpi-mimpi Bangsa Arab tentang format kemajuan yang mereka hendaki di masa depan.

Kelahiran “harakah” dalam dialektika politik-kebudayaan di Mesir – yang di saat bersamaan dianggap juga sebagai titik alih visi kebudayaan Arab-Islam – memang tidak terlepas dari faktor kekalahan perang yang beruntun. Bagaimana bisa, sebuah bangsa besar, yang memiliki sejarah dan napak peradaban manusia paling tua di dunia, dipecundangi sebuah bangsa kecil, yang bahkan untuk mengklaim teritorinya mereka harus melalukan praktek pencaplokan dan penyerobotan wilayah bangsa lainnya?

Realita ini tidak bisa diterima oleh orang Arab, khususnya oleh mentalitas kaum cendekiawan, intelektual dan para akademisi. Mereka mulai melihat dirinya dari jarak yang lebih jauh. Sesekali mereka juga melihat ke belakang. Menengok masa lalu di mana kedigdayaan peradaban mereka tambang layaknya emas. Mereka mulai berpikir, merenung dan mempertimbangkan keadaan. Mengapa kita terpuruk, sedangkan bangsa lainnya maju?

Pada titik stagnansi akut (‘azmah) inilah kehendak untuk bergerak, berubah dan berevolusi muncul. Meskipun memang tidak tunggal, masing-masing dari model “harakah” yang lahir dari problematika kebudayaan di Arab-Islam, hampir memiliki visi-misi yang sama. Pun rencana yang dikerjakan untuk meramu resep kemajuan, hampir dilakukan dalam pola yang sama. Mereka mempertimbangkan relasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Masing-masing dari para pemikir dan cendekiawan mulai bekerja, mencari dan meramu satu konsep kemajuan yang progresif dengan tetap mempertahankan karakteristik dan tradisinya.

Sejak saat itu, kata “harakah” tidak lagi biasa. Ia berubah menjadi kata kerja (fi’il) sekaligus kata benda (isim) untuk menunjukkan satu konsep kemajuan tertentu. Ia lalu tertebar dalam kitab-kitab yang lahir di abad modern-kontemporer. Ia menjadi kata yang mulai banyak digunakan dalam setiap pidato, orasi, pamflet propaganda, naskah khutbah, teriakan demonstran, artikel koran hingga obrolan-obrolan ringan di warung kopi ketika malam. Kata “harakah” tidak lagi merepresentasikan makna denotasi, kini ia merepresentasikan proyeksi konotatif yang terkadang nampak seperti sikap peng-ideologian, dan kadang juga pengultusan.

Jika diilustrasikan dengan menggunakan pemodelan semantik Roland Barthes, beginilah kira-kira proses perubahan semiotis dalam kata “harakah”:

Sekali lagi, “harakah” adalah konsep dan bentuk pergerakan yang ditujukan untuk membidani satu proses transformasi kebudayaan yang progresif. Ia ditujukan agar Islam senantiasa dapat berdialog dengan zaman di masa-masa yang akan mendatang.

Namun yang penting dicatat, meskipun memiliki visi yang hampir sama, namun perwujudan praksis “harakah bisa bermacam-macam. Dalam konteks kelompok yang sangat ekstrem, upaya pergerakan menuju perubahan dilakukan dengan keras dan melalui praktek-praktek yang sebenarnya sudah keluar dari jati diri Islam. Namun banyak juga yang mengejawantahkan konsep pergerakan dalam bentuk yang lebih organis, terukur dan diplomatis. Mereka memilih jalan-jalan kebudayaan sebagai media perjuangan dibandingkan masuk dan bertarung dalam gelanggang politik praktis yang justru seringkali menumpahkan darah.

Lalu pertanyaannya, apa saja model “harakah islamiyah” yang pernah ditawarkan? Bagaimana keragaman konsep “harakah” terformulasi kaitannya dengan persoalan akidah dan usul dalam Islam? Lalu hal-hal apa saja yang akan mempengaruhi sukses tidaknya sebuah “harakah”? semuanya akan dibahas, tunggu artikel-artikel selanjutnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...