Beranda Headline Sejak Kapan Peringatan Maulid Nabi SAW Dibilang Bid’ah yang Diharamkan?

Sejak Kapan Peringatan Maulid Nabi SAW Dibilang Bid’ah yang Diharamkan?

Harakah.idSyekh Ibnu Taimiyyah menghukumi makruh jika dilakukan setiap tahun. Tetapi, pada abad ke-19, mulai muncul pendapat yang menyebut peringatan maulid sebagai bid’ah yang dilarang dalam agama dari kalangan Wahabi.

Menjelang datangnya bulan Rabiul Awwal hingga beberapa waktu setelahnya, bersamaan dengan pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, biasanya tersebar informasi di media sosial yang mengajak masyarakat Muslim tidak menghadiri peringatan Maulid Nabi.

Ajakan tersebut sering disertai tuduhan bahwa peringatan Maulid Nabi yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Muslim adalah amalan bid’ah yang dilarang dalam agama. Padahal, seperti kita tahu, peringatan Maulid Nabi pada umumnya berisi aktivitas bershalawat dan mendengarkan ceramah agama. Agak aneh jika kemudian kegiatan semacam itu disebut sebagai perbuatan yang haram dilakukan oleh umat Islam.

Muncul pertanyaan, sejak kapan sebenarnya pelarangan Maulid Nabi dengan disertai tuduhan bid’ah atas kegiatan semacam itu? Apakah Nabi Muhammad SAW pernah melarang peringatan kelahiran beliau? Tulisan ini akan mendiskusikan masalah pelarangan peringatan Maulid Nabi.

Dalam sebuah hadis disebutkan,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عُفِيَ عَنْهُ

Halal adalah perkara yang Allah jelaskan kehalalannya dalam kitab-Nya. Haram adalah perkara yang Allah haramkan dalam kitab-Nya. Apa yang didiamkan oleh Allah, ia tergolong perkara yang dimaafkan. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dalam Mustadrak Ala al-Shahihain).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim. Imam al-Hakim meriwayatkannya dalam kitab Mustadrak ‘Ala al-Shahihain, sebuah kitab yang berisi hadis-hadis yang dinilai sahih menurut kriteria Imam Bukhari dan Muslim dalam pandangan penulisnya. Dengan demikian, riwayat ini bernilai shahih. Setidaknya menurut Imam al-Hakim. Imam al-Tirmidzi mengatakan bahwa sanad hadis yang beliau sampaikan ini -yang bersatus mauquf, sebagai paling sahih jalur riwayatnya. Syekh Al-Albani, menilai hadis ini berkualitas hasan untuk riwayat Al-Tirmidzi. Syekh Syu’aib al-Arnauth, ‘Adil Mursyid, Muhammad Kamil Qurrah Balali, Abdul Latif Hirzullah menilai jalur riwayat Ibnu Majah sebagai hasan.

Berdasarkan keterangan di atas, pada intinya, hadis tentang halal-haram-ma’fu di atas adalah tsabit (diakui keberadaannya) dan maqbul (bisa diterima sebagai hujjah). Inti dari hadis tersebut adalah bahwa perkara haram adalah apa yang sudah dijelaskan oleh Allah dalam kitab-Nya. Demikian pula yang halal. Sedangkan yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran, halal atau haramnya, maka ia digolongkan perkara yang dima’fu. Artinya, boleh atau halal dilakukan.

Untuk menghukumi halal, harus merujuk kepada kitab Allah. Demikian pula menghukumi haram. Tidak boleh sembarangan menghukumi halal atau haram kecuali dengan rujukan benar dalam kitab Allah.

Berangkat dari sini, menghukumi haram perbuatan memperingati Maulid Nabi harus jelas dasarnya dalam Al-Quran. Bila tidak, maka kita akan dianggap sembarangan menghukumi sesuatu. Sampai di sini, apakah dalam Al-Quran terdapat larangan memperingati Maulid Nabi? Sepertinya, dari 6000-an ayat Al-Quran, tidak akan dijumpai ayat yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi. Dengan demikian, sejatinya memperingati Maulid Nabi adalah perkara yang dima’fu dalam agama. Perkara yang dima’fu artinya dibolehkan dalam agama. Tidak wajib. Tidak haram.

Jika dalam Al-Quran tidak ada, apakah Nabi Muhammad SAW melarang melakukan peringatan atas kelahiran beliau? Agaknya, tidak ada larangan secara spesifik dan khusus dalam hal ini. Bahkan, sebaliknya, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memperingati kelahiran beliau, yaitu dengan berpuasa pada hari Senin. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ.

Sungguh, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau berkata, “Pada hari Senin, aku dilahirkan. Pada hari Senin, aku diberi wahyu.” (HR. Muslim).

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW justru memperingati kelahirannya dengan melakukan ibadah puasa. Ini menjadi alasan mengapa beliau berpuasa pada hari Senin dalam hidupnya.

Jika Nabi Muhammad SAW sendiri tidak melarang peringatan kelahiran beliau, apakah para sahabatnya, membuat larangan-larangan? Agaknya akan sangat sulit ditemukan Riwayat yang menyebut bahwa Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib melarang seseorang memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adakah mereka melarang pelaksanaan puasa hari Senin? Tentu tidak akan pernah anda dengar.

Jika para sahabat Nabi tidak ada yang melarang seorang Muslim memperingati kelahiran Nabi Muhammad, apakah para ulama besar dari empat mazhab yang utama; Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris as-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal melarang peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW? Adakah dalam kitab-kitab mereka atau Riwayat-riwayat dari murid-murid mereka yang menyebut para imam mazhab melarang peringatan Maulid?

Jika para fukaha yang terkemuka tidak mengaramkan peringatan Maulid, apakah para ulama ahli hadis terkemuka seperti al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibnu Majah diriwayatkan pernah melarang peringatan kelahiran Nabi? Apakah kemudian mereka tidak meriwayatkan hadis-hadis yang menyebut Nabi berpuasa hari Senin sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kelahiran beliau? Ini agaknya sulit ditemukan dalam kitab-kitab hadis yang mereka susun.

Para imam ahli fikih dan ahli hadis, sampai abad keenam atau ketujuh hijriah tidak ada yang melarang peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ketika peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW bertransformasi menjadi kegiatan massal yang diikuti oleh masyarakat luas dan didukung oleh raja-raja, para ulama fikih juga tidak mengeluarkan larangan.

Imam al-Dzahabi (w. 748 H.) menceritakan dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala’ biografi Sultan Muzaffaruddin Abu Sa’id Kukburi bin Ali bin Bektakin bin Muhammad al-Turkimani (w. 630 H.), beliau adalah seorang raja Irbil, Irak yang tercatat membuat festival perayaan peringatan kelahiran Nabi. Menurut al-Suyuthi (w. 911 H.), ia adalah orang yang pertama kali mengadakan perayaan dalam peringatan maulid. Al-Dzahabi menulis,

وَأَمَّا احتفَاله بِالمَوْلِدِ فَيَقْصُر التَّعْبِيْر عَنْهُ؛ كَانَ الْخلق يَقصدُوْنَهُ مِنَ العِرَاقِ وَالجَزِيْرَة وَتُنْصَب قِبَاب خَشَب لَهُ وَلأَمرَائِهِ وَتُزَيَّن، وَفِيْهَا جوق المغَانِي وَاللّعب، وَيَنْزِل كُلّ يَوْمٍ العَصرَ فَيَقِف عَلَى كُلّ قُبَّة وَيَتفرج، وَيَعْمَل ذَلِكَ أَيَّاماً، وَيُخْرِجُ من البقر والإبل الغنم شَيْئاً كَثِيْراً فَتُنْحَر وَتُطْبَخ الأَلوَان، وَيَعْمَل عِدَّة خِلَع لِلصُّوْفِيَة، وَيَتكلَّم الوُعَّاظ فِي المَيْدَان، فَيُنفق أَمْوَالاً جَزِيْلَة. وَقَدْ جَمَعَ لَهُ ابْن دِحْيَة “كِتَاب المَوْلِد”، فَأَعْطَاهُ أَلف دِيْنَار. وَكَانَ مُتَوَاضِعاً، خَيِّراً، سُنِّيّاً، يُحبّ الفُقَهَاء وَالمُحَدِّثِيْنَ، وَرُبَّمَا أَعْطَى الشُّعَرَاء

Perayaan maulid Nabi yang dilakukan Malik Mudzafar ini tak mampu digambarkan dengan kata-kata. Umat Islam mendatanginya dari Iraq dan Jazirah. Dibuatkan tenda-tenda untuk beliau dan para pemimpin, dan dihias. Di sana ada suara syair dan permainan. Beliau mengunjungi setiap Ashar lalu berdiri di masing masing tenda dan merasa senang. Hal itu dilakukan selama beberapa hari. Ia mengeluarkan sangat banyak dari sapi dan unta, disembelih dan dimasak berbagai warna masakan. “Ia raja yang rendah hati, baik, Sunni (pengikut Ahlisunnah wal Jama’ah) dan mencintai ulama fikih dan ahli hadis.” Ia juga memberi hibah kepada para penyair. (Siyar A’lam al-Nubala’, jilid 16/246).

Membuat perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ternyata tidak hanya dilakukan oleh raja yang baik tersebut. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menulis dalam kitab al-Durar al-Kaminah Fi A’yan al-Mi’ah al-Tsaminah, biografi ulama yang mengadakan peringatan kelahiran Nabi dengan mengundang para ulama dan orang-orang saleh. Ia adalah Abu Bakr bin Ubaik al-Hissami (w. 756 H.). Karena sangat dihormati oleh penguasa saat itu, ia diberi hak mengatur tanah wakaf di Damaskus oleh Raja Tenkiz. Ia bahkan menjadi gubernur Damaskus selama kurang lebih 10 tahun. Imam Ibnu Hajar menyebut, kana ya’mal al-maulid fa yubalighu fi al-ihtifal fihi. Wa fihi tawaddada li al-‘ulama wa al-shulaha’ (Abu Bakr bin Ubaik mengadakan peringatan Maulid. Ia kemudian memeriahkan dengan mengadakan perayaan di dalamnya. Para ulama hadir dan orang-orang saleh hadir di dalamnya dengan penuh kasih sayang (jilid 1/hlm. 527).

Sekalipun para ulama pada abad ketujuh dan kedelapan hijriah tidak keberatan dengan peringatan dan perayaan, ada seorang ulama yang berbeda pendapat. Yaitu Syekh Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H.). Dalam kitab Majmu’ al-Fatawa, ia pernah ditanya seperti ini;

وَسُئِلَ: عَمَّنْ يَعْمَلُ كُلَّ سَنَةٍ خَتْمَةً فِي لَيْلَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ ذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ؟ أَمْ لَا؟ فَأَجَابَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، جَمْعُ النَّاسِ لِلطَّعَامِ فِي الْعِيدَيْنِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ سُنَّةٌ وَهُوَ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ الَّتِي سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُسْلِمِينَ وَإِعَانَةُ الْفُقَرَاءِ بِالْإِطْعَامِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ هُوَ مِنْ سُنَنِ الْإِسْلَامِ. فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” {مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ} وَإِعْطَاءُ فُقَرَاءِ الْقُرَّاءِ مَا يَسْتَعِينُونَ بِهِ عَلَى الْقُرْآنِ عَمَلٌ صَالِحٌ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَمَنْ أَعَانَهُمْ عَلَى ذَلِكَ كَانَ شَرِيكَهُمْ فِي الْأَجْرِ. وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ: إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنَ عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ أَوْ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنِ شَوَّالٍ الَّذِي يُسَمِّيهِ الْجُهَّالُ عِيدَ الْأَبْرَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ.

Dia ditanya tentang tentang orang yang setiap tahun mengadakan satu kali khataman Al-Quran pada malam kelahiran Nabi SAW. Apakah hal itu dianjurkan atau tidak? Ibnu Taimiyyah menjawab: Segala puji bagi Allah. Mengumpulkan masyarakat untuk makan-makan pada hari raya idulfitri dan iduladha dan hari tasyrik adalah sunnah. Itu adalah syiar Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umat Islam. Dan ia merupakan bentuk pertolongan bagi kaum fakir dengan memberi mereka makan pada bulan Ramadan. Ia adalah sunnah dalam Islam. Nabi SAW mengatakan, “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, dia dapat pahala semisal pahala puasa”. Memberi kaum fakir yang ahli membaca Al-Quran sesuatu yang adapt menolong mereka dalam menjaga al-Quran adalah amal saleh setiap waktu. Barang siapa yang menolong mereka, ia bersekutu dengan mereka dalam pahala. Sedangkan menjadikan satu waktu selain waktu yang ditentukan oleh syariat, seperti malam-malam bulan Rabiul Awwal, yang disebut malam Maulid. Atau sebagian malam bulan Rajab, atau 10 Dzulhijah, atau awal jumat bulan Rajab, atau  8 Syawal, yang disebut oleh orang-orang bodoh sebagai Idul Abrar, sesunggunya, itu semua adalah bid’ah yang kaum salaf tidak menganjurkannya, tidak melakukannya. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam. (Majmu al-Fatawa, jilid 25, hlm. 298).

Dalam bagian lain Majmu’ al-Fatawa, Syekh Ibnu Taimiyyah menyebut bahwa secara konsisten merayakan Maulid setiap tahun adalah makruh. Syekh Ibnu Taimiyyah menulis,

 فَلَوْ أَنَّ قُومَا اجْتَمَعُوا بَعْضَ اللَّيَالِي عَلَى صَلَاةِ تَطَوُّعٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَّخِذُوا ذَلِكَ عَادَةً رَاتِبَةً تُشْبِهُ السُّنَّةَ الرَّاتِبَةَ لَمْ يُكْرَهْ. لَكِنَّ اتِّخَاذَهُ عَادَةً دَائِرَةً بِدَوَرَانِ الْأَوْقَاتِ مَكْرُوهٌ لِمَا فِيهِ مِنْ تَغْيِيرِ الشَّرِيعَةِ وَتَشْبِيهِ غَيْرِ الْمَشْرُوعِ بِالْمَشْرُوعِ. وَلَوْ سَاغَ ذَلِكَ لَسَاغَ أَنْ يَعْمَلَ صَلَاةً أُخْرَى وَقْتَ الضُّحَى أَوْ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ أَوْ تَرَاوِيحَ فِي شَعْبَانَ أَوْ أَذَانًا فِي الْعِيدَيْنِ أَوْ حَجًّا إلَى الصَّخْرَةِ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَهَذَا تَغْيِيرٌ لِدِينِ اللَّهِ وَتَبْدِيلٌ لَهُ. وَهَكَذَا الْقَوْلُ فِي لَيْلَةِ الْمَوْلِدِ وَغَيْرِهَا.

Jika sekelompok orang berkumpul pada sebagian malam untuk shalat sunnah tanpa menjadikannya kebiasaan yang berturut-turut yang menyerupai sunnah ratibah, maka ia tidak dimakruhkan. Tetapi, menjadi amalan tersebut kebiasaan yang berulang setiap waktu, adalah makruh. Kerena di dalamnya terdapat pengubahan atas syariat Allah, menyerupakan sesuatu yang tidak disyariatkan dengan apa yang disyariatkan. Jika hal semacam itu dibolehkan, niscaya boleh mengamalkan shalat lain pada waktu Dhuha, atau antara zuhur dan asar, atau tarawih pada bulan Sya’ban, atau azan pada hari raya idulfitri dan iduladha, atau berhaji ke Sakhrah di Masjidil Aqsa. Ini adalah bentuk pengubahan agama Allah dan penggantian ajarannya. Seperti itu pula pendapat untuk masalah malam maulid nabi, dan lainnya. (Majmu’ al-Fatawa, jilid 23, hlm. 133).

Sampai abad ini, hanya ada fatwa tentang kemakruhan memperingati maulid atau merayakan maulid. Yaitu yang dikeluarkan oleh Syekh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H.). Sejatinya, ia tidak mempermasalahkan isi kegiatan peringatan maulid. Hanya saja dia menilai makruh jika hal itu dilakukan secara terus-menerus. Syekh Ibnu Taimiyyah sejatinya menilai baik substansi peringatan maulid, yaitu mengagungkan Nabi. Ia mengatakan dalam kitab Iqtidha’ Shirath al-Mustaqim,

فتعظيم المولد، واتخاذه موسمًا، قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم، كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس، ما يستقبح من المؤمن المسدد.

Maka mengagungkan kelahiran Nabi, dan membuatnya sebagai perayaan, terkadang dilakukan sebagian orang. Ia mendapat pahala besar karena niat baiknya dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana saya jelaskan kepadamu bahwa bagi sebagian orang bagus melakukan suatu amalan yang bagi seorang mukmin yang benar amalan tersebut adalah buruk. (Iqtisha’ Shirath al-Mustaqim, jilid 2, hlm. 126)

Kecenderungan negatif pada peringatan maulid, dengan melihatnya sebagai bid’ah dan makruh, menjadi semakin kuat pada abad ke-19 ketika muncul Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri aliran Wahabi di Jazirah Arab, dimana ia dan keturunannya mendukung pemikiran Syekh Ibnu Taimiyyah. Syekh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab (1165-1244 H./1751-1828 H.), anak Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menulis sebuah surat berisi kebijakannya terhadap budaya keagamaan di kota Mekah,  setelah kaum Wahabi berhasil menakhlukkannya (Risalah al-Syaikh Abdullah Alu Al-Syaikh ‘Inda Ma Dakhalu Makkata),

فمن البدع المذمومة التي ننهى عنها: رفع الصوت في مواضع الأذان بغير الأذان، سواء كان آيات، أو صلاة على النبي صلى الله عليه وسلم أو ذكرا غير ذلك بعد أذان، أو في ليلة الجمعة، أو رمضان، أو العيدين، فكل ذلك بدعة مذمومة. وقد أبطلنا ما كان مألوفا بمكة، من التذكير، والترحيم، ونحوه، واعترف علماء المذاهب أنه بدعة ; ومنها: قراءة الحديث عن أبي هريرة بين يدي خطبة الجمعة، فقد صرح شارح الجامع الصغير بأنه بدعة. ومنها: الاجتماع في وقت مخصوص على من يقرأ سيرة المولد الشريف، اعتقادا أنه قربة مخصوصة مطلوبة، دون علم السير، فإن ذلك لم يرد.

Di antara bid’ah yang tercela yang kami larang adalah mengeraskan suara bacaan selain azan di tempat-tempat azan. Baik itu bacaan ayat Al-Quran, shalawat atas Nabi, dzikir selain itu setelah azan. Atau pada malam jumat, atau bulan Ramadan, atau hari raya idulfitri dan iduladha, semua itu bid’ah tercela. Kami telah mengeluarkan instruksi untuk membatalkan apa yang sudah menjadi kebiasaan di Mekah, seperti bacaan tadzkir, tarhim, dan sejenisnya. Ulama-ulama mazhab mengakui bahwa itu adalah bid’ah. Di antara bid’ah tercela itu adalah membaca hadis Riwayat Abu Hurairah sebelum khutbah Jumat. Penulis Syarah Jami’us Shaghir menilai amalan tersebut bid’ah. Di antara bid’ah adalah berkumpul pada waktu tertentu untuk membaca sejarah kelahiran Nabi yang mulia, dengan keyakinan bahwa hal itu adalah ibadah yang dianjurkan, tanpa ilmu sirah nabawiyah, itu semua tidak memiliki dasar dalam agama. (Al-Durar al-Saniyyah Fi al-Ajwibah al-Najdiyyah, 1/137).

Berangkat dari teks ini, dipahami bahwa menurut ulama Wahabi ini, mengadakan peringatan maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) yang dilarang dalam agama Islam.

Syekh Abdurrahman bin Hasan (1193-1285 H./1779-1868 M.), cucu Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab lainnya mengatakan,

سئل الشيخ عبد الرحمن بن حسن: عما يخص به يوم المولد من النحر، وما يفعل في السابع والعشرين من رجب من تخصيصه بالصوم والنحر، وما يفعل في ليلة النصف من شعبان من النحر وصيام اليوم، وما يخص به يوم عاشوراء من النحر؟ فأجاب: هذه الأمور المذكورة من البدع، كما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه، فهو رد “

Syekh Abdurrahman bin Hasan ditanya tentang penyembelihan hewan pada hari maulid Nabi, dan mengkhususkan ibadah puasa dan menyembelih hewan pada 27 Rajab, dan yang dilakukan pada malam nisfu sya’ban, dan hari Asyura’. Beliau menjawab, semua perkara yang disebutkan itu adalah bid’ah. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Nabi SAW, barang siapa menambah perkara baru dalam agama kami, yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak. (Al-Durar al-Saniyyah Fi al-Ajwibah al-Najdiyyah, jilid 5, hlm. 360)

Syekh Abdullah bin Muhammad bin Humaid (1329-1402 H./1911-1982 M.), menulis;

وقال الشيخ عبد الله بن محمد بن حميد، رحمه الله: المولد النبوي الشريف اعتاد كثير من الناس، في مثل هذا الشهر، شهر ربيع الأول من كل سنة، إقامة الحفلات الرائعة، لذكرى مولد الرسول صلى الله عليه وسلم، وذلك ليلة الثانية عشر منه، قائلين: إنه عبارة عن إظهار الشكر لله عز وجل على وجود خاتم النبيين وأفضل المرسلين، بإظهار السرور بمثل اليوم الذي ولد فيه صلى الله عليه وسلم، وبما يكون فيه من الصدقات والأذكار. فنقول: لا شك أنه سيد الخلق وأعظمهم، وأفضل من طلعت عليه الشمس; ولكن لماذا لم يقم بهذا الشكر أحد من الصحابة، والتابعين؟ ولا الأئمة المجتهدين، ولا أهل القرون الثلاثة الذين شهد لهم الرسول صلى الله عليه وسلم بالخير؟ مع أنهم أعظم محبة له منا، وهم على الخير أحرص، وعلى اتباعه أشد. بل كمال محبته وتعظيمه، في متابعته وطاعته، واتباع أمره، واجتناب نهيه، وإحياء سنته ظاهرا وباطنا، ونشر ما بعث به، والجهاد على ذلك، بالقلب واليد واللسان؛ فإن هذه هي طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار، والذين اتبعوهم بإحسان، لا في إقامة تلك الحفلات المبتدعة، التي هي من سنن النصارى. فإنه إذا جاء الشتاء في أثناء كانون الأول، لأربع وعشرين خلت منه، بزعمهم أنه ميلاد عيسى، عليه الصلاة والسلام، أضاؤوا في ذلك الكهرباء، وصنعوا الطعام، وصار يوم سرور وفرح عندهم. وليس في الإسلام أصل لهذا؛ بل الإسلام ينهى عن مشابهتهم، ويأمر بمخالفتهم…ومعلوم أن كل بدعة يتعبد بها أصحابها، أو تجعل من شعائر الدين، فهي محرمة، ممنوعة،

Banyak orang yang membiasakan pada bulan Rabiul Awwal setiap tahun mengadakan perayaan yang meriah untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Itu pada malam ke-12 Rabiul Awwal. Mereka mengatakan, perayaan itu adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah atas lahirnya pamungkas para nabi dan nabi paling utama, dengan menampakkan kebahagiaan terhadap hari ini, yang mana beliau dilahirkan, dan dengan sedekah dan zikir. Kami katakan, tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad adalah tuan sekalian makhluk dan makhluk paling agung. Ia adalah manusia paling utama yang disinari matahari. Tetapi, kenapa tidak ada seorang sahabat dan tabiin pun yang bersyukur seperti ini? Tidak pula para imam mujtahid. Tidak pula orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama yang disebut Rasulullah sebagai masa penuh kebaikan? Serta mereka lebih besar kecintaannya kepada beliau disbanding kita. Mereka lebih semangat melakukan kebaikan. Lebih kuat dalam mengikuti Nabi. Bahkan, kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi, adalah berada dalam mengikuti dan mentaati beliau. Mentaati perintah beliau, dan menjauhi larangannya. Menghidupkan sunnahnya yang lahir dan yang batin. Dan menyebarkan apa yang diajarkannya. Berjihad untuk menegakkan itu dengan hati, tangan dan lisan. Ini adalah jalan orang-orang terdahulu dari kaum muhajirin dan anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, tidak megnadakan perayaan yang bid’ah itu, yang mana itu merupakan tradisi orang-orang Nasrani. Karena pada musim semi pada pertengahan Januari, tanggal 24, mereka mengira itu adalah hari kelahiran Isa.  Mereka menyalakan listrik. Memasak makanan. Itu menjadi hari kebahagiaan menurut mereka. Tidak ada dalam Islam dasar untuk amaliah semacam ini. Bahkan, Islam melarang menyerupai mereka. Dan memerintahkan menyelisihi mereka. .. dan Maklum bahwa setiap bid’ah yang dijadikan sarana beribadah pengikutnya atau dijadikan syiar agama, ia adalah bid’ah yang diharamkan dan terlarang. (Majalah al-Hajj, Rabiul Awwal tahun 1376 H.) (Al-Durar al-Saniyyah fi al-Ajwibah al-Najdiyyah, jilid 16, hlm. 104-105).

Dengan demikian pertanyaan “Sejak Kapan Peringatan Maulid Nabi SAW Dibilang Bid’ah yang Diharamkan” dapat dijawab bahwa pelarangan maulid Nabi itu muncul pada abad ke-19. Di tangan para ulama Wahabi dari Saudi.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...