Sejarah Al-Quran, Definisi dan Varian-Varian Kecenderungan Di Dalamnya

0
147
Sejarah Al-Quran, Definisi dan Varian-Varian Kecenderungan Di Dalamnya

Harakah.idAl-Quran telah memasuki ruang historis dunia manusia. Ia, terlepas dari dimensi metafisikanya, telah dikaji oleh pikiran manusia. Bukan hanya oleh mereka yang beriman kepada Al-Quran, tetapi juga oleh orang-orang yang tidak percaya padanya.

Al-Quran merupakan kitab suci yang diyakini oleh umat Islam sebagai kata-kata Tuhan. Bagaimana pun, Al-Quran telah memasuki ruang historis dunia manusia. Ia, terlepas dari dimensi metafisikanya, telah dikaji oleh pikiran manusia. Bukan hanya oleh mereka yang beriman kepada Al-Quran, tetapi juga oleh orang-orang yang tidak percaya padanya.

Kajian terhadap Al-Quran, salah satunya adalah Tarikh Al-Quran atau Sejarah Al-Quran. Sejarah Al-Quran telah menjadi disiplin keilmuan yang berkembang pesat dalam studi tentang Islam. Berbagai temuan dan kesimpulan disajikan dalam panggung sejarah pengkajian. Ini adalah tulisan tentang sejarah Al-Quran, definisi dan varian-varian kecenderungan di dalamnya.

Definisi Tarikh

Tarikh Al-Quran berarti sejarah Al-Quran. Kata Tarikh berasal dari kata kerja Arrakha-Yu’arrikhu-Ta’rikhan-Mu’arrikh yang berarti menentukan waktu suatu peristiwa. Dalam kamus Al-Mu’jam Al-Wasith misalnya, ada contoh kalimat arrakha al-kitab yang berarti haddada tarikhahu (menentukan waktu peristiwa). Arrakha al-haditsa yang berarti fashshala tarikhahu wa haddada waqtahu (merinci peristiwa dan menentukan waktu kejadiannya).

Sedangkan kata tarikh, dalam bahasa Arab, merupakan bentuk nomina (kalimah isim). Dalam kamus Mu’jam Al-Wasith, disebutkan pengertian tarikh sebagai berikut:

جملة الأَحوال والأحداث التي يمر بها كائن ما، ويَصْدق على الفرد والمجتمع، كما يصدق على الظواهر الطبيعية والإنسانية

Sekumpulan peristiwa dan kejadian yang dilalui oleh sebuah subyek. Subyek itu bisa seorang individu atau sekumpulan orang (kelompok, masyarakat). Baik kejadian itu adalah fenomena alam maupun kemanusiaan (Al-Mu’jam Al-Wasith).

Dalam perkembangannya, tarikh telah dipelajari sehingga memiliki metode, kaidah, dan prinsip-prinsip. Tarikh menjadi disiplin keilmuan. Dalam hal ini, Al-Mu’jam Al-‘Arabiyyah Al-Mu’ashir mengartikan ilmu tarikh sebagai berikut:

«علم التاريخ» : علم يبحث في ماضي الشعوب وحاضرها، فيسرد الوقائع ويحللها، ويدرس حياة الأفراد وأحوال الجماعات.

Ilmu Tarikh adalah ilmu yang membahas tentang masa lalu dan masa sekarang sebuah bangsa/masyarakat. Ia menampilkan kejadian-kejadian dan menganalisisna. Mengkaji kehidupan individu dan kondisi masyarakat. (Mu’jam Al-’Arabiyyah Al-Mu’ashir)

Definisi Al-Quran

Kata Al-Quran diambil dari kata Qara’a-Yaqra’u-Qira’atan wa Qur’anan yang berarti bacaan. Secara terminologi, Al-Quran berarti kalamullah al-munazzal ‘ala nabiyina muhammad al-maktub fi al-mashahif al-manqul ilaina naqlan tawaturan al-muta’abbad bi tilawatihi al-mutahadda bi aqshari suratin minhu. Artinya, kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam Mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir, yang bernilai ibadah dengan membacanya, dan dapat menjawab tantangan lawannya dengan satu suratnya. (Irsyad Al-Fuhul, hlm. 29).

Definisi Tarikh Al-Quran

Dari pengertian ini, dapat dipahami bahwa yang dimaksud Al-Quran adalah apa yang tertuang dalam Mushaf. Artinya, yang disebut Al-Quran di sini adalah dimensi materil Al-Quran. Bukan dimensi metafisika yang merupakan sifat Allah atau yang diyakini masih berada di Lauh Mahfuzh. Tarikh atau Sejarah Al-Quran, dengan demikian merujuk kepada dimensi fisik ini. Tarikh Al-Quran berarti,

تاريخ القرآن هو عملية وضع نشأة القرآن في السياق التاريخي.

Tarikh Al-Quran adalah upaya meletakkan perkembangan Al-Quran dalam konteks sejarah.

Sejarah Al-Quran Menurut Muslim

Materi Tarikh al-Qur’an atau Sejarah al-Qur’an, merupakan bagian dari ‘Ulum al-Qur’an. Secara konvensional, sejarah al-Quran biasanya dikaji di bawah judul Jam‘ al-Qur’an, atau Rasm al-Qur’an, atau Kitabah al-Qur’an, atau Tashhif al-Qur’an dan berbagai istilah lainnya. (Quraish Shihab, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, hlm. iii).

Belakangan muncul karya khusus tentang tarikh al-Quran. Bebepara ulama penulis sejarah Al-Quran di antaranya : al-Anbari dengan al-Mashahif, al-Sijistani dengan kitab Kitab al-Mashahif, al-Abyari melalui karyanya Tarikh al-Qur’an, dan al-Zanjani dalam kitab Tarikh al-Qur’an.

Sejarah Al-Quran Menurut Barat

Para sarjana Barat yang konsern terhadap kajian Al-Quran; Abraham Geiger (1810-1874), Gustave Weil (1808-1889), William Muir (1819-1905), Theodor Nӧldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (w. 1919), Edward Sell (1839-1932), Hartwig Hirscfeld (1854-1934), David S. Margoliouth (1858-1940), W.St. Clair-Tisdall (1859-1928), Louis Cheikho (1859-1927), Paul Casanova (1861-1926), Julius Wellhausen (1844-1918), Charles Cutley Torrey (1863-1956), Leone Caetani (1869-1935), Joseph Horovits (1874-1931), Richard Bell (1876-1953), Alphonse Mingana (1881-1937), Israel Schapiro (1882-1957), Siegmund Fraenkel (1885-1925), Tor Andrae (1885-1947), Arthur Jeffery (1893-1959), Regis Blachere (1900-1973), W. Montgomery Watt, Kenneth Cragg, John Wansbrough (1928-2002), S.M. Zwemmer, Andrew Rippin, C. Luxenberg, Danial A. Madigan, Harald Motzki, dan lain-lain. (Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an: Kajian Kritis, 2007).

Di kalangan orientalis, kajian terhadap Al-Qur’an mulai menarik perhatian di Barat ketika Theodor Nӧldeke (1836-1930) menulis buku sejarah Al-Qur’an (Geschichte des Qorāns) yang kemudian diterbitkan pada tahun 1860 oleh Universitas Gottingen, Jerman. Theodor Noldeke, seorang dilahirkan di wilayah Kerajaan Prusia (Jerman-Austria). Ia adalah Ahli tentang bahasa-bahasa  Semit. Disertasinya berjudul Geschicte Des Qorans (1860), artinya dianggap kajian sejarah Al-Quran. Karyanya mendapat respon dari berbagai kalangan, termasuk umat Islam.Umat Islam mulai memperhatikan kajian sejarah Al-Quran lebih serius.

Tiga Kecenderungan Pengkaji Sejarah Al-Quran

Perkembangan kajian sejarah Al-Quran saat ini dapat digolongkan dalam tiga kecenderungan; Tradisionalis, Revisionis dan Apologis. Kecenderungan tradisional mewakili kecenderungan umat Islam yang berakar pada khazanah keilmuan Islam klasik. Umumnya didasarkan kepada metode riwayat. Ada kepercayaan bahwa Al-Quran berakar pada sejarah yang sudah selesai, lengkap, dan jelas.

Revisionis memandang tarikh Al-Quran problematik. Pendekatan yang digunakan biasanya adalah kritik sejarah. Ada kecenderungan skeptik terhadap sejarah Al-Quran. Ia, misalnya, meragukan orisinalitas Al-Quran. Kecenderungan revisionis ini menarik munculnya kecenderungan apologis dimana, ia berusaha menunjukkan bahwa Al-Quran memiliki sejarah yang jelas. Ia menolak anggapan kaum revisionis.