Beranda Sejarah Sejarah Asal-Usul Gerakan Paderi di Sumatera Barat

Sejarah Asal-Usul Gerakan Paderi di Sumatera Barat

Harakah.idKeberadaan kelompok Paderi diduga kuat akibat pengaruh dari paham Wahabi yang dibawa oleh 3 orang haji yaitu: Haji Piobang, Haji Miskin dan Haji Sumanik dari Mekah awal abad ke-19.

Gerakan Paderi adalah: suatu gerakan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh agama dan sekelompok masyarakat yang melakukan serangkaian gerakan pemurnian ajaran Islam pada awal abad ke-19 mulai tahun 1803-1821. Kelompok ini mengatasnamakan sebutan kelompok putih atau kelompok masyarakat Paderi. Kelompok ini memisahkan diri kelompok masyarakat adat hingga muncul perkampungan baru di daerah Bonjol.

Latar belakang munculnya golongan Paderi

Keberadaan kelompok Paderi diduga kuat  akibat pengaruh dari paham Wahabi yang dibawa oleh 3 orang haji yaitu: Haji Piobang, Haji Miskin dan Haji Sumanik dari Mekah awal abad ke-19. Saat ke Mekah, merekamelihat secara langsung bagaimana kaum Wahabi menghancurkan sumber-sumber kemusyrikan dan melancarkan dakwahnya dengan cara radikal. 

Ketika mereka kembali ke kampung halaman mereka melihat kehidupan beragama yang rusak, dikotori praktik-praktik yang tidak sesuai ajaran Islam seperti : berjudi, merampok hingga tidak menunjukan doa kepada Allah, tetapi melalui tempat-tempat yang dianggap keramat. Melihat kondisi masyarakat Minangkabau tersebut mendorong mereka melakukan gerakan serupa  seperti yang dilihat saat di Mekah kemudian dikenal dengan nama gerakan Paderi. 

Ada  3 faktor kemunculan gerakan Paderi di Sumatera Barat diawal abad ke-19. Pertama faktor agama seperti yang diungkap Schrieke dalam bukunya Pergolakan Agama di Sumatera Barat 1974. Schrieke menyebut munculnya Paderi sebagai suatu  reaksi Islam yang begitu ketat terhadap unsur-unsur bukan Islam. Gerakannya radikal dan revolusioner, dipandang suatu gerakan reformisme atau pemurnian dalam agama. Munculnya gerakan Paderi di Sumatera Barat, karena tidak adanya tempat yang memuaskan bagi agama-agama dalam kehidupan sosial seperti kaum adat, sehingga menimbulkan revolusi dari kaum intlektual agama. 

Kedua faktor sosial politik menurut Murodi dalam bukunya Melacak Asal-Usul Gerakan Paderi di Sumatera Barat, karena masyarakat Minangkau tidak mampu menetapkan aturan-aturan dan hukum yang mapan. Selain itu, segala keputusan diserahkan kepada penghulu adat tanpa melibatkan kaum agama. Ketiga faktor ekonomi seperti  diungkapkan C. Dob-bin yang menyebut meningkatnya kehidupan ekonomi Minangkabau, karena hasil perkebunan dan pertanian melimpah dari padi hingga tembakau. Dari hasil pertanian dan perkebunan orang Minang dapat menuaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Mereka dapat mengetahui perubahan yang terjadi di luar Indonesia yaitu Mekah. 

Tokoh-Tokoh Paderi

Gerakan Paderi didirikan oleh tokoh-tokoh yang dipandang sebagai panutan dalam masyarakat. Keberadaan tokoh memiliki peran penting mengingat gerakan Paderi pada masyarakat Minangkabau menghadapi banyak tantangan terutama dari kalangan masyarakat yang ingin mempertahankan status Quo, yaitu kelompok adat atau penghulu. Tokoh Paderi tersebut memiliki kharisma tinggi dan berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau yaitu: Tuanku Koto Tuo. Tuanku Koto Tuo terkenal ahli ilmu fiqh. Tokoh Minangkabau yang juga memiliki pengaruh yaitu Tuanku Nan Renceh. 

Tuanku Nan Renceh salah satu murid dari Tuanku Koto Tuo yang pintar dan disayang gurunya. Sekembalinya ke kampung halaman, Ia menjadi guru agama. Saat dikampung inilah Ia menyaksikan penyimpangan yang terjadi masyarakat. Ia berupaya melakukan perubahan gerakan reformasi keagamaan, namun selalu terhambat sikap dan perilaku dari para penghulu adat. 

Masuknya Paham Gerakan Paderi di Sumatera Barat

Bantuan dari Tuanku Mensiangan, seorang alim dari kota Lawas, hambatan itu dapat teratasi. Tuanku Mensiangan bersedia membantu dan mewujudkan melakukan gerakan reformasi keagamaan yang dilancarkan Tuanku Nan Renceh bersama ketiga orang haji yaitu: Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Simanik. 

Semenjak itu, menjadi awal masuknya paham Wahabi ke Sumatera Barat. Berbekal ilmu yang didapat saat berkunjung ke Mekah melihat langsung gerakan yang dilakukan Wahabi. Mereka kemudian mempraktikannya hal serupa saat kembali ke tanah kelahiran tahun 1803. Mereka  memperkertat pengawasan terhadap aturan-aturan agama di pusat kerajaan Minangkabau. 

Hal ini dilakukan menurut mereka, masyarakat Minangkau  telah banyak terjadi penyimpangan ajaran Islam dan lainnya. Langkah awal merealisasikan gerakan tersebut,  mereka memberikan bimbingan, pengajaran agama Islam kepada masyarakat. Mereka sambil mengajarkan agama tidak lupa menyelipkan tentang paham baru yang mereka akan kembangkan. 

Perlahan tapi pasti paham Wahabi masuk ke Sumatera Barat berkat bantuan penghulu bernama Kuncir bergelar Datuk Batuah. Haji Miskin melarang orang Pandai  Sikat melarang menyambung ayam. Ia mencoba menerapkan ajaran murni. Memberikan doktrin agama Islam yang mampu membangkitkan semangat keagamaan masyarakat Minangkabau. Menghilangkan semua ajaran bid’ah dan khurafat yang hampir sama  seperti ajaran  yang diberikan oleh Wahabi. 

Semula ajaran ini berkembang dikalangan tertentu saja terutama daerah Koto Tuo dan Mansiangan. Melihat kondisi kehidupan  keagamaan yang makin parah , tetapi lambat laun ajaran tersebut berkembang pesat. Waktu itulah dimanfaatkan sekelompok ulama melakukan penyebaran ajaran baru dan akhirnya membentuk komunitas baru, yang disebut Kaum Putih atau terkenal dengan nama Kaum Paderi. Mereka memiliki peranan penting proses gerakan reformasi agama di wilayah Sumatera Barat. 

Pengaruh Wahabi dalam Aksi Kaum Paderi

Diketahui masyarakat Minangkabau memiliki struktuk sosial sendiri. Di mana disetiap kampung orang-orang sesama suku tunduk pada penghulunya. Para suku menurut Murodi dalam bukunya Melacak Asal-usul Gerakan Paderi di Sumatera Barat hal: 99 diangkat menurut hak kelahiran dan wajib menjaga, membela, mengurus kepentingan sukunya. Pemerintahan  kampung dipegang oleh rapat kepala suku. 

Semua Datuk di kampung tersebut berhak memilih kepada nagari dan pemerintahan sehari-hari dijalankan kepala nagar. Semua keputusan yang berkaitan dengan masyarakat sekampung itu, ditentukan dalam rapat para penghulu. Rapat biasanya diadakan di Balairiung, tempat musyawarah masyarakat Minangkabau. Namun sejak adanya sentralisasi masalah sengketa atau perkelahian raja Paraguyung tidak berhak menyelesaikannya hingga akhirnya ketidakstabilan politik berujung kekacauan dalam nagari.  

Inilah paham baru yang disebarkan Haji Miskin dan kedua temannya itu. Paham tersebut mendapatkan tantangan dari pelbagai penghulu adat dan sebagian masyarakat Islam, karena dianggap menghilangkan adat kebiasaan yang telah lama mendarah daging. Kekuasaan para penghulu akan hilang, karena pengaruh mereka disaingi oleh para tokoh agama tersebut.

Seperti dibahas sebelumnya gerakan yang dibawa 3 haji sepulangnya dari Mekah Paham baru yang dibawa kaum Paderi seperti yang dijelaskan oleh  Tuanku Nan Renceh pada pidato di lapangan terbuka yang dihadiri para ulama hingga para penghulu adat, sebagaimana dikatakan  Murodi dalam  bukunya berjudul Melacak asal-usul Gerakan Paderi di Sumatera Barat  tahun 1999 hal:108-109   menyebutkan ada beberapa perintah dan larangan setidaknya ada 11 poin antara lain:harus memakai pakaian serba putih sebagai tanda menganut paham baru, laki-laki harus memanjangkan jenggot hingga dilarang mengisap madat,  menyambung ayam judi dan dilarang meminta-minta di kuburan  hingga dilarang pakai berbagai azimat. 

Terjadi pro dan kontra atas peraturan yang dibuat oleh kaum Paderi. Pro berasal dari  kelompok agama dan ulama. Kontra atau tidak setuju datang dari ulama yang moderat seperti Tuanku Koto Tuo dan kelompok kaum adat. Mereka tidak  bisa berbuat banyak dan tidak berani mengambil resiko terlalu besar. Bersikap menolak berarti ancaman, dan menerima bisa berarti mengkhianati adat leluhur dan mengubah sistem kemasyarakatan yang berjalan puluhan tahun. 

Salah satu gerakan Paderi seperti yang dilakukan oleh Haji Miskin di Pandai Sikat dengan melakukan dakwah mengajak masyarakat menjahui perbuatan judi, menyambung ayam. Aksi dakwah Haji Miskin tidak mendapat perhatian dari masyarakat setempat, bahkan ada yang berusaha menggagalkannya membuat emosinya tak terbendung, akhirnya Ia membakar balai adat tempat berlangsungnya adu ayam, judi. 

Dari sinilah awal gerakan Paderi di Minangkabau, Sumatera Barat dimulai. Berbagai  gerakan terus dilakukan oleh 3 haji dari Minangkabau yang baru saja pulang dari Mekah hingga mencapai puncaknya terjadi  perang Paderi yang melibatkan Belanda dalam peristiwa ini. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...