Beranda Sejarah Sejarah Awal Konflik Palestina-Israel, Anti-Semit, Nasionalisme Yahudi dan Nasionalisme Arab

Sejarah Awal Konflik Palestina-Israel, Anti-Semit, Nasionalisme Yahudi dan Nasionalisme Arab

Harakah.id Konflik antara Palestina dan Israel terjadi sejak pendirian Negara Israel pada 1948 M. Namun, akar-akarnya sudah muncul sejak tahun 1920-an, atau bahkan lebih awal. Konflik keduanya berakar pada semangat anti-semit, nasionalisme Yahudi dan nasionalisme Arab.

Konflik antara Palestina dan Israel terjadi sejak pendirian Negara Israel pada 1948 M. Namun, akar-akarnya sudah muncul sejak tahun 1920-an ketika kawasan Palestina masih menjadi wilayah mandatori Inggris. Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris setelah menang melawan Jerman-Turki Usmani.

Untuk memenangkan perang, Inggris menggalang berbagai pihak –salah satunya komunitas Yahudi internasional. Inggris berjanji akan memberi tanah nasional untuk mereka. Janji itu sangat menggiurkan bagi komunitas Yahudi yang selama berabad-abad mereka tidak punya tanah air dan seringkali menjadi korban persekusi bangsa-bangsa tempat mereka bermukim. Rupanya, Inggris telah merancang rencana jika berhasil memenangkan perang dunia I, maka Inggris akan memberikan Palestina kepada komunitas Yahudi internasional.

Kemunculan Yahudi Internasional ini tidak dapat dilepaskan dari keprihatinan terhadap ras mereka yang mengalami diaspora ke berbagai kawasan karena penindasan. Dari Palestina –tempat yang diyakini sebagai muasal bangsa Yahudi, mereka menyebar ke Timur Tengah, Eropa Timur dan Tengah, dan Amerika. Beberapa di antaranya ada di kawasan Eropa Barat dan Afrika. Sekalipun bangsa Yahudi telah memiliki keyakinan tanah leluhur yang dijanjikan Tuhan untuk mereka, tetapi pembicaraan intensif yang membicarakan tanah air mulai terjadi secara massif pada abad ke-19. Sebagai bangsa mereka butuh negara.

Pada saat bersamaan, semangat nasionalisme di berbagai negara tumbuh subur. Termasuk nasionalisme Arab. Beberapa wilayah yang menjadi kawasan Turki Usmani di Arab, seperti Palestina, Suriah, Lebanon dan Mesir, muncul gerakan-gerakan yang membawa semangat nasionalisme Arab. Mereka memandang keberadaan Turki Usmani lebih sebagai penjajah yang menguasai tanah dan bangsa Arab. Gerakan nasionalis inilah yang pada Perang Dunia I dimanfaatkan Inggris untuk mengurai kekuatan Turki Usmani di kawasan Arab.

Bangsa Yahudi mulai secara intensif membicarakan pentingnya negara nasional sejak 1859 hingga 1880. Hal ini dianggap penting karena tekanan yang dihadapi bangsa Yahudi di berbagai kawasan, terutama di Eropa dan Rusia, dimana terdapat gerakan memusuhi orang-orang Yahudi dan anti-semitisme. Pada 1897, organisasi Zionisme lahir sebagai puncak dari gerakan politik yang mengusung nasionalisme Yahudi. 

Organisasi Zionisme Dunia dan Dana Nasional Yahudi

Dua organisasi yang menjadi pendukung utama migrasi bangsa Yahudi ke Palestina adala Zionisme Internasional dan Dana Nasional Yahudi. Mereka membeli tanah di Palestina dan sekitarnya –yang masih berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebagai tahap awal pembentukan negara bangsa Yahudi.

Kontak Fisik Pertama

Setelah terbentuk beberapa pemukiman Yahudi, terjadi kasus penembakan yang konon bentuk ketidaksengajaan, pada 1882. Seorang penjaga Yahudi di Pemukiman Rosh Pinna menembak seorang pria Arab di pesta pernikahannya. Sebagai respon terharap penembakan itu, tidak kurang dari 200 orang Arab mendatangi pemukiman. Mereka melempari batu dan merusak properti.

Kontak fisik lain terjadi di Petah Tikva, pada 1886. Petah Tikva merupakan pemukiman Yahudi imigran lain yang ada di kawasan Palestina. Para pemukim Yahudi meminta para penyewa –mungkin Arab atau Yahudi-Arab, untuk mengosongkan lahan. Tetapi para penyewa enggan menuruti keinginan pemukim. Pada 28 Maret 1886, seorang pemukim melewati kawasan ini. Yahudi-Arab merampas kudanya. Lalu ada pula kasus dimana para pemukim merampas Bagal miliki orang Arab di kawasan ini. Para pemukim menolak mengembalikan Bagal. Akhirnya, sejumlah orang Arab dari desa datang menghancurkan properti, membawa bagal dan melukai sejumlah orang.

Pada 1908, tiga belas orang Yahudi pemukim dibunuh oleh sejumlah orang Arab. Lima tahun berikutnya, pembunuhan terhadap pemukim Yahudi semakin sering terjadi. Terutama terhadap para penjaga pemukiman.Komunitas pemukim pun mulai membentuk pembicaraan yang mengarah kepada “kebencian” dan “nasionalisme Arab” sebagai faktor yang melatarbelakangi serangan terhadap komunitas mereka.

Kedatangan para imigran dari Eropa dan Rusia telah menciptakan kekhawatiran lebih jauh bagi penduduk Arab lokal. Konflik antara pemilik tanah Yahudi dan penyewa Arab telah menjadi kekhawatiran tersendiri bagi penguasa Turki Usmani. Kekhatiran terbesar Turki Usmani sebenarnya adalah soal kesetiaan bangsa Yahudi terhadap negara asal mereka. Khususnya Rusia, dimana Turki Usmani memiliki sejarah panjang konflik dengan negara tersebut. Pada akhirnya, tahun 1892, Turki Usmani yang masih memiliki kedaulatan di kawasan tersebut memberlakukan larangan penjualan tanah kepada orang asing (baca: imigran Yahudi). Menjelang Perang Dunia I, para pendatang Yahudi telah mencapai 60.000 orang pada 1914. Sebanyak 33.000 orang merupakan pendatang baru. Ini adalah ancaman baru.

Perang Dunia I dan Perjanjian Arab-Eropa

Dalam Perang Dunia I, Inggris bersekutu dengan Prancis. Sedangkan Jerman bersekutu dengan Turki Usmani. Di sisi lain, Jerman-Turki harus menghadapi Rusia. Para tokoh penting di Inggris dan Arab yang memiliki semangat nasionalis berkomitmen untuk membangun gerakan melawan Turki Usmani. Hal dilatarbelakangi pula oleh kondisi Turki Usmani yang kelihatan semakin melemah pengaruhnya.

Pada 1915, terjadi korespondensi McMohan dan Syarif Husain –gubernur Mekah. Korespondensi ini menjanjikan bangsa Arab tanah air yang dikelola sendiri setelah menang perang. Hal ini sebagai kompensasi bantuan bangsa Arab dalam peristiwa Pemberotakan Besar yang turut memperlemah pengaruh Turki Usmani di Arab. Tetapi, pada tahun 1917, terjadi Deklarasi Balfour yang menyatakan akan memberikan Palestina sebagai “Rumah Nasional” bagi orang-orang Yahudi tanpa mengurangi hak-hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina. Pada tahun yang sama, Inggris berhasil memenangkan perang dengan Turki-Usmani. Militer Inggris mendapat mandat menjaga kawasan Palestina setelah kemenangan ini.

Pada 1919, calon Presiden Zionisme Internasional Chaim Weizmann dan calon raja Faishal I dari Irak menandatangi kesepakatan bahwa untuk sementara Deklarasi Balfour diterima dengan syarat dipenuhinya janji-janji Inggris akan dimasukkannya kawasan Arab –termasuk di antaranya Palestina sebagai Negara merdeka.

Pada 1919, terjadi pula Konferensi Perdamaian di Paris dan Perjanjian Versailles. Kedua konferensi itu menandai berakhirnya kekuasaan Turki Usmani di Timur Tengah secara permamen.

Peristiwa-peristiwa di atas menjadi pondasi bagi sejarah awal konflik Palestina-Israel pada era selanjutnya. Sejarah awal konflik Palestina-Israel berlanjut pada era Perang Dunia II. Israel mendeklarasikan Negara Israel dan negara-negara Arab menolaknya. Terjadilah perang Arab-Israel. Israel menang dan Palestina semakin terdesak. Kita akan lanjutkan sejarah awal konflik Palestina-Israel dalam artikel selanjutnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...