Beranda Khazanah Sejarah Bermadzhab, Sejak Kapan Keberagamaan Umat Muslim Harus Ikut Imam dan Diacu...

Sejarah Bermadzhab, Sejak Kapan Keberagamaan Umat Muslim Harus Ikut Imam dan Diacu Kepada Madzhab-Madzhab

Harakah.id Dalam agama, bermadzhab atau mengikuti sebuah madzhab, adalah ijma’ agar ritual peribadatan yang dilakukan umat memiliki dasar. Berikut adalah sejarah bermadzhab dan sejak kapan kita harus ikut madzhab.

Menurut waliyullah Al-Dahlawi (muhaddis dan faqih bermadzhab hanafi dari India), pada abad pertama dan kedua Hijriyah, masyarakat belum secara keseluruhan melakukan taqlid terhadap satu madzhab fiqih tertentu. Abu Thalib Al-Makki dalam Qut Al-Qulub mengatakan, “kitab-kitab dan kumpulan-kumpulan pendapat para ulama adalah hal baru dalam Islam. Mengikuti pendapat para ulama, berfatwa sesuai dengan madzhab seorang ulama tertentu, mengambil pendapatnya, menceritakanny adalam setiap persoalan yang dihadapi dan mempercayai madzhabnya bukan hal populer pada abad pertama dan kedua hijriyah”.

Baca Juga: Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Dalam hukum-hukum yang menjadi kesepakatan kaum muslimin dan para mujtahid, masyarakat pada waktu itu hanya mengikuti pemilik syari’ah.

Sedangkan berkaitan dengan kewajiban sehari-hari seperti tata cara berwudhu, mandi, hukum-hukum shalat, zakat dan lain-lain, mereka belajar kepada orang tua dan guru-guru agama setempat secara turun temurun.

Dan jika terjadi persoalan asing yang perlu penyelesaian hukum, mereka meminta fatwa kepada mufti yang mereka temui tanpa memandang madzhabnya secara khusus.

Baru setelah abad kedua hijriyah, tradisi bermadzhab tersebar luas di kalangan masyarakat muslim secara keseluruhan. Dan sedikit sekali orang yang tidak bermadzhab pada waktu itu.

Pernyataan Al-Dahlawi tersebut diperkuat dengan bukti-bukti sejarah berikut:

  • Para ulama ahli hadis yang menulis ilmu musthalah hadis, mengemukakan bahwa pada masa sahabat Nabi Saw, yang mengeluarkan fatwa hanya sekitar dua orang. Dan ada yang mengatakan di bawah di bawah sepuluh orang. Dan ada yang menyatakan hanya enam orang. Apabila dari kalangan sahabat yang jumlahnya lebih dari seratus ribu orang, hanya dua ratus orang yang dapat mengeluarkan fatwa, apakah berarti mayoritas mereka tidak melakukan taqlid? Hal tersebut menjadi buki bahwa mayoritas para sahabat itu bertaqlid kepada para mujtahid masa itu.
  • Para ulama sahabat dan tabi’in ketika dimintai fatwa oleh masyarakat awam, mereka tidak menolak dan tidak melarang mereka yang bertanya. Juga tidak memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu agar mencapai derajat mujtahid. Dan ini persoalan aksomia dalam agama dan dketahui secara mutawatir, baik di kalangan ulaman maupun awam.
Baca Juga: Bolehkah Mencampuradukkan Ragam Pendapat Madzhab (Talfiq) dalam Satu Prosesi Ibadah?
  • Apabila kita perhatikan sejarah perkembangan madzhab fiqih yang ada, kita akan mendapati bahwa madzhab-madzhab tersebut berkembang dan diikuti oleh masyarakat sejak para imam mujtahid yang bersangkutan masih hidup.
  • Secara rasional kemampuan berijtihad itu membutuhkan suatu keahlian, yang tentunya sulit untuk dicapai kecuali oleh sebagian kecil dari kalangan ulama terkemuka saja. Sehingga apabila agama mewajibkan semua individu masyarakat agar mencapai derajat ijtihad, maka akan terjadi pembebanan suatu kewajiban yang tidak akan mampu mereka lakukan. Dan ini tidak dibenarkan serta tidak akan terjadi dalam agama, sesuai dengan firman Allah Swt, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah:286)

Berikut penjelasan singkat tentang perkembangan madzhab fiqih yang empat:

Madzhab Hanafi adalah madzhab fiqih tertua yang berkembang hingga kini. Menuurut para sejarawan, madzhab ini tersebar luas berkat jasa Imam Abu Yusuf murid senior Imam Abu Hanifah, yang memangku jabatan hakim agung pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid dan dua khalifah sebelumnya.

Al-Hafidz al-Khatib Al-Baghdadi berkata: “Abu Yusuf adalah murid Abu Hanifah, faqih terhebat pada masanya, orang pertama yang menulis kitab-kitab ushul fiqih berdasarkan madzhab Abu Hanifah, mendiktekan dan menyebarkan sekian banyak masalah fiqih, dan menyebarkannya di banyak daerah.”

Baca Juga: Imam Abu Hanifah dan Madzhab Ra’yu Asli Kuffah

Madzhab Maliki diakui oleh para sejarwan sebagai madzhba fiqih yang berkembang dan tersebar uas pada masa imam malik, pendiri madzhab. Madzhab maliki dapat mendominasi m=negeri mesir pada masa imam malik. Menurut sebagian sejarawan, orang pertama yang mnyebarkan madzhab imam malik di mesir adalah Aabdurrahman Ibn Al-Qasim, dan ada pula yang mengatakan Utsman Ibn Al-Hakam Al-Judzami. Sedangkan tersebar luasnya madzhab maliki di Andalusia berkat jasa ‘Isa Ibn Dinar Al-Andalusi dan Yahya Ibn Yahya Al-Laitsi.

Madzhab Syafi’i adalah madzhab fiqih terbesar yang diikuti oleh mayoritas ahlussunnah wal jama`ah. Madzhab ini tersebar pada masa Imam Syafi’i, dengan banyaknya para ulama yang belajar kepada beliau daN menyebarluaskan ilmunya kepdada masyarakat. Al-Hafidz Muhammad Ibn Abdurrahman Al-Sakhowi berkata: “sesungguhnya Al-Hafidz Abdullah Ibn Muhammad Ibn Isya Al-Marwadzi yang menyebarkan madzhab Al-Syafi’i di Marwa dan khurasan setelah sebelunya di sebarkan oleh Amad Ibn Sayyar. Sedangkan Al-Hafidz Abu ‘Awanah adalah orang pertama yang membawa madzhab Syafi’i dan arangan-karangannya ke Asfarayin.

Madzhab Hanbali adalah madzhab fiqih yang paling sedikit pengikutnya. Sedikitnya pengikut Hanbali ini disebabakan lahirnya madzhab ini setelah madzhab-madzhab besar lainnya terutama Hanafi, Maliki dan Syafi’i membumi dan tersosialisai secara luas di kalangan masyarakat. Namun demikian, melalui murid-murid ima ahmad yang setia menyebarkan madzhabnya, seperti Abu Bakar Al-Marwadzi, Abdul Malik Al-Maimuni, Ibrahim Ibn Ishak Al-Harbi dan lain-lain, madzhab Hanbali dapat berkembang dan eksis hingga kini.

Baca Juga: Sang Muhaddis-Fakih yang Melahirkan Banyak Imam Madzhab

Kesimpulannya, tradisi bermadzhab terhadap madzhab-madzhab fiqih yang ada telah berllagsung sejak generasi salaf, bahkan sejak para imam mujtahid yang bersangkutan masih hidup, sebagaimana dapat dibaca dakam sejarah perkembangan madzhab-madzhab fiqih tersebut. Dan bahwa tradisi madzhab bukanlah dibuat oleh kalangan awam yang melakukan taqlid untuk diri mereka sebagaimana asumsi sebagian kalangan. Bahkan disamping sebagai keniscayaan dan kondidi sosial umat islam yang secara faktual sebagian besar tidak dapat melakukan ijtihad, tradisi bermadzhab juga disebarkan oleh para ulama besar yang juga telah mencapai derajat mujtahid dan berguru secara langsung kepada para imam mujtahid yang bersangkutan.  

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...