Sejarah dan Asal-Usul Pemberontakan Urabi Pasha 1882 M

0

Harakah.idKrisis yang terus berkepanjangan menimbulkan kekecewaan memantik perlawanan rakyat dan tumbuhnya nasionalisme Mesir. Kebangkitan Nasionalis Mesir ditandai dengan pemberontakan yang terkenal dengan Pemberontakan Urabi Pasha 1881-1882 M.

Terusan Suez dibuka tahun 1869. Perancis dan Inggris berlomba menanamkan pengaruhnya di Mesir. Inggris salah satu negara Barat yang sukses besar menanamkan pengaruhnya di Mesir saat Khedive Ismail Pasha berkuasa. Dari sinilah akhirnya timbul  nasionalisme Mesir, akibat gagalnya Khedive Ismail mengatasi krisis keuangan. 

Krisis yang terus berkepanjangan menimbulkan kekecewaan memantik perlawanan rakyat dan tumbuhnya nasionalisme Mesir. Kebangkitan Nasionalis Mesir ditandai dengan pemberontakan  yang terkenal dengan Pemberontakan Urabi Pasha 1881-1882 M.

Krisis Keuangan Mesir 

Sebelum Khedive Ismail Pasha  berkuasa, Mesir dipimpin  Muhammad Ali Pasha, namun Ia diasingkan  atas tekanan Inggris tahun 1840. Sesudah Muhammad Ali Pasha, Mesir diperintah oleh Abbas 1 1848-1854 dan Said Pasha 1854-1863. Pada masa berikutnya Mesir terus  mengalami kemunduran sampai akhirnya muncul pemimpin besar bernama Khedive Ismail Pasha 1863-1879.

Khedive Ismail Pasha  adalah gubernur Mesir 1867-1879. Ia merupakan anak sulung Ibrahim Pasha  dan mempunyai hubungan dengan Said Pasha. Ia muncul di Mesir memperbaiki kembali kehidupan sosial politik di Mesir. Saat berkuasa sebagai Gubernur Mesir, Terusan Suez dibangun dimasa Sultan Said Pasha tahun 1857 mulai direncanakan oleh Ferdinan de Lesseps. 

Terusan Suez pertama kali dibuka tahun 1869. Ketika itu, Khedive Ismail masih memimpin. Dari sinilah awal krisis keuangan muncul. Ia membutuhkan uang akibat krisis yang melanda Mesir. Khedive Ismail  justru menjual saham terusan Suez kepada Inggris. 

Tidak hanya menjual saham terusan Suez, Khadevi Ismail  Pashzjuga meminjam uang kepada Inggris dan Perancis dengan alasan membayar hutang. Semenjak tahun 1876 itulah Inggris dan Perancis mulai ikut campur urusan pemerintahan Mesir. 

Kegagalan Khedive Pasha Mengatasi Krisis Keuangan

Perjalanan sejarah Mesir di masa pemerintahan Khedive Ismail Pasha penuh kekacauan, akibat hutang. Keadaan semakin kacau akibat ikut campurnya negeri Eropa dalam mengawasi keuangannya berbentuk Komisi Pengawas Keuangan didirikan tahun 1876 M.

Komisi ini sangat mencampuri masalah pemerintahan soal hutang. Sisi lain pendapat umum sangat lemah dan rakyat tidak memiliki kekuatan untuk mengkritik sikap pejabat. Mereka yang duduk di pemerintahan dan berkuasa harus memerintah dan orang yang diperintah harus tunduk. 

Masalah ini mendorong para intelek-intelek di kalangan rakyat menggerakan surat kabar agar pendapat umum bersuara. Jamaludin Afghani, Khedive Ismail dan Riyad Pasya. Khedive Ismail berpendapat bahwa demi kebaikan dan kemajuan umat, surat-surat kabar itu harus bebas dan merdeka dalam mengkritik campur tangan Eropa. 

Hal ini terjadi pada pemimpin surat kabar Al-Ahram, karena Ia mempersoalkan uang yang digunakan Khedive dari uang kas negara, tetapi tidak ada ujung pangkalnya. Pemimpin surat kabar Abu Nadharah diasingkan karena mengkritik perbuatan Khedive Ismail. Kegagalannya tidak bisa mengatasi krisis keuangan Mesir Ia diperhentikan oleh Sultan Abd-ul-Hamid II tahun 1879. 

Munculnya Riyad Pasha sebagai  Perdana Menteri Mesir  

Riyad Pasha mulanya dinaikkan pangkat menjadi kolonel, kemudian diangkat menjadi sekretaris kedua Dewan Peperangan. Akhirnya tanggal 4 Febuary 1882, ia menjadi Menteri  Pertahanan dalam Kementrian Mahmud Sami Pasha. 

Nama Riyad Pasha muncul dan dikenal publik setelah Khadive Pasha mengangkatnya sebagai ketua Dewan Menteri atau Perdana Menteri. Perlahan tapi pasti kondisi Mesir mengalami perubahan besar. Dari sinilah awal kiprahnya Riyad Pasha di dunia politik dalam pemerintahan Mesir. Jabatan Perdana Menteri membuatnya leluasa mengatur pemerintahan di bidang keuangan, pekerjaan umum dan ilmu pengetahuan. 

Sejak itu,  Riyad Pasha melakukan gerakan pembaharuan salah satunya gerakan  sastra. Segala cara Ia lakukan agar ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan sastra bisa berkembang dan maju. Salah satunya menghidupkan kembali  sejumlah media surat kabar yang sebelumnya sudah lama tidak terbit dan vakum. Langkah awal memulai gerakan sastra ini Ia mendorong Budrus Al-Bustani menerbitkan Dairatul Ma’arif, Al-Muqtataf, Asy-Syifa pimpinan Syibil Syumayyal dan terakhir memperbaiki majalah Al-Waqai Al-Misriyah. 

Untuk mencapai tujuan itu,  Ia memilih Muhammad Abduh yang dibantu oleh Sa’ad Zaglul, Syekh Abdul Karim Salman, Ibrahim Al-Hilbawi, Syekh Muhammad Khalil dan Sayid Wafa menerbitkan, mengelola dan menerbitkan kembali Majalah Al-Waqai Al-Misriyah. Majalah Al-Waqa’i Al-Mishriyah (kejadian-kejadian di Mesir). Majalah ini dikenal sebagai surat kabar berkala milik pemerintah Mesir. 

Pada perkembangan selanjutnya pasca Mesir di bawah pemerintahan Riyad Pasha masyarakat di negeri itu terpecah menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama mendukung dan kelompok kedua yang menentang. Diketahui dari awal semenjak Riyad Pasha diangkat sebagai Perdana Menteri banyak yang tidak setuju, karena sikap egois dan keras membuatnya tidak suka diangkat menjadi Perdana Menteri. Selain tidak setuju karena sikapnya yang keras, ada juga bersikap membenci Riyad Pasha, karena dianggap terlalu dekat dengan bangsa asing. Sampai-sampai di antara mereka memberinya nama Riyad Stone disejajarkan dengan Gladstone. 

Muhammad  Abduh Memimpin Majalah  Al-Waqa’i Al-Mishriyah 

Ketika bertugas sebagai pemimpin redaksi Al-Waqa’i Al-Mishriyah Muhammad Abduh mengadakan kolom, di samping berita-berita resmi. Artikel-artikel tentang sastra, sosial dan pembaharuan Muhammad Abduh menjadi editornya. Ia bekerja di majalah tersebut selama 18 bulan. Pekerjaan inilah Ia dijadikan medan untuk perbaikan pemerintah dan menjadi mimbar ajakan berdakwah. 

Keputusan Muhammad Abduh ini menyebabkan pemerintah menyerahkan semua rencana-rencana pekerjaan yang dibuat disampaikan ke percetakan Negara majalah Al-Waqai Al-Misriyah. Hasil keputusan sidang pengadilan dikirimkan ke percetakan negara. 

Tidak hanya bertugas menjadi pemimpin redaksi, Muhammad Abduh juga diberi wewenang mengkritik perbuatan-perbuatan pemerintah. Ia memperingatkan kepada pemimpin-pemimpin Mesir melakukan perbaikan-perbaikan. Hal ini Ia lakukan dengan tulisan di surat-surat kabar dan berbagai kesempatan.

Dampaknya, Kementerian  dalam negeri yang dipimpin Riyad Pasya menguasai seluruh media cetak di negeri itu. Percetakan diberi hak mempertanyakan kritik yang ditulis dalam surat- surat kabar berbahasa Arab maupun asing. 

Oleh karena itu, Muhammad Abduh menjadikannya surat kabar milik negara tersebut sebagai alat mengawasi jalannya pemerintahan. Selain itu, dijadikan pengawas terhadap surat-surat kabar Arab yang dilihat dari segi bahasa dan isinya kemudian dilihat juga dari kritikannya. 

Tampaknya Riyad Pasha menyetujui langkah-langkah yang dilakukan Muhammad Abduh, karena dengan cara itu Ia dapat menguasai persoalan-persoalan pemerintah dan mengawasi surat-surat kabar. Ketika Muhammad Abduh menulis banyak makalah yang terpenting kritik terhadap Departemen Pendidikan. 

Dari kritikan tersebut dibentuklah Majelis Tinggi  Pendidikan, kemudian Muhammad Abduh dipilih  menjadi anggotanya. Ia juga mengkritik tingkah laku, akhlak dan kebiasaan, pergaulan, agama. Artikel yang dibuat Muhammad Abduh menjelaskan sistem Syura dan kebaikannya untuk negeri Mesir. Kadang-kadang Ia secara terbuka atau terselubung memperkuat dan memuji pemerintahan Riyad Pasha. 

Sikap Riyad Pasha yang keras membuat banyak orang membencinya, salah satu Khedive Ismail. Hal ini terjadi akibat sikapnya yang menghalangi-halangi beberapa pendapat dan tingkah laku Khadive. Sikap Riyad Pasha yang demikian itu membuat Khadive memberi hati kepada rakyat untuk melawan Riyad Pasya. 

Tidak hanya itu, surat-surat kabar juga menyediakan kolom-kolom menyerang Riyad Pasya. Padahal sebelumnya Riyad Pasya adalah orang yang memperkuat dan mendirikan surat-surat kabar itu. Inilah yang menjadi benih pemberontakan Arabi Pasha atau Urabi Pasha. Muhammad Abduh waktu itu juga diserang rakyat, karena dianggap pengikut Riyad Pasya lewat tulisan-tulisannya di Al-Waqai Al-Misriyah. 

Ia merasa mempunyai kebebasan yang mutlak dalam mengkritik masalah-masalah sosial dan adat kebiasaan agama. Dari media tersebut muncul perdebatan sengit tentang perbaikan Mesir yang dilakukan perlahan-lahan atau semuanya itu bergabung menjadi satu, sesuai pikiran Riyad Pasha. Akhirnya munculnya Nasionalisme Mesir yang ditandai pemberontakan Urabi Pasha.