Beranda Tokoh Sejarah Hidup Buya Hamka saat Masih Muda, Seorang Pembaca yang Baik

Sejarah Hidup Buya Hamka saat Masih Muda, Seorang Pembaca yang Baik

Harakah.idHidup Hamka muda jauh dari zona nyaman. Hidup Hamka muda penuh perjuangan, terutama dalam hal mencari ilmu.

Buya Hamka, satu dari banyak nama yang mendapatkan gelar tanda jasa Pahlawan Nasional. Nama lengkapnya Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, ulama asal Minangkabau yang tak hanya sekadar ulama. Namun juga sebagai sejarawan, budayawan, sastrawan, dan negarawan.

Tak ada pendidikan formal yang beliau selesaikan, namun keilmuannya dalam berbagai bidang ilmu tak diragukan. Ini sebab beliau punya semangat belajar yang berapi-api sejak muda.

Dan semangat api itu, terus bergelora dalam diri Buya Hamka. Dalam bukunya berjudul “Empat Bulan di Amerika”, dijelaskan kalau beliau masih merasa muda, walaupun usianya sudah di atas 50-an tahun. Semangat yang harus ditiru anak muda hari ini, jangan sampai punya tubuh muda, namun semangat tua.

Hidup Hamka muda jauh dari zona nyaman. Hidup Hamka muda penuh perjuangan, terutama dalam hal mencari ilmu. Saat anak-anak lain hanya ingin bermain, Hamka muda selalu menyampatkan waktu membaca buku di perpustakaan.

Saat usianya baru 13 tahun, Hamka sudah terbiasa membaca buku muatan berat, buku-buku karya Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, HOS Cokroaminoto, dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Pelajaran penting untuk kaum muda saat ini, agar lebih semangat membaca, sebab dengan membaca akan meningkatkan kualitas diri sebagai manusia.

Pada 1924 M, saat itu usia beliau baru 16 tahun, usia yang masih terbilang sangat muda. Hamka pergi merantau seorang diri dari Minangkabau ke Jawa. Perjalanan yang memakan waktu berhari-hari. Perjalanan yang pastinya tak mudah untuk anak yang berusia 16 tahun. Kelak anak ini akan menjadi sosok ulama hebat dari Indonesia.

Di Jawa, Hamka muda belajar pada tokoh-tokoh pergerakan Sarekat Islam. Hamka tinggal di rumah pamannya Djafar Amrullah di daerah Yogyakarta. Pamannya kemudian mengajaknya masuk Sarekat Islam. Dari sini-lah beliau mengenal tokoh-tokoh Sarekat Islam dan banyak belajar dari mereka.

Hamka belajar pengetahuan Islam dan sosialisme pada HOS Tjokoraminoto. Belajar ilmu agama Islam pada H. Fachruddin. Sosiologi dipelajarinya pada R.M. Suryopranoto. Dan juga belajar ilmu logika pada Ki Bagus Hadikusumo.

Walau masih sangat muda, Hamka sudah bergabung dengan Sarekat Islam. 16 tahun, Hamka sudah mengenal dunia pergerakan dan mulai belajar bergerak menyelesaikan pesoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Beda dengan kebanyakan pemuda saat ini, yang bahkan saat sudah jadi mahasiswa justru lebih banyak menunjukkan sikap apatis terhadap persoalan bangsa Indonesia.

Tak cukup belajar pada tokoh-tokoh Sarekat Islam, Hamka pun pergi belajar pada A.R. Sutan Mansur tokoh Muhamadiyah yang juga adalah iparnya. Dari A.R. Sutan Mansur, beliau banyak belajar soal hikmah dan filsafat kehidupan.

Pendidikan formal Hamka hanya sampai kelas dua Sekolah Rakyat (setara kelas 2 Sekolah Dasar). Namun, pengetahuan Hamka muda setara dengan para penggerak yang belajar di Perguruan Tinggi. Semangat belajar Hamka tak dibatasi oleh tembok yang kita sebut sekolah formal.

Dan semangat belajar Hamka terus bergelora, pada 1927 M beliau pergi Haji ke Makkah. Tak puas merantau sendiri ke Jawa, sekarang Hamka muda ingin merantau dan belajar di Makkah. Waktu itu, perjalanan ke Makkah membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, pastinya tak mudah untuk pemuda seusia Hamka, apalagi beliau pergi dengan uang pas-pasan.

Setelah beberapa bulan Hamka di Makkah, beliau bertemu H. Agus Salim yang kemudian memberi nasehat padanya untuk pulang kembali ke Indonesia. Sebab Indonesia sangat membutuhkan kehadiran pemuda seperti Hamka.

Kembali dari Makkah, Hamka aktif sebagai salah satu penggerak muda di Muhamadiyah. Beliau juga sering diutus Muhamadiyah untuk menjadi guru di sekolah-sekolah Muhamadiyah.

Pada 1931 M, beliau pernah menjadi guru utusan Muhamadiyah di Makassar. Dalam hal ini, Hamka bergerak untuk kemajuan bangsa lewat pendidikan. Pengalaman dari Makassar itulah yang kemudian hari menjadi inspirasi beliau dalam menulis novelnya yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”.

Pada 1948 M–saat agresi militer Belanda II–Hamka sangat berjasa dalam melakukan penerangan (menyebarkan informasi) seputar kondisi Indonesia saat itu, dan menggalang persatuan masyarakat Sumatra, khususnya Sumatra Barat.

Beliau menyebarkan informasi bukan lewat radio, melainkan dengan mengunjungi kampung-kampung. Sebab situasi saat itu tak memungkinkan untuk melintasi jalan biasa, sehingga Hamka dan rombongan harus jalan kaki melintasi jalur hutan yang penuh dengan hewan buas.

Hutan Sumatra yang menjadi tempat hidup banyak hewan buas, tak bisa memadamkan semangat perjuangan Hamka untuk menggalang persatuan masyarakat Sumatra. Semangat perjuangan yang telah bergelora sejak muda, menjadikan Buya Hamka sosok pejuang yang tak kenal “kata menyerah”.

Dari Buya Hamka, kita bisa belajar agar tak menjadi pemuda yang apatis, apatis terhadap ilmu dan persoalan agama, bangsa, serta negara. 13 tahun, beliau sudah biasa membaca buku muatan berat. 16 tahun, beliau sudah mengenal dunia pergerakan perjuangan bangsa Indonesia.

Renungan yang sangat cocok untuk para mahasiswa dan pemuda, jika hari ini masih terlalu apatis belajar mencari ilmu dan apatis berkhidmat untuk agama, bangsa, serta negara.

Artikel ini dikirim oleh Moh. Rivadi Abdul. Aktivis dan Penulis, Alumni S1 PAI IAIN Sultan Amai Gorontalo. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...