Beranda Sejarah Sejarah Islam di Semenanjung Iberia, Kejayaan dan Keruntuhannya (3)

Sejarah Islam di Semenanjung Iberia, Kejayaan dan Keruntuhannya (3)

Harakah.idSemenanjung Iberia yang saat ini meliputi Spanyol dan Portugal pernah menjadi saksi kejayaan Islam. Sebagai kekuatan politik, militer dan ilmu pengetahuan yang mencerahkan. Sejak abad ke-14, situasi penuh kemunduran terjadi.

Andalusia merupakan suatu nama wilayah kekuasaan Muslim yang terletak di semenanjung Iberia, yang terletak di barat daya benua Eropa. Bagian tersebut terpecah menjadi dua negara, yaitu Spanyol dan Portugal.

Orang Arab menyebutnya Al-Andalus yang berasal dari kata Vandal nama salah satu suku bangsa di Eropa (Shiddiqi, 1986). Yang dimaksud dengan Andalusia dalam tulisan ini adalah “Islamic Spain”, yaitu seluruh wilayah di semenanjung Iberia yang pernah dikuasai oleh Muslim pada masa jayanya sejak dari Selat Gibraltar sampai ke pegunungan Pirenien di utara. Oleh karena itu mencakup pulau Cordova, Malaga, Seville, Saragosa dan Tolledo (Shiddiqi, 1986) dalam (Napitupulu, 2019: 6-7).

Dalam sejarah Islam di Semenanjung Iberia, sebelum adanya kedatangan Islam, bangsa Spanyol dikuasai oleh bangsa Romawi. Pada saat itu bangsa Romawi dikenal sebagai bangsa adidaya selain Persia. Dalam catatan sejarah dikatakan bahwa dengan berhasilnya Islam merebut Spanyol, maka kejayaan dan kemajuan semakin menonjol. Hal ini ditandai dengan meningkatnya pemasukan negara dari berbagai sektor, ditambah lagi dengan stabilitas politik yang mantap serta kemajuan ilmu dan kebudayaan (Zikwan, 2010) dalam (Napitupulu, 2019: 8).

Spanyol ditaklukkan oleh pasukan Islam pada masa Khalifah Al-Walid (705-715 M). Sebelum penaklukan Semenanjung Iberia, umat Islam telah menaklukkan Afrika Utara yang kemudian menjadikan salah satu wilayahnya sebagai provinsi di bawah kendali Bani Umayyah. Maka tidak heran jika Afrika Utara dijadikan sebagai tolok ukur untuk menguasai wilayah Andalusia. Dalam hal ini, terdapat tiga pahlawan yang dianggap memiliki peran strategis yaitu Tarif ibn Malik, Tariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nusair (Yatim, 2008) dalam (Napitupulu, 2019: 8). Tarif dan 500 pasukan perangnya merupakan orang pertama yang menyeberangi laut antara Maroko dan benua Eropa (Syalabi, 1983) dalam (Napitupulu, 2019: 8).

Dalam ekspedisinya, Tarif dikatakan berhasil tanpa adanya suatu perlawanan. Setelah kemenangannya Tarif kembali ke Afrika Utara dengan membawa harta rampasan perang. Karena keberhasilan Tarif, maka Musa ibn Nusair pada tahun 711 M juga mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang kali ini dipimpin oleh Tariq bin Ziyad (Hitti, 2008) dalam (Napitupulu, 2019: 8). Penyerbuan itu merupakan usaha merintis dan menyelidik, kemudian Tarif kembali ke Afrika dan mendapatkan kemenangan serta membawa harta rampasan perang yang tidak sedikit jumlahnya (Mubarok, 2005) dalam (Napitupulu, 2019: 8).

Adanya suatu keberhasilan yang didapatkan dalam penguasaan daerah tersebut, maka hal tersebut menandai adanya kesempatan Islam untuk masuk dalam kewilayahan Bangsa Spanyol. Dalam melakukan suatu penaklukan, Islam berhasil dalam mengalahkan Raja Roderick yang kedudukannya adalah sebagai penguasa pada daerah Bakkah.

Berhasilnya kekuatan Islam dalam menaklukan wilayah kekuasaan Bakkah, maka dengan begitu terdapat semangat untuk menaklukan wilayah lain, dalam hal ini Thariq Rahimahullah dan pasukannya melakukan penaklukan di kota-kota yang dianggap sebagai suatu kota penting, yaitu seperti Cordova, Granada, dan Toledo (kerajaan ibu kota Gothik pada masa itu).

Dalam usaha penaklukan tersebut, Thariq Rahimahullah melakukan taktik dengan cara menambah jumlah pasukan, yang pada akhirnya dikirim lah jumlah pasukan sebanyak 5000, yang akhirnya total dari keseluruhan jumlah pasukan Thariq Rahimahullah sebanyak 12.000 orang, namun jumlah pasukan ini masih kalah dengan jumlah pasukan dari Gothik yang sebanyak 100.000 orang (Zubaidah, 2016: 177).

Thariq bin Ziyad (670-720 M) merupakan seseorang yang berasal dari kalangan Berber. Thariq ini merupakan seseorang kepercayaan Musa lainya yang mana nantinya dikirimkan untuk melakukan penaklukan Spanyol yang lebih luas lagi. Penaklukan yang dipimpin oleh Thariq ini pula atas dasar laporan Tharif yang membuat Musa menyiakan pasukan dan peralatan lainya untuk menaklukan Spanyol. Akhirnya Musa mempercayai Thariq untuk memimpin pasukan dengan jumlah 7000 dengan anggota suku barbar dan orang Arab kiriman Khalifah Al-Walid pasukan ke daratan Spanyol pada tahun 711.

Di tahun 711 pasukan Thariq berhasil mendarat pada sebuah gunung batu yang nantinya dikenal dengan naman Jabal Thariq atau Gibaltar.  Pelayaran Thariq ini tidak lepas dari bantuan Julian pangeran Ceuta dengan menyiapkan armada-armada perahu untuk menyebrangi selat Gibaltar. Pasukan Thariq ini sesudah sampai di daerah Gunung Jabal Tahariq melanjutkan menuju kawasan bernama Jazirah Al-Khadra. Pada kawasan ini nantinya pasukan Thariq berhadapan dengan pasukan Kristen di kawasan tersebut. Pasukan ini dipimpin oleh seorang panglima bernama Tedmore (Sirjani, 2013:52).

Panglima ini nantinya mengirimkan surat kepada Raja Roderick untu meminta bantuan. Memang pada mulanya Raja Roderick menganggap penyerangan pasukan Islam ini hanya angin lalu yang akan hilang dikemudian hari. Namun setelah berhasil menguasai dan kembali bergeraka hingga ke Cordova, tergerak Raja Roderick dan mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Vinceu keponakannya. Namun pada akhirnya pasukan Tahriq dapat berhasil menang dan menguasai Cordova di Semenanjung Iberia. Beberapa pasukan ini nantinya menyampaikan surat laporan kepada Raja Rodderick.

Kemenangan yang berhasil dicapai pada Islam disebabkan dengan adanya dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal adalah keadaan sosial, politik dan ekonomi Spanyol yang sedang terpuruk. Dari segi politik, wilayah Spanyol bercerai-berai dan terbagi-bagi menjadi dalam negara-negara kecil.

Adanya pembagian kelas dalam sistem masyarakat, sehingga keberadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Berdasarkan adanya keadaan seperti itu, bangsa Spanyol merasa sangat tidak nyaman, dan pada masa ini lah Islam datang dengan memberikan segala bentuk bantuan yang dapat menghilangkan rasa ketidaknyamanan yang dialami sebagian bangsa Spanyol tersebut.

Kemudian dari segi faktor internal adalah berasal dari dalam tubuh pengusa Islam pada saat itu. Dijelaska bahwa para pemimpin yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka sangat berani dalam menghadapi setiap persoalan, dan aspek yang paling penting adalah wajah Islam yang ditunjukkan kepada masyarakat Spanyol yang sangat toleransi, dan penuh persaudaraan (Yatim, 2008) dalam (Napitupulu, 2019: 9).

Masa kedudukan Islam di Spanyol dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama adalah antara tahun 711-755 M, Spanyol dipimpin oleh para wali yang diangkat khalifah Dinasti Bani Umayyah di Damaskus. Pada periode ini Spanyol kondisi politik belum begitu stabil, masih terjadi perebutan kekuasaan antar elite penguasa dan penguasa Islam sering mendapat ancaman dari penguasa setempat (Sunanto, 2003) dalam (Napitupulu, 2019: 9).

Sedangkan periode kedua yaitu tahun 755-1013 M pada waktu Spanyol dipimpin oleh Daulah Amawiyah II. Periode ini lalu dibagi menjadi dua yaitu pada masa keamiran tahun 755-912 M. Masa ini dimulai ketika Abd al-Rahman al-Dakhil, yang berasal dari keturunan Bani Umayyah I dan berhasil menyelamatkan diri dari pembunuhan yang dilakukan Bani Abbas di Damaskus, mengambil kekuasaan di Spanyol pada masa Khalifah Yusuf al-Fihr.

Ia kemudian memproklamirkan berdirinya Daulah Amawiyah II di Andalusia kelanjutan Dinasti Amawiyah I di Damaskus dan pada masa kekhalifahan tahun 912-1013 M, ketika Abd al-Rahman III, Amir ke-8 Bani Umayyah II, menggelari diri dengan Khalifah an-Nashir Li-Dinillah (912-961 M). Kedudukannya dilanjutkan oleh Hakam II (961-976 M), kemudian oleh Hisyam II (976-1007 M). Pada masa ini umat Islam di Andalusia mengalami kemakmuran di segala bidang (Sunanto, 2003) dalam (Napitupulu, 2019: 9-10).

Adapun periode yang terakhir adalah antara tahun 1031-1492 M, saat umat Islam Andalusia hancur dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Periode ini kemudian dibagi menjadi tiga masa, pertama masa kerajaan-kerajaan lokal tahun 1031-1086 M, terdapat sekitar 20 buah kerajaan kecil. Masa ini disebut Muluk at-Tawaif (raja golongan).

Mereka mendirikan kerajaan besar suku Barbar, Slovia, atau Andalusia yang berperang satu dengan yang lain sehingga menyebabkan umat Kristen di utara berani menyerang umat Islam. Namun peradabaan kala itu mengalami kemajuan karena masing-masing ibu kota kerajaan lokal ingin menyaingi kemajuan Cordova. Muncullah kota-kota besar sepert Tolledo, Seville, Malaga, dan Granada (Sunanto, 2003) dalam (Napitupulu, 2019: 9-10).

Periode kedua adalah antara tahun 1086-1235 M, ketika umat Islam Andalusia di bawah pimpinan bangsa Barbar Afrika Utara. Pada awalnya bangsa Barbar dipimpin oleh Yusuf ibn Tasyfin yang mendirikan Daulah Murabitin, kemudian datang ke Andalusia untuk mendorong umat Islam agar mengusir umat Kristen yang menyerang Sevilla di 1086 M. Andalusia mengalami perpecahan kembali di bawah raja-raja lokal, sedangkan umat Kristen makin kuat dan menyerang sehingga Cordova jatuh pada tahun 1236 M (Indonesia, 1997). Umat Islam Andalusia akhirnya jatuh di bawah kekuasaan Kristen kecuali wilayah Granada yang dikuasai oleh Bani Ahmar sejak tahun 1232 M (Sunanto, 2003) dalam (Napitupulu, 2019: 9-10).

Sedangkan pada periode yang ketiga adalah antara tahun 1232-1492, ketika umat Islam Andalusia yang masih bertahan di wilayah Granada di bawah kuasa dinasti Bani Ahmar. Pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad ibn Yusuf dikenal dengan nama An-Nasr, kerajaan ini disebut juga Nasriyyah. Kerajaan ini merupakan kerajaan terakhir umat Islam Andalusia yang berkuasa di wilayah antara Almeria dan Gibraltar, pesisir Tenggara Andalusia.

Kerajaan ini dapat bertahan karena tertutupi oleh bukit sebagai pertahanan dan mempunyai hubungan dekat dengan Islam di Afrika Utara. Ditambah lagi oleh karena Granada adalah tempat berkumpulnya pelarian tentara dan umat Islam dari wilayah selain Andalusia. Oleh karena itu, dinasti ini pernah mencapai puncak kejayaan ditandai dengan membangun istana Al-Hamra. Akan tetapi pada akhir abad ke-16 dinasti ini lemah akibat berebut kekuasaan. Kesempatan ini kemudian dijadikan kesempatan oleh kerajaan Kristen yang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antara Esabella (Isabella) dari Aragon dengan raja Ferdinand dari Castilla untuk bersama-sama merebut kerajaan Granada (Sunanto, 2003) dalam (Napitupulu, 2019: 9-10).

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...