Beranda Sejarah Sejarah Islam di Sulawesi Utara, Keislaman Raja Loloda Mokoagow, Bolaang Mongondow

Sejarah Islam di Sulawesi Utara, Keislaman Raja Loloda Mokoagow, Bolaang Mongondow

Harakah.idSejarah Islam di Bolaang Mongondow, Keislaman Raja Loloda Mokoagow.

Bolaang Mongondow dahulu merupakan kerajaan yang eksis di semenanjung utara Pulau Sulawesi. Sekarang, daerah ini dikenal sebagai Bolaang Mongondow Raya yang berada di Sulawesi Utara.

Dalam sejarah Bolaang Mongondow, tercatat bahwa Raja Loloda Mokoagow adalah pemimpin Bolaang Mongondow yang pertama menggunakan gelar raja. Sebelumnya, gelar untuk penguasa Bolaang Mongondow disebut punu’.

Dalam term kesejarahan Bolaang Mongondow, masa penguasa Bolaang Mongondow menggunakan gelar punu’ disebut dengan era ke-punu’-an. Punu’ berasal dari kata “punuk” yang artinya pangku. Jika ditafsirkan dalam konteks kekuasaan dan pemerintahan, maka bisa dimaknai sebagai pewaris yang berhak memangku tahta kepemimpinan.

Penguasa Bolaang Mongondow yang terakhir menggunakan gelar ini adalah Punu’ Tadohe’. Beliau merupakan ayah dari Raja Loloda Mokoagow. Perubahan ini tidak lepas dari pengaruh luar terhadap Bolaang Mongondow. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Mengenal Bolaang Mongondow yang disusun Tim Litbang Amabon (Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow): “Intervensi Belanda yang berlebihan di masa Punu’ Tadohe telah membawa perubahan yang signifikan terhadap pemerintahan, terutama digantinya sebutan punu’ menjadi raja.”

Sehingga setelah zaman Tadohe’, penguasa-penguasa selanjutnya disebut raja, dan itu dimulai dari Raja Loloda Mokoagow. Uniknya, Loloda tidak hanya tercatat sebagai penguasa pertama dengan gelar raja, namun juga diyakini sebagai raja muslim pertama di Bolaang Mongondow.

Cerita rakyat Bolaang Mongondow menggambarkan bahwa Loloda Mokoagow “…sangat bijaksana, kuat dan sangat berani. Dia memerintah seluruh negeri Mongondow….” (Dikutip dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Bolaang Mongondow, disusun oleh Alma E. Almanar).

Beberapa tulisan juga menyebutkan kalau Raja Loloda Mokoagow merupakan raja yang cerdas dan berbakat, serta termasuk diplomat yang luar biasa. Sayap kekuasaannya tidak hanya di wilayah Bolaang Mongondow, namun juga membentang hingga ke berbagai wilayah Minahasa, sehingga beliau adalah raja yang menguasai semenanjung utara Sulawesi. Karenanya, beberapa arsip Belanda menyebutnya sebagai: Koning van Boelan (Raja Bolaang), atau juga disebut dengan Raja Manado.

Masa pemerintahannya cukup panjang, dimulai sejak pertengahan hingga akhir abad 17 M. Jika mengacu pada catatan W. Dunnebier, seorang misionaris yang pernah bertugas di Bolaang Mongondow, dalam tulisannya: Over de Vosrten van Bolaang Mongondow, masa pemerintahan Loloda Mokoagow sekitar 1653-1693 M. Beberapa tulisan ada yang menyebutkan sekitar 1644-1689 M.

Era Loloda termasuk masa kemahsyuran Kerajaan Bolaang. Dia begitu disegani oleh para penguasa kerajaan lain, bahkan Spanyol dan Belanda pun ikut segan kepadanya. Sebab, beliau merupakan raja yang tidak bisa diintervensi.

Dalam buku Mengenal Bolaang Mongondow…, dijelaskan kalau hubungan Raja Loloda dan Belanda tidak berjalan harmonis. Ini disebabkan Belanda tidak bisa memengaruhi dan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka. Barangkali ini alasan kenapa beberapa catatan Belanda menyebutnya sebagai Datu Binangkang, yang bisa dimaknai secara literal sebagai raja yang membangkang.

Eh, perlu diingat kalau “membangkang” yang dimaksud bukan pada rakyat, melainkan pada penjajah yang coba menggerogoti kekayaan Nusantara. Sebagaimana umumnya para pahlawan rakyat dicap sebagai pemberontak oleh penjajah.

Selain itu, W. Dunnebier mencatat kalau Raja Loloda adalah ahli strategi yang hebat, dan sering melakukan penyergapan terhadap lawan-lawannya. Ini juga bisa menjadi dasar dari pemberian julukan Datu Binangkang. Sebab, binangkang dalam term lokal di daerah ini juga bisa berarti mempermainkan orang. Jadi, dalam konteks ini Datu Binangkang bisa dipahami sebagai raja yang ahli siasat perang.

Kata binangkang juga bisa diartikan sebagai kinobangkalan (bahasa Mongondow) yang artinya “disegani”. Jadi, Datu Binangkang berarti raja yang disegani. Raja Loloda disegani oleh para penguasa kerajaan di Nusantara. Beliau sangat dekat dan amat dihormati oleh Sultan Tarnate. Dalam catatan W. Dunnebier dijelaskan kalau Sultan Tarnate menjalin hubungan persahabatan dengannya, sebab untuk menghindari konflik.

Diketahui kalau Loloda Mokoagow sangat hebat dalam berperang. Dari kehebatannya itu dirinya mampu menaklukkan wilayah-wilayah Minahasa, dan membuat kepala suku mereka mengakuinya sebagai raja. Sehingga, kekuasaan Raja Loloda Mokoagow waktu itu membentang di semananjung utara pulau Sulawesi.

Sebab kehebatannya juga Sultan Tarnate sangat menghormati dirinya, dan menjalin hubungan persahabatan dengannya. Banyak pendapat yang mengatakan kalau dari kedekatan Raja Loloda dengan Sultan Tarnate yang kemudian membuatnya mengetahui dan memeluk Islam. Sebelumnya, Raja Loloda beragama Kristen Katolik.

Beberapa tulisan menerangkan kalau Sultan Tarnate yang dekat dengan Raja Loloda adalah Sultan Hairun dan Sultan Babullah. Dijelaskan kalau mereka sangat menghormati Raja Loloda.

Perihal siapa Sultan Tarnate yang dekat dengan Raja Loloda? Masih perlu ditinjau kembali. Sebab, Sultan Hairun dan Sultan Babullah tidak semasa dengan Raja Loloda.

Periode Sultan Hairul Jamil sebagai Sultan Tarnate adalah 1535-1570, dan Sultan Babullah Datu Syah menjadi Sultan Tarnate sepanjang 1570-1583, sementara Raja Loloda Mokoagow menjadi Raja Bolaang Mongondow sekitar 1653-1693. Sehingga, ada jarak yang terlampau jauh dari masa kedua sultan itu dengan Raja Loloda.

Kalau dilihat berdasarkan periodesasi sultan-sultan di Tarnate, maka kemungkinan sultan yang berteman dengan Raja Loloda adalah Sultan Mandarsyah (periode pertama 1648-1650 dan periode kedua 1655-1675), Sultan Manila (1650-1655), dan Sultan Sibori (1675-1689).

Setelah Raja Loloda Mokoagow masuk Islam, sayangnya beliau tidak mengembangkan dakwah di lingkungan istana dan masyarakat. Padahal, dakwah sangat penting bagi penyebaran dan perkembangan Islam. Sehingga, meski dirinya yang merupakan raja sudah memeluk Islam, namun proses Islamisasi di Bolaang Mongondow tidak berkembang secara masif.

Di Bolaang Mongondow ada pepatah: dumodui kon agama in datu (ikut agama raja), atau dengan kata lain agama raja adalah agama rakyat juga. Tapi, hal ini malah tidak terjadi saat Raja Loloda masuk Islam.

Beberapa sumber menjelaskan, meski sudah memeluk Islam, namun Raja Loloda masih kental dengan ajaran agama tradisional Bolaang Mongondow berupa ancestor worship (penyembahan leluhur) atau praktek syamanisme. Ini yang agaknya membuat masyarakat masih tetap dengan agama tradisional, sebab sang raja terus menjalankannya. Jadi, yang berlaku di mata masyarakat saat itu perihal adagium: dumodui kon agama in datu adalah raja masih tetap pada ritual agama tradisional.

Beberapa tulisan menjelaskan kalau keislaman dari Raja Loloda hanya bentuk formalitas saja dari kedekatannya dengan Sultan Tarnate. Ini bisa saja diterima, sebab digambarkan kalau dirinya adalah seorang diplomat yang hebat. Sehingga, keislamannya bisa saja adalah bentuk upaya diplomasi.

Namun sebenarnya juga agak berlawanan dengan penggambaran karakternya sebagai raja yang hebat hingga bisa menguasai semenanjung utara Sulawesi, dihormati oleh raja-raja lain, dan bahkan tidak bisa diintervensi oleh penjajah, tapi malah semudah itu mengganti keyakinan agamanya. Hanya dari asumsi pertemanan.

Saya sendiri memandang kalau keislaman Raja Loloda adalah benar sebab menerima agama Islam. Jadi, bukan sekadar formalitas diplomasi antara Bolaang dan Tarnate. Hanya saja praktek pengamalan agamanya masih sangat sinkretis, di mana beliau menjalankan Islam, namun belum bisa lepas sepenuhnya dari agama tradisional.

Setelah keislaman Raja Loloda Mokoagow, penyebaran Islam belum berjalan dengan masif di Bolaang Mongondow. Beberapa catatan mengemukakan kalau syiar Islam sebenarnya sudah mulai masuk di Bolaang Mongondow sebelum masa Raja Loloda atau di era ke-punu’-an pada abad 16 M. Di mana, ada utusan-utusan dari Sultan Hairun yang ke wilayah ini. Namun, punu’ saat itu belum menerima Islam. Raja Loloda yang kemudian menerima Islam sebagai agamanya, meski masih dalam pengamalan agama yang sangat sinkretis.

Di masa ini, meski raja telah memeluk Islam, tapi masih terlalu jauh untuk disebut sebagai awal masifnya Islamisasi di Bolaang Mongondow. Bahkan, setelah periode Raja Loloda Mokoangow pengaruh Kristen Katolik kembali menguat, hingga menjadi agama raja-raja berikutnya. Namun, dapatlah dikatakan kalau abad 16-17 M sebagai awal mula proses persentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow. Ini cukup mengonfimasi bahwa pada masa tersebut telah ada upaya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow.

Demikian Sejarah Islam di Sulawesi Utara, Keislaman Raja Loloda Mokoagow, Bolaang Mongondow.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...