Beranda Sejarah Sejarah Konflik Palestina-Israel Hingga Normalisasi Arab

Sejarah Konflik Palestina-Israel Hingga Normalisasi Arab

Harakah.id Konflik Arab-Israel yang terus terjadi. Membuat sebagian negara Arab berfikir untuk memulai proses normalisasi. Inilah sejarah konflik Palestina-Israel hingga normalisasi Arab.

Normalisasi Arab akhir-akhir ini sedang menjadi sorotan masyarakat dunia. Tidak jelas apa maksud, tujuan dan untuk siapa normalisasi Arab digelar. Beberapa negara disebut terlibat aktif dalam merespon peristiwa normalisasi ini mulai Iran, Turki, Bahrain,  Iran, Palestina hingga Arab Saudi. Konflik Israel-Arab yang terus berkepanjangan disebut sebagai penyebab normalisasi Arab.

Diketahui, konflik Israel-Arab dipengaruhi kepercayaan agama, hingga berlanjut konflik militer, politik dan konflik militer. Konflik Israel-Arab bermula saling klaim tanah milik bangsa Yahudi sebagai tanah leluhur  mereka. Sementara di saat yang sama gerakan Pan Arab yang nasionalis menyatakan tanah itu milik Palestina. Dari masalah inilah muncul perang kemerdekaan Israel kemudian menandai konflik bersenjata antara Israel dengan negara-negara tetangga Arab.

Perang Arab-Israel yang berlanjut sampai sekarang tentu menjadi mimpi buruk dan bencana bagi masyarakat Palestina. Apalagi setelah PBB justru memutuskan membagi wilayah Palestina ke tangan Israel. Hal ini tentu saja ditentang oleh negara-negara Timur Tengah dan negara-negara Muslim, karena Yahudi hanya kebagian 30% dari total daerah yang diputuskan PBB, tetapi Israel mendapat 55% dari seluruh wilayah. 

Israel kemudian mendeklarasikan 14 Mei 1948 yang disampaikan oleh David Ben Gurion kepala eksekutif Organisasi Zionis Dunia. Namun, saat itu tidak disebutkan batas negara antara Israel dengan negara-negara Arab. Sehari setelahnya, tentara gabungan Libanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak, dan negara Arab lainnya menyerang Israel. Pertempuran tersebut berlangsung sengit dan dramatis, kemudian Israel menang dan malah merebut 70% dari total wilayah yang menjadi mandat PBB. Sang Kapten Avraham Adan dengan beraninya mengibarkan bendera Israel di Eliat 20 Juli 1949 sebagai tanda berakhirnya perang.

Pasca Israel menang mendorong sebagian besar rakyat Palestina mengungsi dari tanah kelahiran mereka. Negara-negara Arab justru mengusir bangsa Yahudi dari negara mereka. Pasca perang hubungan Israel  dan negara-negara Timur Tengah tak kunjung membaik setelah perang Israel-Arab 1948. Banyak peristiwa yang membuat hubungan Israel-negara-negara Timur Tengah semakin renggang dari mulai penutupan Selat Tiran, Teluk Aqaba yang menjadi pintu keluar masuk ke Israel oleh Mesir tahun 1956 , hingga berujung genjatan senjata yang terus menerus. 

Akhirnya tahun 1967  sebagian wilayah negara-negara Arab,  seperti: Yerusalem Timur, Tepi Barat milik Yordania dan Daratan Golan milik Suriah direbut oleh Israel setelah perang 6 hari 5-10 Juni. Bahkan Semenanjung Sinai, dan area pertanian Shebaa dikuasai Israel dalam perang yang berlangsung 6 hari tersebut.

Kekalahan ini membuat Nasir memaksa diri mengundurkan diri sebagai Presiden Mesir, sebelum menduduki jabatan karena rakyat menolak keputusannya. Sebanyak 300 ribu warga Palestina angkat kaki dari Tepi Barat, kemudian 100 ribu warga Suriah dipaksa meninggalkan daratan tinggi Golan. Sejak itulah pula negara-negara Arab tidak lagi menyepakati adanya negosiasi, perdamaian dengan Israel. 

Jalan Panjang Normalisasi Hubungan

Pasca perang Attrisi 1969 meninggalkan duka, lantaran Presiden Gamal tewas dalam serangan 1970. Saat itulah muncul Anwar Sadat penerus Gamal, tetapi Ia malah kerjasama dengan AS agar Israel mengembalikan tanah yang direbut Israel. Tahun 1973 tanggal 6 Juni tanpa ada peringatan sebelumnya Suriah dan Mesir mendadak menyerang Israel. Serangan itu mendorong negara-negara Arab membantu memperkuat militer Suriah dan Mesir. Negara-negara Arab sepakat menaikkan harga minyak sampai 6 kalipat terhadap AS, Jepang dan Eropa Barat karena mendukung militer Israel.

Ketegangan Israel-Mesir mereda ketika adanya perjanjian antara Presiden  Anwar Sadat dengan PM Israel Menachem Begin di peristirahatan Camp David 17 September 1978. Perjanjian tersebut menyepakati Semenanjung Sinai kembali ke tangan Mesir, Sementara Jalur Gaza tetap di bawah kendali Israel. Mesir sepakat menyediakan jalur bebas bagi kapal-kapal Israe melalui Terusan Suez selanjutnya mengakui Selat Tiran, Teluk Aqaba sebagai jalur internasional. 

Dari perjanjian tersebut terlihat Mesir menjadi negara Timur Tengah kedua yang mengakui Israel negara yang berdaulat. Sebelum Mesir, Turki  juga mengakui kedaulatan Israel tahun 1949, yang setahun kemudian Turki mendirikan perwakilan diplomatik di Israel. Yordania tidak mau kalah dengan cerdiknya mengadakan perjanjian untuk menghentikan permusuhan dan kerjasama timbal balik 26 Oktober 1994.

Normalisasi Arab terus berjalan mengikuti Turki, Mesir,Yordania yang lebih dulu melakukan perjanjian dan perdamaian. Emirat Arab serta Bahraian juga sepakat melakukan normalisasi hubungan dengan Israel 15 September 2020. Mereka memang tidak pernah terlibat langsung peperangan dengan Israel. Perjanjian itu menyebut Israel setuju menghentikan upaya anekasasi wilayah Palestina. 

Pasca Normalisasi Arab-Israel 

Pasca terjadi normalisasi Arab-Israel membuat peta politik di Timur Tengah perlahan mulai berubah dan luluhkan hati sejumlah pemimpin Arab. Normalisasi Arab merupakan peristiwa bersejarah pasalnya selama ini negara-negara Arab yang bergabung dalam Liga Arab menolak diplomatik dengan Israel demi  membela Palestina.

Namun, peristiwa normalisasi ini dinilai menguntungkan Israel dibanding negara Timur Tengah. Hal ini dampak dari pengakuan internasional atas status tertinggi Israel oleh negara-negara Arab yang dipandang kepala Departemen Program Kajian ASEAN The Habibie Center, Ibrahim Al-Muttaqin. Alasan lain adanya kerjasama ekonomi yang dilakukan jauh sebelum normalisasi Arab terjadi dan disebut tidak mampu mengubah banyak hal di antara ketiga negara dan membuat Palestina terabaikan bila negara-negara Arab berpaling ke Israel. Rakyat Palestina pun mulai bersuara atas normalisasi Arab-Israel. Mereka melakukan demontrasi di Tepi Barat mengecam perjanjian UEA dan Bahrain dengan Israel. 

Arab Saudi dalam posisi ini belum menentukan sikap, apakah ikut melakukan normalisasi dengan Israel atau tidak. Arab Saudi menjadi aktor penting dalam beberapa peristiwa politik di Timur Tengah, termasuk isu-isu Palestina. Namun, tidak jelas apakah normalisasi Arab Saudi dengan Israel akan terjadi, mengingat Arab Saudi secara diam-diam melakukan kerjasama dengan Israel dari bidang militer hingga teknologi informatika. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...