fbpx
Beranda Sejarah Sejarah Lengkap Aliran Salafi-Jihadi: Pertemuan Berbagai Kepentingan

Sejarah Lengkap Aliran Salafi-Jihadi: Pertemuan Berbagai Kepentingan [2]

Harakah.id – Sekarang mereka adalah pengikut Salafi yang memiliki kemampuan militer untuk memperjuangkan ideologi politiknya melalui aksi kekerasan yang mereka sebut “jihad”. Para mujahidin berpaham Salafi inilah yang di kemudian hari mendapat sebutan Salafi-Jihadi.

Puncak kemesraan Wahhabi-Ikhwan adalah ketika terjadi perang Afghanistan sejak 1979 hingga 1989. Uni Soviet membantu sekutunya di Afghanistan dengan mengirim tentara. Hal ini guna mengakhiri perang saudara antara kelompok komunis Afghanistan dan mujahidin Islamis setelah kemenangan partai komunis. Mengetahui Soviet mengirim tentara, Amerika Serikat mulai membangun aliansi dengan Pakistan dan tentu saja Kerajaan Arab Saudi. Aliansi ini berhasil menyuplai uang dan senjata, memobilisasi para pemuda Muslim dari seluruh penjuru dunia Islam, serta melatih mereka menggunakan senjata dan taktik perang modern.

Baca Juga: Manuver Politik Saudi: Benih Kemesraan dan Ketegangan di Awal Hubungan Saudi dan Ikhwanul Muslimin [7]

Tahun 1990, Soviet mundur dari Afghanistan menandai kemenangan kaum mujahidin. Para milisi kembali ke negara asal dengan membawa ideologi baru. Selama di Afghanistan, mereka bertemu dengan berbagai faksi Islamis dari berbagai negara Islam yang pada umumnya hidup di negara yang dipimpin para diktator. Pertemuan ini membuat para jihadis, sebutan lain untuk mujahidin, saling bertukar pikiran. Tokoh paling menonjol yang cukup berhasil mengonsolidasi para jihadis dari seluruh dunia Islam ini adalah Abdullah Azzam dan Osama bin Laden. Abdullah Azzam adalah anggota IM Palestina-Suriah yang diselamatkan oleh suaka Kerajaan Arab Saudi. Seorang doktor lulusan Universitas Al-Azhar. Ia mendapat tempat mengajar di universitas Arab Saudi.

Osama bin Laden, anak kontraktor kaya Saudi yang mendapatkan pencerahan dari pemikiran Muhammad Quthb, adik Sayid Quthb yang menjadi tokoh sentral IM di Arab Saudi. Pertemuan di medan perang Afghanistan dan jaringan mujahidin dari berbagai negara merupakan modal untuk menjadi kelompok pejuang Islam berskala internasional. Pada akhirnya, mereka mendirikan Al-Qaeda, organisasi yang memobilisasi para mujahidin dari seluruh penjuru dunia. Melalui organisasi ini, mereka menjadikan jihad sebagai agenda global. Jelas, baik Azzam maupun Osama berlatar belakang IM-Saudi Wahhabi. Mereka menginginkan pemurnian sebagaimana menjadi ciri khas Wahhabi-Saudi, tetapi lebih jauh, mereka juga menginginkan kebijakan politik kawasan Timur Tengah tunduk pada supremasi syariah sebagaimana yang mereka pahami. Tetapi, pasca perang Afghanistan, mereka adalah sosok yang berubah. Sekarang mereka adalah pengikut Salafi yang memiliki kemampuan militer untuk memperjuangkan ideologi politiknya melalui aksi kekerasan yang mereka sebut “jihad”. Para mujahidin berpaham Salafi inilah yang di kemudian hari mendapat sebutan Salafi-Jihadi. Paham yang mereka anut menggabungkan pemurnian akidah sebagaimana dikembangkan kaum Salafi pada umumnya serta kekuatan jihad untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Di sinilah istilah Salafi-Jihadi menemukan konteks kesejarahannya.

Pasca 1991, Saddam Husain menginvasi Kuwait yang melahirkan Perang Teluk I. Kerajaan Arab Saudi jelas merupakan sasaran gempuran tentara Saddam berikutnya. Ketika para penguasa Arab merasa yakin mereka akan mudah dihancurkan oleh Saddam, para mujahidin eks Afghan merasa yakin mereka dapat menangkis serangan pasukan Saddam yang berideologi sosialis. Mereka siap berperang. Mereka berharap pemerintah KSA menggunakan tenaga para eks mujahidin. Ternyata, harapan mereka tidak disambut dengan baik. KSA justru mengundang tentara Amerika Serikat hadir di kawasan Teluk Arab. Keputusan ini mengundang kritik dari berbagai kelompok yang pada umumnya memiliki hubungan dekat dengan IM. Tiga kelompok islamis merespon keputusan ini dengan penuh kritik; Salafi-Jihadis, Shahawat Islamiyyah dan Salafi-Sururi. Ketiganya merupakan sayap Salafi politik yang berkembang akibat aliansi Salafi-Wahabi-Saudi dengan IM.

Baca Juga: Sejarah Lengkap Aliran Salafi-Jihadi: Konteks Internasional [1]

Salafi-Jihadi merupakan ideologi keagamaan yang menjadi roh perjuangan Al-Qaeda. Al-Qaeda sendiri merupakan organisasi induk dari berbagai sayap organisasi di berbagai kawasan di dunia yang menjadi tempat bernaung aktivis jihad. Organisasi yang teralifiliasi dengan Al-Qaeda mempunyai tiga bentuk. Pertama, organisasi yang terafiliasi langsung dengan Al-Qaeda. Setidaknya ada 14 organisasi yang meliputi; Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP), Al-Qaeda in the Indian Subcontinent (AQIS), Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM), al-Shabaab, Hayat Tahrir al-Sham, Jama’at Nasr al-Islam wal Muslimin (JNIM), Al-Qaeda in Bosnia and Herzegovina, Al-Qaeda in Caucasus and Russia, Al-Qaeda in Gaza, Al-Qaeda in Kurdistan, Al-Qaeda in Lebanon, Al Qaeda in Spain, , Al-Qaeda in the Sinai Peninsula dan Al-Qaeda in the Malay Archipelago.

Kedua, organisasi jihad yang terafiliasi secara tidak langsung dengan Al-Qaeda. Di antara organisasi jenis ini adalah: Caucasus Emirate, Fatah al-Islam, Islamic Jihad Union, Islamic Movement of Uzbekistan, Jaish-e-Mohammed, Jemaah Islamiyah, Lashkar-e-Taiba, dan Moroccan Islamic Combatant Group.

Ketiga, organisasi yang pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda. Setelah mengalami berbagai dinamika, pada akhirnya ada yang kemudian bubar, bergabung dengan sayap Al-Qaeda lainnya, atau bergabung dengan organisasi jihad di luar Al-Qaeda. Di antaranya adalah: Abu Sayyaf (bergabung dengan ISIS pada 2014), Al-Mourabitoun (bergabung dengan JNIM pada 2017), Al-Qaeda in Iraq (berubah menjadi Islamic State of Iraq, lalu ISIS), Al-Qaeda in the Lands Beyond the Sahel (tidak aktif lagi sejak 2015), Ansar al-Islam (banyak anggotanya yang bergabung dengan ISIS pada 2014), Ansar Dine (bergabung dengan JNIM pada 2017), Islamic Jihad of Yemen (berubah menjadi AQAP), Jund al-Aqsa (tidak aktif lagi), Movement for Oneness and Jihad in West Africa (digabung dengan Al-Mulathameen, lalu dengan Al-Mourabitoun pada 2013).

Baca Juga: Ragam Cara Menangkal Wabah dan Penyakit dalam Kitab-Kitab Ulama Jambi [1]: Resep Syeikh Abdul Hamid al-Tungkali

Seperti disinggung di atas, Al-Qaeda punya sayap di kawasan Asia Tenggara. Dikenal dengan Al-Qaeda in the Malay Archipelago atau belakangan disebut Tanzim Qaedatul Jihad, dimana para anggotanya juga terafiliasi dengan Jemaah Islamiyah (JI). Di antara para pemimpin Al-Qaeda Asia Tenggara ini adalah Noordin M. Top dan Dr. Azahari. Keduanya tewas dalam penggerebekan yang dilakukan aparat kepolisian Indonesia. Dalam konteks Indonesia, pasca Jemaah Islamiyah (JI) muncul berbagai organisasi yang mengedepankan doktrin jihad dalam aktivitasnya. Umumnya memiliki kaitan ideologi dengan Al-Qaeda dan JI, atau masih dalam lingkaran orang-orang JI. Belakangan muncul kelompok sempalan (splinter groups) yang mengadopsi ideologi Salafi-Jihadi, tetapi sama sekali tidak memiliki link dengan orang-orang Al-Qaeda atau JI.

Sebagai organisasi atau kelompok yang muncul secara lokal, sumber daya manusia, logistik dan jaringan tentu lebih kecil dibanding kelompok-kelompok lama yang telah berhasil membangun jaringan dengan organisasi internasional. Beberapa organisasi jihad lokal mencoba membangun jaringan internasional yang lebih solid pasca kemunculan ISIS. Serangan yang lebih mematikan, tetapi tidak terlalu besar, terjadi selama kurun 2015-2019. Hal ini menandai pasang surutnya organisasi jihad di Indonesia yang pada umumnya mengadopsi ideologi Salafi-Jihadi.

Banyaknya nama organisasi jihad di berbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia, dimana semuanya mengadopsi ideologi Salafi-Jihadi membuat banyak orang awam bingung. Tetapi dengan memahami pokok-pokok ajaran mereka, kita akan tahu bahwa mereka bagian dari Salafi-Jihadi. Ada lima unsur pokok ajaran Salafi-Jihadi yang meliputi: (1) jihad (perang suci untuk mewujudkan negara Islam), (2) takfir (pengkafiran terhadap Muslim yang menolak memberi dukungan pada paham mereka), (3) al-wala wal bara’ (kesetiaan terhadap doktrin yang diklaim sebagai doktrin Islam), (4) tauhid (mendeklarasikan keesaan Tuhan secara murni, khususnya dalam dimensik politik kekuasaan), dan (5) hakimiyyah (keharusan menegakkan pemerintahan Tuhan). Dengan melihat apakah suatu kelompok mengajarkan kelima doktrin di atas, kita akan segera tahu apakah mereka tergolong Salafi-Jihadi atau bukan. Atau sejauh mana seorang individu atau kelompok menerima doktrin-doktrin Salafi-Jihadi di sana lah tingkat ekstremitasnya berada.

Artikel ini pernah dimuat di situs islami.co. Klik di sini.

REKOMENDASI

Mertuaku Adalah Bapak Tiriku, Tentang Hukum Pernikahan Besan dan Sebab Mahram Musaharah

Harakah.id - Penyebab lain dari munculnya hubungan mahram adalah akad pernikahan antara suami dan istri. Pernikahan ini membuat masing-masing kedua mempelai...

Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

Harakah.id - Dalam sebuah talkshow yang dipandu Najwa Shihab, Gus Baha dan Quraish Shibab terlibat dalam dialog yang seru. Salah satu...

Takbiran Setiap Selesai Shalat Fardhu Sampai Penghujung Hari Tasyrik, Bagaimana Hukumnya?

Harakah.id - Mulai sejak Hari Arafah, Kaum Muslimin punya kebiasaan takbiran setiap selesai Shalat Fardhu. Takbiran ini dilakukan sampai selesai Hari...

Download Khutbah Ringkas Idul Adha 2020

Mampu Sholat, Tapi Belum Tentu Mampu Berqurban Allâhu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillahil hamd... Allahu akbar kabîra wal hamdu lillahi katsîra wa subhanallahi...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...