Sejarah Maulid Nabi dan Awal Mula Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad, Ternyata Sudah Sejak Zaman Sahabat Lho!

0
326
Sejarah Maulid Nabi dan Awal Mula Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad, Ternyata Sudah Sejak Zaman Sahabat Lho!

Harakah.id Sejarah maulid Nabi menunjukkan bahwa perayaan untuk menghormati kelahiran Nabi Muhammad sudah dimulai sejak dulu. Ini dia sejarahnya…

Nabi Muhammad SAW lahir di kota Mekah tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan tahun gajah, dari pasangan Abdullah bin Abdul Munthaib dan Aminah. Di setiap tanggal 12 Rabiul Awal inilah kemudian diperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun sejak kapan dan bagaimana sejarah maulid Nabi digelar, menurut buku Pro dan Kontra Maulid Nabi karya AM Waskito menyebut perayaan maulid Nabi sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Keinginan untuk merayakan hari kelahiran Nabi telah ada dan muncul sejak masa khalifah Umar bin Khattab tahun 638 M 22-23 Hijriyah. ketika itu, Umar ingin menetapkan Hijriyah sebagai penanggalan resmi pemerintahan Islam. 

Para sahabat tidak mengetahui secara pasti dan mengalami kesulitan menentukan kapan hari, tanggal yang pasti kelahiran Nabi Muhammad SAW nantinya juga menjadi patokan awal penanggalan Hijriyah. Mayoritas ulama berpendapat Muhammad lahir 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan 20  April 571 Masehi. Terkait kelahiran Nabi Muhammad, selanjutnya kepastian kapan  peringatan maulid Nabi dimulai, terdapat perbedaan pendapat di antara sejumlah ulama. Menurut buku “Pro dan Kontra Maulid Nabi” karya AM Waskito ada tiga teori Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW:

Pertama: Perayaan Maulid mulai digelar pada zaman Dinasti Ubaid( Fatimiyah) berkuasa 362-567 M atau sekitar abad 4-6 Hijriyah di Mesir yang beraliran Syiah Smailliyah (Rafidha) Pada masa itu, peringatan Maulid Nabi dirayakan  era Abu Tamim yang memiliki gelar Al-Mu’is Li Dinillah, tetapi masih satu bentuk perayaan saja. Tidak hanya perayaan maulid, perayaan Asyura juga digelar.

Kedua: Maulid Nabi berasal dari kalangan Ahlus Sunnah, pertama kali diadakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri bin Zainuddin bin Baktari. Muzhaffar, seorang raja yang dikenal dermawan. Ia membangun masjid Al- Jami Al- Muzhaffari dilereng Gunung Qasiyun. Dikisahkan, Muzhaffar merayakan Maulud Nabi dengan mengundang ulama, ahli tasawuf dan seluruh rakyatnya. Para tamu dijamu hidangan makanan, memberikan hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.

Ketiga: Perayaan digelar pertama oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi atau Muhammad  Al-Fatih tahun 567-622 Hijriyah. Shalahuddin kala itu, penguasa Dinasti Ayyub. Ia mulai berkuasa di Mesir di bawah otoritas Dinasti Zanki dan Daulah Abbasiyah. Ketika Shalahuddin berkuasa pengaruh Syiah Rafidhah sangat kuat  yang berasal dari Dinasti Ubaidiyah. Diketahui, kekuasaan Dinasti Ubaid di Mesir selama 280 tahun. Ajaran, tradisi budaya Syiah melekat dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Mesir.  

Dinasti Ubaidiyah membangun kekuasaan dengan cara kultural, yaitu mendirikan Al-Azhar sebagai pusat kaderisasi dai-dai Syiah Rafidhah yang disebarkan ke wilayah Mesir. Tidak hanya itu, mereka berusaha membangun simpati mengadakan berbagai perayaan keagamaan salah satunya Maulud Nabi. 

Saat Shalahuddin berkuasa di Mesir. Ia tidak serta merta membersihkan budaya Syiah yang berumur ratusan tahun. Ia menyadari peradapan Syiah sudah berusia ratusan tahun, dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Mesir selama 280 tahun dinilai sangat sulit dilakukan. 

Ia berusaha melakukan perubahan secara perlahan mengubah kurikulum ajaran Syiah dari simbol, hingga, ulama dan buku Syiah dengan versi Ahlus Sunnah. Perayaan Maulid Nabi di masa Shalahuddin tetap dipertahankan. Ketika itu, digelar secara massal oleh Salahuddin, tetapi awalnya mendapat protes sebagian ulama dianggap menyalahi aturan agama Islam, yaitu; bid’ah. Alasannya di masa Nabi SAW tidak pernah dilakukan. Salahuddin menjawab dengan mengatakan perayaan Maulid Nabi tidak lebih menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual.

Saat itu, perayaan Maulud Nabi pertama kali digelar oleh Salahuddin tepat tahun 580 H atau 1184 M dengan mengadakan gebyar Maulid Nabi, yaitu: sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa seindah mungkin. Semua ulama dan sastra diundang mengikuti kompetisi tersebut. Adalah Syekh Ja’far Al-Barzanzi sebagai pemenangnya dengan karya  kitab Barjanji. Sampai kini kitab Barzanji menjadi menu utama bacaan dalam peringatan Maulud Nabi. Nama Barzanji diambil dari pengarang naskah tersebut, yakni Syekh Ja’far Al-Barzanji. Karya tulis itu berjudul Iqd Al-Jawahir yang artinya kalung permata. Karya disusun meningkatkan kecintaan kepada Nabi SAW, tetapi akhirnya dikemudian hari lebih dikenal penulisnya.