Beranda Headline Sejarah Pelarangan Perayaan Maulid Nabi di Kota Mekah Pada Abad Modern

Sejarah Pelarangan Perayaan Maulid Nabi di Kota Mekah Pada Abad Modern

Harakah.idSecara resmi perayaan Maulid Nabi di Mekah dihentikan di bawah pemerintahan keluarga Saudi. Peristiwa itu terjadi, seperti dicatat Syekh Abdullah Alu al-Syaikh, pada tahun 1218 H. atau bertepatan dengan 30 April 1803 M. Artinya ini terjadi baru pada abad modern.

Sejarah Pelarangan Perayaan Maulid Nabi di Kota Mekah Pada Abad Modern. Sebagian akun media sosial yang berafiliasi dengan Wahabi menyebarkan keterangan bahwa Mekah dan Madinah tidak ada perayaan peringatan Maulid Nabi. Menurut mereka, itu adalah bukti bahwa sejatinya peringatan Maulid Nabi bukan ajaran Islam. Buktinya, Mekah dan Madinah sebagai pusat Islam tidak ada peringatan semacam itu.

Pernyataan semacam itu menyesatkan karena sejatinya ketiadaan peringatan Maulid Nabi di Mekah dan Madinah secara massal seperti di negara-negara Muslim lainnya adalah karena kegiatan semacam itu telah dilarang sejak Keluarga Bin Saud berkuasa pada awal abad 20, mengalahkan Keluarga Hasyimi yang sebelumnya berkuasa di Hijaz.

Sebelum berkuasanya Keluarga Bin Saud, masyarakat Mekah dan Madinah rutin mengadakan peringatan Maulid. Kenyataan bahwa masyarakat Mekah dan Madinah mengadakan peringatan Maulid sebelum berkuasanya Wahabi didukung oleh pernyataan mufti Wahabi pada abad 20.

Syekh Abdullah Alu Al-Syaikh, Mufti Wahabi pada abad 20 menulis sebuah risalah menyambut keberhasilan pasukan Bin Saud menakhlukkan kota Mekah pada tahun 1218 H. Risalah tersebut dimuat dalam kitab Al-Durar al-Saniyyah fi Al-Ajwibah Al-Najdiyyah (1/222). Berikut teks awal risalah tersebut;

رسالة الشيخ عبد الله آل الشيخ عندما دخلوا مكة، وبيان ما يطلبون من الناس ويقاتلونهم عليه

وقال أيضا الشيخ عبد الله بن الشيخ محمد بن عبد الوهاب، رحمهما الله تعالى:  بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد الأمين، وعلى آله وصحبه والتابعين، وبعد:

فإنا معاشر غزو الموحدين، لما منّ الله علينا – وله الحمد – بدخول مكة المشرفة نصف النهار، يوم السبت، في ثامن شهر محرم الحرام، سنة 1218 هـ، بعد أن طلب أشراف مكة، وعلماؤها وكافة العامة من أمير الغزو “سعود” الأمان، وقد كانوا تواطؤوا مع أمراء الحجيج، وأمير مكة على قتاله، أو الإقامة في الحرم، ليصدوه عن البيت.

فلما زحفت أجناد الموحدين، ألقى الله الرعب في قلوبهم، فتفرقوا شذر مذر، كل واحد يعد الإياب غنيمة. وبذل الأمير حينئذ الأمان لمن بالحرم الشريف،

ودخلنا وشعارنا التلبية، آمنين محلقين رؤوسنا ومقصرين، غير خائفين من أحد من المخلوقين، بل من مالك يوم الدين. ومن حين دخل الجند الحرم، وهم على كثرتهم مضبوطون، متأدبون، لم يعضدوا به شجرا، ولم ينفروا صيدا، ولم يريقوا دما إلا دم الهدي، أو ما أحل الله من بهيمة الأنعام على الوجه المشروع.

(Pesan Syekh Abdullah Al Sheikh ketika kaum Wahabi menakhlukkan Mekah, penjelasan tentang apa yang diminta kaum Wahabi dari orang-orang dan alasan kaum Wahabi memerangi orang-orang Mekah).

Dan Syekh Abdullah bin Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, semoga Allah SWT merahmati mereka berdua, juga berkata: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, dan shalawat serta salam atas Nabi kita Muhammad yang setia, keluarga, sahabat dan pengikutnya, dan setelah:

Kami adalah tentara tauhid, ketika Tuhan menganugerahkan kepada kita -dan segala puji bagi Allah – untuk memasuki Mekah pada tengah hari, pada hari Sabtu, tanggal 8 Muharram, tahun 1218 H. Setelah para bangsawan Mekah, para ulama dan semua orang awam meminta jaminan keselamatan kepada Amir Perang “Saud”, padahal mereka telah berkolusi dengan para Amirul hajj dan Amir Mekah untuk melawannya atau tetap tinggal di tanah suci untuk mencegah Saud tidak memasuki Tanah Suci.

Ketika para prajurit tauhid berbaris, Tuhan menebarkan ketakutan di hati mereka, sehingga mereka bubar. Masing-masing dihitung sebagai barang rampasan. Pada saat itu, Amir Saud menawarkan keselamatan kepada mereka yang berada di Tanah Suci.

Kami memasuki Mekah dengan memabca Talbiyah, dalam suasana aman dengan rambut kepala dicukur dan dipotong pendek, tidak takut pada makhluk apa pun, melainkan pada pemilik Hari Pembalasan. Dan sejak para prajurit memasuki Tanah Suci, dan mereka, meskipun jumlah mereka besar, mereka disiplin dan bertata krama, mereka tidak menebang pohon, tidak mengganggu hewan liar, dan mereka tidak menumpahkan darah kecuali darah hewan kurban, atau hewan ternak yang Allah izinkan dengan cara yang disyariatkan.

Syekh Abdullah Alu Al-Syaikh menulis risalah tersebut untuk menjelaskan bahwa kedatangan mereka ke tanah suci untuk menegakkan tauhid dan menjaga agar umat Islam tidak melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah yang tercela dalam pandangannya. Syekh Abdullah Alu al-Syaikh kemudian merinci perkara yang dia pandang bid’ah yang dilarang oleh pemerintah Saudi.

فمن البدع المذمومة التي ننهى عنها: رفع الصوت في مواضع الأذان بغير الأذان، سواء كان آيات، أو صلاة على النبي صلى الله عليه وسلم أو ذكرا غير ذلك بعد أذان، أو في ليلة الجمعة، أو رمضان، أو العيدين، فكل ذلك بدعة مذمومة. وقد أبطلنا ما كان مألوفا بمكة، من التذكير، والترحيم، ونحوه، واعترف علماء المذاهب أنه بدعة ;

ومنها: قراءة الحديث عن أبي هريرة بين يدي خطبة الجمعة، فقد صرح شارح الجامع الصغير بأنه بدعة. ومنها: الاجتماع في وقت مخصوص على من يقرأ سيرة المولد الشريف، اعتقادا أنه قربة مخصوصة مطلوبة، دون علم السير، فإن ذلك لم يرد.

Di antara bid’ah yang tercela yang KAMI larang adalah mengeraskan suara bacaan selain azan di tempat-tempat azan. Baik itu bacaan ayat Al-Quran, shalawat atas Nabi, dzikir selain itu setelah azan. Atau pada malam jumat, atau bulan Ramadan, atau hari raya idulfitri dan iduladha, semua itu bid’ah tercela. Kami telah mengeluarkan instruksi untuk membatalkan apa yang sudah menjadi kebiasaan di Mekah, seperti bacaan tadzkir, tarhim, dan sejenisnya. Ulama-ulama mazhab mengakui bahwa itu adalah bid’ah.

Di antara bid’ah tercela itu adalah membaca hadis Riwayat Abu Hurairah sebelum khutbah Jumat. Penulis Syarah Jami’us Shaghir menilai amalan tersebut bid’ah. Di antara bid’ah adalah berkumpul pada waktu tertentu untuk membaca sejarah kelahiran (Maulid) Nabi yang mulia, dengan keyakinan bahwa hal itu adalah ibadah yang dianjurkan, tanpa ilmu sirah nabawiyah, itu semua tidak memiliki dasar dalam agama. (Al-Durar al-Saniyyah Fi al-Ajwibah al-Najdiyyah, 1/137).

Sejak saat itu, secara resmi perayaan Maulid Nabi di Mekah dihentikan di bawah pemerintahan keluarga Saudi. Peristiwa itu terjadi, seperti dicatat Syekh Abdullah Alu al-Syaikh, pada tahun 1218 H. atau bertepatan dengan 30 April 1803 M. Artinya ini terjadi baru pada abad modern. Dalam fenomena tersebut, selain melarang peringatan Maulid, pemerintah Saudi juga menghancurkan rumah yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Juga makam Khadijah dan lainnya.

Demikian sejarah pelarangan peringatan dan perayaan Maulid di Kota Mekah pada abad modern. Semoga “Sejarah Pelarangan Perayaan Maulid Nabi di Kota Mekah Pada Abad Modern” ini bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...