Beranda Headline Geliat Percetakan dan Sejarah Penerbitan Kitab-Kitab Ulama Nusantara di Timur Tengah

Geliat Percetakan dan Sejarah Penerbitan Kitab-Kitab Ulama Nusantara di Timur Tengah

Harakah.idSejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah adalah kisah lain yang mendukung suksesnya pembentukan ekosistem intelektual Nusantara di Timur Tengah. Tanpa percetakan dan penerbit, kedigdayaan ulama Nusantara tentu hanya cerita fiksi dan tidak akan pernah menemukan momentumnya.

Terbentuknya ekosistem intelektual ulama Nusantara di Timur-Tengah pada pertengahan abad 19 sampai pertengahan abad 20 tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor pendukung lain. Salah satunya adalah percetakan dan penerbit. Tanpa penerbit dan percetakan, tentu saja mustahil geliat keilmuan ulama Nusantara akan mewarnai dinamika intelektualitas di Timur Tengah bahkan Dunia. Karena harus diakui, berkat penerbit dan percetakan yang berkualifikasi, karya-karya ulama kita tersebar dan dibaca banyak kalangan.

Geliat percetakan dan sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah bisa dipetakan ke dua teritori utama; Mekkah dan Mesir. Mengenai sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah, Bombay dan India sebenarnya adalah lokasi sentra awal yang menjadi tempat lahirnya kitab-kitab berbahaya Melayu yang ditulis ulama Nusantara.

Hal ini ditandai oleh munculnya dua buah risalah yang berisi puisi Melayu pendek cetakan Bombay pada tahun 1974; 9 tahun sebelum percetakan kitab Melayu dimulai di Mesir. Asumsi bahwa Bombay adalah lokasi sentra pertama percetakan naskah-naskah Melayu juga diperkuat oleh munculnya kitab Kifayatul Muhtaj karya Ahmad bin Muhammad Zain al-Fatani di Mekkah pada tahun 1880. Artinya, jauh sebelum itu, agenda penerbitan dan percetakan kitab-kitab ulama Nusantara sudah dimulai di Bombay.

Dua percetakan dan penerbit terkenal di Bombay, yang sampai tahun 1890-an konsisten mencetak dan menyebarkan kitab-kitab ulama Nusantara adalah Alwi Press dan Matba’ah al-Hasaniyah. Dua di antara sekian banyak ulama Nusantara yang buku-bukunya diterbitkan di Bombay adalah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani dan Syeikh Abdul Samad al-Palimbani.

nucare-qurban

Sedangkan di Mekkah sendiri, sebenarnya sudah ditemukan satu naskah kitab cetakan tahun 1876 tentang perkara salat dan ibadah karya Syeikh Zainuddin al-Sumbawi. Meski begitu, geliat percetakan naskah-naskah kitab ulama Nusantara yang sebenarnya baru dimulai di tahun 1884. Yakni setelah Syekh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fatani diberikan mandat oleh Turki Usmani sebagai pengurus, penulis, editor sekaligus penyunting di sebuah penerbitan milik kerajaan. Syeikh Zain al-Fatani tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sejak kepengurusannya, Syeikh Zain al-Fatani tercatat menerbitkan dan mencetak sejumlah kitab karya ulama Nusantara seperti Nuruddin al-Raniri, Abdus Samad al-Palimbani, Muhammad Nafis al-Banjari, Muhammad Arsyad al-Banjari, Muhammad Ismail Daud al-Fatani dan banyak lagi yang lainnya.

Selain percetakan milik Syeikh Zain al-Fatani, di Mekkah juga ada tiga percetakan yang juga terlibat dalam penyebaran karya-karya ulama Nusantara; Matba’ah al-Mir’iyyah, Matba’ah Karimiyah dan Matba’ah al-Turk al-Majdiyyah. Matba’ah al-Mir’iyyah menerbitkan sejumlah kitab, antara lain; kitab Dla’us Siraj karya Syeikh Khatib al-Minangkabawi, Kitab Kasyful Ghaybah karya Syeikh Zainal Abidin al-Fatani dan Kitab Sirajul Huda karya Syeikh Zainuddin al-Sumbawi. Sedangkan Matba’ah al-Karimiyah menerbitkan kembali karya Syeikh Daud al-Fatani berjudul Ghayatut Taqrib.

Lalu bagaimana di Mesir?

Snouck Hugronje berasumsi kalau geliat percetakan dan sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara berbahasa melayu di Mesir tak jauh berselang setelah geliat percetakan yang terjadi di Bombay. Hal yang sama juga disimpulkan Proudfoot. Dia menegaskan kalau geliat percetakan dan sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Mesir dimulai dan berjalan pada rentang tahun 1876 hingga 1880.

Ada banyak faktor yang mendorong munculnya semarak penerbitan kitab-kitab melayu di akhir abad 19 tersebut. Meningkatnya jumlah pelajar Nusantara yang hendak sekolah di Al-Azhar, meningkatnya jumlah jamaah haji Nusantara yang berangkat ke Tanah Haram dan meningkatnya jumlah orang Nusantara yang bermukim di Timur Tengah adalah beberapa faktor yang secara tidak langsung menciptakan sebuah pasar pembaca eksklusif yang butuh akan kitab-kitab berbahasa Melayu.

Meningkatnya jumlah pendatang Nusantara ke kota-kota Timur Tengah, khususnya Mekkah dan Madinah, tidak bisa dilepaskan dari faktor dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869. Sejak itu, jumlah pendatang, utamanya yang hendak melakukan ibadah haji ke Mekkah, terus membengkak. Vredenbregt mencatat, ada lonjakan sekitar 5000 jamaah dalam kurun waktu 5 dasawarsa. Hal yang sama juga terjadi dalam kasus lonjakan orang Nusantara yang mukim dan menetap di Mekkah maupun Madinah. Di tahun-tahun setelahnya, utamanya pasca Perang Dunia Pertama, lonjakan jumlah jamaah haji, pelajar dan mukimin terus mengalami peningkatan yang signifikan.

Dengan kata lain, sejak pertengahan abad 19, pasar pembaca kitab jawi dan melayu di Timur Tengah sudah terbentuk. Ia semakin menjanjikan di akhir abad 19 sampai awal abad 20. Maka tidak mengherankan jika penerbit di Mekkah dan Mesir, tanpa harus berpikir panjang, memilih untuk menerbitkan kitab-kitab ulama Nusantara meskipun berbahasa Jawi. Karena selain pasar Timur Tengah, kitab-kitab yang dicetak nyatanya juga diimpor ke Nusantara melalui – salah satunya – Maktabah Fataniah dan reseller-reseller kecil yang memanfaatkan jamaah haji yang kembali ke Nusantara atau orang-orang yang secara konsisten bolak-balik ke Timur Tengah.

Beberapa percetakan besar di Mesir yang bisa disebutkan antara lain Matba’ah Mustafal Bab al-Halabi, Matba’ah Darul Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah. Kedua percetakan sekaligus penerbitan tersebut adalah milik Mustafal Bab al-Halabi dan Isal Bab al-Halabi. Melalui dua percetakan inilah karya-karya ulama Nusantara, baik yang berbahasa Jawi maupun yang berbahasa Arab diterbitkan dan disebarkan ke penjuru dunia.

Selain kedua percetakan dan penerbit besar tersebut, muncul penerbit-penerbit lainnya yang melakukan hal yang sama. Beberapa di antaranya adalah Maktabah Ibrahim al-Tubi, Maktabah al-Muniriyah, Maktabah al-Ittihadiyah, Matba’ah al-Marbawiyyah yang diinisiasi oleh Syeikh Idris al-Marbawi, penulis Kamus al-Marbawi dan Bahr al-Madhi yang diterbitkan oleh Matba’ah Mustafal Bab al-Halabi. Selain itu, tentu saja banyak penerbitan lainnya yang turut menyumbang peran dalam mencetak, menerbitkan dan menyebarkan kitab-kitab ulama Nusantara.

Geliat percetakan dan sejarah penerbitan kitab-kitab ulama Nusantara di Timur Tengah adalah contoh bagaimana sebuah ekosistem intelektual terbentuk. Penulis, penerbit, penjual dan pembaca membentuk semacam rangkaian yang seimbang dalam menciptakan satu iklim intelektualisme cita rasa Nusantara. Penulisnya banyak dan ulamanya produktif. Penerbitnya semangat dan percetakannya tangguh. Penjualnya kreatif dan massif serta berjejaring. Komunitas pembacanya juga banyak, militan dan serius. Ketika salah satunya tumbang, tentu saja unsur-unsur dalam ekosistem tersebut juga akan turut tumbang.

Maka berbicara soal kedigdayaan ilmu dan ulama Nusantara dalam konteks keilmuan Islam dunia internasional, tidak bisa dilepaskan dari realitas lainnya seperti komunitas penerbit, percetakan, jaringan distributor dan tentu saja, komunitas pembacanya.

REKOMENDASI

Download Naskah Pidato Pengukuhan Dr [HC] KH. Afifuddin Muhajir; Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam...

Harakah.id - Pidato pengukuhan Doctor Honoris Causa KH. Afifuddin Muhajir ini penting untuk mengukuhkan posisi NKRI dalam timbangan syariat Islam.

Lewati 8 Kota di 7 Negara, Ini Rute Perjalanan Imam al-Bukhari Mencari Hadis

Harakah.id – Rute perjalanan Imam al-Bukhari mencari hadis bukan kaleng-kaleng. Delapan kota di tujuh negara dilewati oleh Imam al-Bukhari untuk mencari...

Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Harakah.id - Ibn Haitsam mungkin adalah salah seorang ilmuan dan filosof Muslim yang jarang sekali dibicarakan. Popularitasnya kalah dengan ilmuan dan...

Kisah Perempuan dalam Jaringan Pendukung ISIS di Indonesia

Harakah.id - Perempuan memiliki peran jauh lebih penting dalam proses pembentukan klaster kelompok radikal. Kisah para perempuan berikut akan menunjukkan hal...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...