Beranda Gerakan Sejarah Penggunaan Hadis "Pasukan Panji Hitam", Hadis yang Populer Dimanfaatkan Untuk Kepentingan...

Sejarah Penggunaan Hadis “Pasukan Panji Hitam”, Hadis yang Populer Dimanfaatkan Untuk Kepentingan Politik [3]

Harakah.idSejarah penggunaan hadis pasukan panji hitam tak lepas dari konstelasi politik yang terjadi dalam sejarah Islam. Hadis ini harus diakui menjadi hadis yang cukup populer untuk dimanfaatkan secara politis.

Ulasan mengenai sanad hadis sebelumnya, penting untuk melacak sejarah penggunaan hadis pasukan panji hitam pada era yang lebih awal. Bila diperhatikan, pada era sahabat, hanya ada tiga orang yang mempopulerkan hadis tersebut. Mereka yang mengetahui bahwa tersebut kemudian bertambah banyak pada masa yang lebih belakangan. Berdasarkan teori pertumbuhan sanad yang dikembangkan Nabia Abbout, sebuah sanad cenderung berkembang seperti sebuah piramida. Semakin ke bawah semakin besar. Sebuah sanad cenderung bertambah dua kali lipat pada generasi setelahnya. Dari tiga orang pada abad pertama hijriah, menjadi tiga puluh orang lebih pada abad ketiga hijriah.

Adanya tiga jalur periwayatan memang dapat membuat hadis ini disebut populer (masyhur). Namun menjadi tidak wajar bila dibandingkan populasi Muslim saat itu, atau populasi ahli hadis selama tiga abad yang mencapai delapan ribu orang. Yang berarti tiap seratus tahun, ada sekitar 2000 orang lebih perawi hadis. Atau dengan kata lain, 1300-an orang tiap 50 tahun. Dari 1300-an orang itu, sungguh sangat sedikit perawi yang mengenal hadis pasukan panji hitam ini.

Bahkan bila seluruh perawi selama tiga abad dikumpulkan, tidak akan mencapai sepuluh persen dari total populasi para perawi hadis. Ketidak-populeran hadis ini pada tiga abad pertama merupakan kenyataan yang tidak wajar mengingat peristiwa politik yang melibatkan kampanye pasukan panji hitam sangat marak saat itu. Utamanya dalam masa peralihan (transisi) pemerintahan Dinasti Umayyah dan kebangkitan Dinasti Abbasiah yang didukung oleh simpatisan Ahli Bait, Bani Hasyim dan orang-orang Khurasan. Tiga kekuatan ini yang berhasil menjatuhkan kekuasaan Dinasti Umayyah pada akhir abad kedua hijriah.

Di sini, menganalisis dinamika politik paruh kedua abad kedua hijriah menjadi penting. Karena dinamika itulah yang menjadi latar belakang kelahiran kitab al-Fitan karya Nu’aim bin Hammad pada paruh pertama abad ketiga hijriah. Dinamika itu pula yang sedang dihadapi oleh perawi-perawi hadis ini pada akhir kedua hijriah hingga awal abad ketiga hijriah.

Pada paruh pertama abad ketiga hijriah, hadis-hadis pasukan panji hitam baru dikodifikasi menjadi sebuah karya dalam bidang hadis. Pemberian judul merupakan sebuah penafsiran atas peristiwa sejarah. Ia merupakan opini seorang ahli hadis yang dalam berwacana menggunakan hadis sebagai mediumnya. Opini ahli hadis juga dapat ditemukan dalam judul-judul bab yang tersebar dalam kitabnya. Menggali opini ahli hadis di sini menjadi penting dilakukan untuk melihat fungsi ideologis karya tersebut.

Baca Juga: Pasukan Taliban, Hadis “Pasukan Panji Hitam” Dan Isu yang Tak Pernah Lekang Oleh Zaman [1]

Penulis membangun asumsi ini dengan meminjam teori eksklusi dan inklusi yang dikembangkan dalam analisis wacana. Bahwa seorang penulis akan cenderung memilih informasi yang dia setujui dan mendukung gagasannya, di sisi lain akan menyeleksi serta mengeliminir informasi yang tidak dia sepakati dalam konteks framming. Pembuatan judul dalam sebuah kitab hadis merupakan upaya pembingkaian (framming) yang semuanya dikembalikan kepada isi kepala penulisnya yang memiliki keberpihakan tertentu. Hal ini sangat lumrah untuk mendukung suatu kekuasaan tertentu. Wacana dalam konteks ini cenderung berpihak.

Analisis ini terlepas dari kualitas kesahihan hadis pasukan panji hitam, yang dalam faktanya, telah berkembang menjadi wacana politik. Isu dan penggunaan hadis pasukan panji hitam telah menghiasi panggung politik umat Islam sejak abad kedua hijriah.

Daulah Bani Abbas dan Bendera Hitam

Pada akhir pemerintahan Bani Umayyah, ada tiga kekuatan oposisi yang menjadi ancaman bagi kelangsungan dinasti tersebut. Ketiganya adalah sisa-sisa kekuatan kelompok Ali (Syi’at Ali), kaum Khawarij, dan orang-orang Persia yang merasa dianak-tirikan oleh Pemerintahan Bani Umayyah yang berorientasi Arab.

Para pendukung Ali bin Abi Thalib dipimpin oleh Hasan, kemudian Husain, lalu putra Ali bin Abi Thalib yang lain, Muhammad bin Ali bin Abi Thalib al-Hanafiyyah. Kepemimpinan yang terakhir ini, kemudian dilanjutkan oleh putra Muhammad bin Ali yang bernama Abu Hasyim. Nama aslinya Abdullah bin Muhammad bin Ali al-Hanafiyyah. Masyarakat kemudian mulai mendukung posisi Abu Hasyim. Abu Hasyim kemudian menjadi incaran pemerintah Umayyah. Di tengah situasi yang terancam, karena dia hidup di dekat pusat kekuasaan Umayyah, dia bermaksud pindah ke kota Hamimah. Tempat pamannya, Ali bin Abdullah bin Abbas al-Sajjad. Sebelum berhasil ditangkap, Abu Hasyim telah meninggal.

Sebelum meninggal, Abu Hasyim berwasiat kepada Muhammad, putra Ali bin Abdullah bin Abbas, agar meneruskan perjuangan politiknya. Abu Hasyim membekali Muhammad bin Ali bin Abdullah dengan sebuah dokumen yang berisi daftar pengikut dan pendukungnya. Sebuah dokumen yang dicari-cari oleh pemerintahan Umayyah. Pada saat inilah, terjadi perpindahan kepemimpinan dari keturunan Ali bin Abi Thalib kepada keturunan Abdullah bin Abbas. Kedua orang ini adalah sahabat muda Nabi Muhammad yang masih satu klan dengan beliau. Klan Bani Hasyim.

Di tangan Muhammad bin Ali bin Abdullah inilah, kekuatan politik ini menjadi lebih terorganisir dibanding sebelumnya. Setelah Muhammad bin Ali bin Abdullah wafat, perjuangan politiknya dilanjutkan oleh putranya Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah. Di era kepemimpinan Ibrahim bin Muhammad ini, para pejuang di wilayah timur, Khurasan, berhasil memenangkan sejumlah pertempuran melawan para gubernur Umayah.

Ibrahim bin Muhammad kemudian memerintahkan jenderalnya yang bernama Abu Muslim al-Khurasani agar memproklamirkan perjuangan politiknya atas nama keluarga Bani Abbas. Dalam perintah itu, Ibrahim bin Muhammad memerintahkan agar seluruh pasukan menggunakan simbol yang sama. Yaitu bendera hitam serta jubah hitam. Sejak saat itulah, warna hitam simbol politik Bani Abbas.

Belum selesai perjuangan Ibrahim bin Muhammad, kematian telah menghampirinya. Kepemimpinan kemudian diambil oleh adiknya yang bernama, Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Perjuangan politiknya berhasil menumbangkan pemerintahan Daulah Bani Umayyah. Dalam revolusi ini, keluarga Bani Umayyah dibantai habis. Hanya satu keturunannya yang berhasil selamat. Yaitu Abdurrahman al-Dakhil. Dia berhasil dilarikan oleh pengikut Bani Umayyah ke Andalusia. Di tangan Abdurrahman, Daulah Bani Umayyah berhasil berkibar di Andalusia, bumi Spanyol Islam. Di timur, setelah kekalahan Bani Umayyah, berdiri pemerintahan baru oleh Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Ketika menjadi pemimpin, dia menggunakan gelar Abul Abbas al-Saffah.    

Baca Juga: Melacak Kualitas Hadis “Pasukan Panji Hitam”, Hadis Populer yang Tak Ada Dalam Kutubus Sittah [2]

Kemenangan Bani Abbas dalam perebutan kekuasaan didukung oleh sejumlah alasan. Pertama, kemerosotan moral pemerintah Bani Umayyah, dimana agama tidak dijalankan dengan baik. Masyarakat mengharapkan perbaikan moral. Hal inilah yang membuat banyak orang memberikan dukungan kepada Abu Hasyim dan penerusnya. Kedua, ketidak-adilan yang diterima oleh orang-orang non-Arab. Hal ini akibat kebijakan pemerintah Umayyah yang dikenal berorientasi Arab. Ketiga, keahlian para pemimpin awal Bani Abbas dalam mengobarkan sentimen agama. Dalam hal ini, mereka banyak menggunakan pesan-pesan agama, utamanya yang tertuang dalam hadis Nabi saw.

Faktor terakhir ini, dapat dilihat dalam sejumlah gejala yang menyertai kebangkitan dan kesuksesan karir politik keluarga Abbas.

Pertama, Nabi saw. pernah meramalkan bahwa kepemimpinan umat Islam akan dipegang keturunan Abbas bin Abdul Muthallib. Sejak Nabi saw. menyabdakan itu, beberapa anggota keluarga ini mulai aktif berpolitik. Contohnya, Ibnu Abbas, seorang yang dikenal punya karir intelektual yang baik, adalah pendukung utama sekaligus penasihat pada era kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Kedua, Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, kemudian Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, mengonsolidasikan kekuatan militernya dengan mengadopsi pesan-pesan yang terkandung dalam hadis-hadis akhir zaman. Seperti warna hitam yang menyertai kedatangan al-Mahdi. Berdasarkan Instruksi Ibrahim bin Muhammad, Jenderal Abu Muslim al-Khurasani mengonsolidasikan pasukannya dalam misi ashhabur rayah al-sud min khurasan (pasukan panji hitam dari Khurasan). Bukan hanya menggunakan panji hitam, tapi juga seluruh atribut kemiliteran dipenuhi warna hitam.

Ketiga, ketika berhasil menduduki kursi pemerintahan, para pemimpin Bani Abbas menggelari diri mereka dengan atribut yang disebut-sebut dalam para pemimpin akhir zaman seperti al-Saffah, al-Manshur dan al-Mahdi.

Itulah sekilas sejarah penggunaan hadis pasukan panji Islam dalam sejarah Islam.

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...