fbpx
Beranda Sejarah Sejarah Perkembangan Mazhab Maliki

Sejarah Perkembangan Mazhab Maliki

- Advertisement -

Harakah.id – Mazhab Maliki merupakan mazhab fikih dalam Islam yang masih bertahan hingga hari ini. Dirintis oleh Imam Malik bin Anas (w. 179 H.) di Madinah. Pengikutnya menyebar ke Mesir, Tunisia, Maroko hingga Andalusia (Spanyol). Mazhab ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangannya.

Imam Malik lahir di Madinah pada tahun 93 H. pada era pemerintahan Dinasti Umayyah. Beliau mengalami masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (w. 101 H.) yang membuatnya terkesan. Ketika kekuasaan telah beralih kepada Dinasti Abbasiyyah, ada yang bertanya tentang apakah rakyat harus membela pemerintah atau memberontak bersama para pemberontak.

Imam Malik menjawab, “Jika mereka memberontak kepada pemerintah seperti Umar bin Abdul Aziz, maka bergabunglah dengan pemerintah memerangi mereka. Jika tidak, maka tinggalkan mereka. Allah akan menghukum penguasa yang lalim dengan oposan yang juga lalim. Kemudian Allah akan menghukum keduanya.”

Mazhab Malik dan Negara

Abu Zahrah menjelaskan bahwa pada dasarnya, penguasa pada masa Imam Malik, baik pemerintahan Umayyah maupun Abbasiyyah, sudah melenceng dari garis kekhalifahan. Kekhalifahan mengatur perpindahan kekuasaan didasarkan kepada musyawarah yang demokratis. Namun, dalam praktiknya yang terjadinya adalah pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak yang mencerminkan sistem monarkhi. Jika tidak demikian, biasanya perpindahan kekuasan terjadi melalui proses kudeta. Karena itu, Imam Malik memandang bahwa kekuasaan apapun saat itu telah adalah kekuasaan yang lalim dan menyimpang dari rel syariah.

Sekalipun hidup dalam dua masa yang penuh gejolak, Imam Malik dapat memperoleh pendidikan yang baik di kota Madinah. Imam Malik tidak pernah belajar selain di Madinah. Hal ini karena Madinah telah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Justru orang-orang dari Madinah harus datang ke kota tersebut untuk belajar tentang Islam. Ketekunan Imam Malik menghantarkannya menjadi ulama kharismatik yang menarik perhatian banyak orang. Baik dari kota Madinah maupun luar Madinah. Di sinilah Imam Malik mengajarkan ajaran Islam, dasar-dasar hukum dan metode perumusan hukum Islam. Imam Malik kemudian dikenal sebagai Imam Dar Al-Hijrah (Penghulu Ulama Madinah-Bumi Hijrah). Selain piawai dalam merumuskan hukum, Imam Malik juga seorang pendidik yang berhasil. Banyak murid-muridnya yang kemudian mewarisi metode perumusan hukumnya, lalu dengan setia menyebarkan mazhabnya ke penjuru dunia Islam. Bahkan, ada di antaranya yang kemudian menjadi pendiri mazhab fikih tersendiri seperti Imam Al-Syafi’i (w. 204 H.).

Pemikiran Hukum Imam Malik

Dalam merumuskan hukum fikih, Imam Malik merujuk kepada Alquran, hadis Nabi, ijma, qiyas, praktik penduduk Madinah, mashlahah mursalah (maslahat), ‘urf (tradisi), dan saddu dzari’ah (upaya pencegahan).

Tiga hal yang membantu perkembangan mazhab Maliki. Pertama, pemikiran Imam Malik yang terkodifikasi dengan baik. Imam Malik menulis kitab yang memuat pandangan-pandangan fikihnya. Salah satunya adalah kitab Al-Muwaththa’. Kitab ini berisi hadis-hadis Nabi Muhammad saw. dan fatwa para sahabatnya yang menjadi dasar fatwa Imam Malik. Karena isinya didominasi hadis-hadis Nabi, banyak pihak yang menyebut Al-Muwaththa’ sebagai karya dalam bidang hadis dibanding sebuah karya dalam fikih. Karya lain Imam Malik adalah kitab Al-Mudawwanah. Kitab ini membuat fatwa-fatwa Imam Malik yang mencapai kurang lebih 6200 yang disistematisasi berdasarkan tema-tema fikih seperti yang dikenal saat ini. Pengamatan sederhana terhadap kitab-kitab tersebut dengan mudah menemukan jawaban mengapa mazhab Malik sering dijuluki dengan mazhab Ahlul Atsar atau Ahli Hadis. Seringkali sebutan ini dibandingkan dengan mazhab Ahlur Ra’yi, yang merujuk kepada mazhab Hanafi. Dalam beberapa abad, mazhab Maliki dan mazhab Hanafi bersaing memperebutkan pengaruh masyarakat Muslim seperti dapat ditemukan di Afrika Utara dan Andalusia.

Tokoh Terkemuka Mazhab Maliki

Kedua, murid-murid yang berdedikasi menyebarkan fatwa dan metode berfikir mazhab. Abu Zahrah dalam buku Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyyah mencatat di antara murid Imam Malik yang berjasa menyebarkan mazhabnya ke Mesir adalah Usman bin Hakam Al-Judzami (w. 163 H.), Abdurrahman bin Al-Qasim (w. 191 H.), dan Abdurrahim bin Khalid (w. 163 H.). Usman bin Hakam Al-Judzami membawa fikih aliran Maliki ke Mesir. Usaha menyebarkan mazhab Maliki dilanjutkan Abdurrahman bin Al-Qasim. Pada era Abdurrahman bin Al-Qasim, mazhab Maliki berhasil menggeser dominasi mazhab Hanafi yang terlebih dahulu berkembang. Pada tahun 200 Hijriah, mazhab Syafi’i menggeser dominasi mazhab Malik. Sekalipun bersaing dengan mazhab Syafi’i, pengaruh mazhab Malik masih cukup kuat dibanding mazhab Hanafi. Keduanya menjadi dua mazhab yang paling banyak dianut di Mesir. Al-Maqrizi mencatat bahwa kedua mazhab selalu menjadi rujukan umat Muslim di Mesir. Ulama kedua mazhab mengisi posisi-posisi penting dalam kehakiman.

Keterlibatan Negara

Ketiga, keterlibatan penguasa dalam penyebaran mazhab. Hal ini dapat dipotret dalam perkembangan mazhab Maliki di wilayah Afrika Utara dan Andalusia. Tunisia dan sekitarnya, yang masuk dalam wilayah Afrika Utara, pada mulanya didominasi pengikut mazhab Hanafi. Belakangan, pengaruhnya digeser oleh mazhab Maliki. Mazhab Maliki mencapai puncak pengaruhnya ketika Al-Mu’izz bin Badis (w. 454 H.) menguasai Tunisia dan sekitarnya. Keterlibatan kekuasaan dalam penyebaran mazhab Malik juga terjadi di Andalusia.

Abu Zahra mencatat, Yahya bin Yahya Al-Laitsi (w. 234 H.), murid Imam Malik punya hubungan dekat dengan penguasa Dinasti Umayyah di Andalusia. Beliau diangkat menjadi hakim berpengaruh. Pengangkatan hakim baru selalu melalui rekomendasi dari beliau.

Tradisi Ibadah Dalam Mazhab Maliki

Sampai saat ini, mazhab Malik masih mendominasi praktik keagamaan umat Islam di Afrika Utara dan pantai barat Afrika. Ali Mustafa Yaqub dalam buku Islam di Maroko, mencatat praktik keagamaan yang dipengaruhi mazhab Maliki di negeri tersebut. Pertama, di setiap masjid hampir selalu ada batu yang disediakan untuk bertayamum.

Tayamum adalah cara mensucikan diri ketika tidak mungkin dilakukan wudu dengan air. Tayamum dalam mazhab Syafi’i, sebagaimana dianut masyarakat Muslim di Indonesia, hanya boleh dengan menggunakan debu. Butir halus tanah. Berbeda dengan mazhab Maliki yang mengizinkan tayamum dengan benda-benda yang berasal dari bumi seperti batu.
Kedua, azan tiga kali saat hendak melaksanakan salat fardu. Praktik ini termasuk masalah khilafiyah, bahkan di kalangan ulama mazhab Maliki.

Sebagian ulama mazhab Maliki menggolongkannya dalam amalan bidah. Namun, sebagian lain membolehkan dengan sejumlah argumen. Salah satunya, penambahan azan dalam pelaksanaan salat Jumat. Pada masa Nabi Muhammad, salat Jumat dimulai dengan dua kali azan. Namun, pada masa Usman bin Affan, ditambahkan satu azan lagi yang sering disebut “azan ketiga”. Selain itu, pada masa Nabi saw. beliau memerintahkan tiga orang muazin untuk mengumandangkan azan. Ada kemugkinan ketiganya mengumandangkan azan secara berurutan atau secara bersamaan. Dengan demikian, praktik semacam ini telah berlangsung sejak masa Rasulullah Saw.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...