Beranda Gerakan Sejarah Permusuhan Islam Mazhab Hanbali dan Sufisme, Hubungan Ambigu

Sejarah Permusuhan Islam Mazhab Hanbali dan Sufisme, Hubungan Ambigu [2]

Harakah.idDi sana ada pemikiran bahwa Hanbali adalah musuh bebuyutan bagi sufisme.

Mazhab Hanbali. Sekarang, saya ingin menjangkau –dan dengan cara khusus, relasi yang terbangun antara Hanbali dan Sufisme. Dimana di sana ditemukan banyak pemikiran-pemikiran yang dihasilkan. Di sana, sebagai contoh, ada pemikiran yang mengatakan bahwa Al-Ghazali menjadikan sufisme bercorak tradisionalis-sunni. Dalam arti, ia mendamaikan antara sufisme dengan tradisionalisme Islam Sunni. Di sana ada pemikiran yang menyatakan bahwa antara fikih dan tasawuf terdapat permusuhan yang mengakar kuat, sekira seorang ahli fikih tidak mungkin menjadi seorang sufi. Di sana ada pemikiran bahwa Hanbali adalah musuh bebuyutan bagi sufisme. Ini semua adalah pemikiran-pemikiran yang menyibukkan kita dalam format khusus. Kenyataannya, jika kita kembali kepada buku “Islamicus Index” (karya JD. Pearsone, 1958), kita akan menemukan dalam tema “Mu’aradhah Al-Shufiyyah”, nama seorang Hanbali terkenal; Ibnul Jauzi. Judul kitabnya “Talbis Iblis” yang sudah diterjemahkan oleh Margoliout ke dalam bahasa Inggris. Ini adalah kitab yang diduga keras, Ibnul Jauzi menyerang sufisme. 

Saya ingat Al-Ghazali dalam beberapa kesempatan. Di sini dan di sana, dalam kajian saya. Dalam banyak kesempatan ketika persoalan berkaitan dengan pemikiran-pemikiran yang dapat diakses. Saya tidak ingin mengisyaratkan bahwa orang alim ini tidak pantas mendapatkan perhatian besar dari para spesialis pengkaji Islam. Tetapi, kajian Al-Ghazali tanpa kita mendalami secara mendalam fase-fase hidupnya, dan tanpa kita menspesifikasi bagian-bagian yang cukup dari usaha kita untuk mengkaji selain Al-Ghazali dari ulama-ulama sezaman dengannya, maksudnya akan ada kekhawatiran dari kita akan memberikan kepadanya posisi yang tidak benar, kekhawatiran yang membuat kita berlebihan dalam membuat generalisasi tanpa memperhatikan kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sejarah. Ini tidak berarti, perngkajian terhadap Al-Ghazali telah “melebihi dari yang seharusnya”. Tidak. Bahkan, saya katakan, Al-Ghazali baru dikaji “kurang dari yang seharusnya.” Jika kajian terhadap Al-Ghazali saja kurang, lebih kurang lagi kajian terhadap ulama-ulama Islam lainnya.

Tetapi, kita harus bertanya pada titik awal, bagaimana kita bisa sampai pada pemikiran yang menyatakan bahwa Al-Ghazali adalah tokoh yang berhasil mewujudkan perdamaian asumtif (integrasi) antara sufisme dan tradisionalisme Sunni. Apakah, sebuah keniscayaan, mengingatkan bahwa Al-Ghazali juga merupakan tokoh yang berperan dalam integrasi antara Kalam Asy’ari dengan kecenderungan tradisionalisme-Sunni. Kapan proyek integrasi itu dilakukan? Sesuai yang dikatakan, integrasi itu terwujud dalam fase ketika ia mengajar di Universitas Nizhamiyah. Saat ia mengampu Kalam Asy’ari, maksudnya dalam rentang tahun 484 H./1091 M. dan 488 H./1095 M. Pada saat yang sama, kita melihat sesuai dokumen pewakafan lembaga pendidikan ini dan sesuai istilah-istilah yang digunakan di dalam kurikulumnya, belum ada mata kuliah Ilmu Kalam di Universitas Nizhamiyah. Dan al-Ghazali belum mengajar selain fikih Syafi’i. Selain perlu kita yakini bahwa adalah sebuah kesalahan menyebut al-Ghazali adalah tokoh yang menyatukan antara Asy’ariyah dan Salafi-Atsari. Ada keyakinan juga yang menyatakan wajibnya menisbatkan peran penting Al-Ghazali secara khusus dalam sufisme.

Tetapi, jika Islam sejatinya menunggu lima abad sampai berdiri Al-Ghazali dengan kesalafan sufisme, maksudnya menempatkan sufisme bersesuaian dengan salafisme Ahli Hadis, lalu bagaimana dan dengan apa kita mendeskripsikan para sufi yang mendahului al-Ghazali? Sebagai contoh, Al-Junaid atau Abu Thalib Al-Makki yang mana kitabnya “Qut Al-Qulub” adalah dasar penyusunan kitab Al-Ghazali “Ihya’ Ulumuddin”. Atau Abu Abdurrahman Al-Sulami, sejarahwan sirah dan profil para sufi sampai masanya, khususnya dalam kitabnya “Thabaqat Al-Shufiyyah”. Yang mana di dalamnya, ia menyantumkan setiap ulama yang dalam pikirannya termasuk dalam golongan para sufi. Mereka semua adalah para pendahulu Al-Ghazali. Karena, Al-Sulami yang sufi wafat sebelumnya , 38 tahun sebelum lahirnya Al-Ghazali. Dimana pula kita harus menempatkan Abul Qasim Al-Qusyairi, penulis “Al-Risalah” yang terkenal tentang sufisme dan wafat pada tahun 465 H./1072 M. ketika Al-Ghazali belum melewati usia 15 tahun. 

Telah mantap bagi semua bahwa kenyataannya tasawuf telah eksis sebelum Al-Ghazali. Tapi tidak ada seorang pun yang mengira bahwa tasawuf terselip dalam salafisme Ahli Hadis-Sunni. 

Bacalah terkait dengan persoalan ini dalam statemen Goldziher berikut; sebagai bandingan tudingan pasif dan lemah yang senantiasa diterima oleh tasawuf, mereka adalah orang-orang yang kenyang memikirkan Allah, solider bersama para pengikut yang tulus, di luar jalan sempit-kaku Salafisme-Sunni, dan melawan kerasnya formalisme dan stagnasi agama, kami mendengar pada waktu itu, sebutan al-Ghazali, sebagai argumentasi tinggi dari seorang alim yang diagungkan dari golongan ulama  Sunni-Taqlidi, melawan kerusakan yang mendatangi Islam disebabkan jebolnya kalam dan fikih. Penghormatan yang didapat oleh Al-Ghazali di tengah-tengah kaum beriman dan Muslim, dengan menyebutnya sebagai alim-sunni, itu adalah faktor yang mendorong kesuksesannya dalam menangani penyatuan (tasawuf dan fikih).

Berdasarkan statement ini dan lainnya, yang diekstrasi dari buku Goldziher, sesungguhnya Al-Ghazali adalah pihak yang berperan dalam rekonsiliasi atau integrasi antara sufisme dan Sunni-Tradisional. Goldziher mengetahui secara meyakinkan hutang Al-Ghazali pada Abu Thalib Al-Makki. Orang yang disebut oleh Goldziher sebagai “Guru sufisme klasik” yang “Direkomendasikan”, selain disebut “Guru Syariat dan Hakikat yang mana al-Ghazali mengakui bahwa dirinya berhutang banyak pada karya-karyanya.”

Dari pernyataan ini, jelas bahwa Goldziher bukan yang pertama menganggap Abu Thalib Al-Makki sebagai “Guru hakikat dan syariat”. Ini adalah deskripsi yang telah ada sebelum zaman Al-Ghazali, seperti dijelaskan oleh Goldziher.

Metode penilaian terhadap tasawauf semacam ini diadopsi pula oleh pengkaji keislaman lain, selain Goldziher. Bagi Karel Becker misalnya, tasawuf tidak berfungsi kecuali untuk menutup celah yang ditinggalkan fikih dan kalam. Tasawuf, dimana ia adalah upaya mengembalikan tindakan sesuai dengan dua bidang agama ini, punya pijakan dalam Islam, sebagaimana ia punya pijakan di atas entitas lain yang dinilai asing. Pengkaji lain keislaman yang terheran-heran, adalah Vollers dalam sebuah makalah yang dipublikasikan di Ensiklopedia Agama dan Moral, ketika ia menemukan bahwa Al-Sya’rani dalam waktu yang bersamaan adalah seorang ahli fikih, kalam dan sekaligus pengamal tasawuf, “Urgensi dualitas yang dimiliki oleh Al-Sya’rani.. Secara praktis dan teoritis dari ahli tasawuf, di level dasar, dan ia dalam waktu yang sama, adalah seorang penulis besar dan otentik dalam bidang kalam dan fikih.” Keheranan Voller tumbuh dari titik dimana dia tidak melihat bagaimana mungkin dalam Islam, tasawuf yang dikonsiliasi bersama fikih dan kalam, mendarah-daging dalam satu individu seorang ulama.

Sebagai perbandingan, uamt Muslim melihat kitab biografi ulama, seperti penjelasan yang telah lewat, dengan cara yang beragam. Al-Subki sebagai contoh, ia mencantumkan dalam kitabnya tentang biografi ulama, sejumlah individu yang pakar fikih sekaligus seorang pengamal tasawuf dalam waktu bersamaan. Di antaranya adalah Abu Nu’aim Al-Ashbahani “Al-Shufi”, “Yang menggabungkan pengetahuan fikih dan pengetahuan tasawuf”, sesuai bahasa Al-Subki. Di antara mereka adalah Abu Khalaf Al-Thabari yang disebut oleh Al-Subki sebagai “Ahli fikih sekaligus Sufi”.

Penting disampaikan di sini bahwa dua orang ahli fikih ini adalah dari kelompok Asy’ariyah. Keduanya hidup dan wafat sebelum Al-Ghazali tampil dalam proyek rekonsiliasi subyektif terjadi antara tasawuf dan Islam-Sunni Tradisional. Abu Nu’aim Al-Ashbahani wafat tahun 430 H./1039 M., Abu Khalaf Al-Thabari wafat tahun 470 H./1078 M. Artinya, beberapa tahun sebelum Al-Ghazali diangkat jadi dosen di Universitas Nizhamiyah. Abu Khalaf adalah ulama yang hidup sezaman dengan sufi terkemuka bermazhab Syafi’i, Al-Qusyairi. Ia menulis kitab tentang tasawuf yang menyerupai “Al-Risalah Al-Qusyairiyyah”, hanya saja karya ini tidak sampai kepada kita.  

Di tengah konfirmasi kitab biografi ulama di lingkungan umat Islam, konfirmasi ini kami temukan dalam kitab biografi ulama mazhab-mazhab fikih yang berbeda-beda. Sebagian di antara kitab biografi tersebut meneruskan ‘persepsi awal’ soal eksistensi konflik politis antara ortodoksi tradisional (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) di satu sisi, dan tasawuf di sisi lain. Kesimpulan yang bisa kita ambil dari tesis-tesis ini adalah digolongkannya kaum Hanbali –salah satu mazhab yang paling konservatif di antara mazhab-mazhab Sunni, sebagai musuh terbesar tasawuf.

Di sinilah, urgensi buku karya Marijan Mole yang membicarakan tentang tasawuf.  Ia menentang konsepsi (antagonisasi Hanbali-Tasawuf) semacam ini. Kalian bacalah ulasannya tentang ulama dan darwisy berikut: “Keduanya adalah dua keluarga ruhani yang berbeda. Kontradiksi dan koeksistensi keduanya telah menghiasi seluruh kebudayaan Islam. Tetapi, kontradiksi tidak meniscayakan sufisme membutuhkan rekonsiliasi atau penyesuaian dengan Sunni-Tradisionalis. Karena, jika kondisinya seperti itu, niscaya akan diharuskan adanya sufisme berasal dari luar Islam Sunni-Tradisional. Dan bahwa tasawuf berkembang di luarnya dan melawannya. Ini tidak benar sama sekali. Di sana, ada di setiap zaman, para pengamal tasawuf yang juga seorang ahli fikih dalam satu waktu. Seperti Junaid yang terkenal dan populer. Ia  bukan satu-satunya contoh mengenai kesatuan fikih-tasawuf ini. Akidah-akidah mereka tidak keluar dari syariah. Justru, akidah-akidahnya berakar pada syariah.” (Les Mystiques musulmans, 1959)

Kenyataanya, dokumen-dokumen dan manuskrip-manuskrip yang ada di hadapan kita sejak era yang cukup tua menunjukkan hubungan yang erat antara Hanbali dan tasawuf, sebagaimana yang dijelaskan oleh Mole. Hanya saja, sebagian orang mengkaji secara panjang lebar agar tidak terbukti sebaliknya. Dalam arti mewujudkan penafsiran yang bisa diterima untuk menjaga keberlangsungan gagasan perseteruan yang mengakar di antara keduanya.

Tidak mungkin, sebagai contoh, mengingkari adanya dua orang sufi Hanbali agung; Al-Anshari Al-Harawi dan Abdul Qadir Al-Jilani. Tetapi, sebagian orang berpegang pada pandangan bahwa keduanya merupakan korban sopistikasi Mutakallimin. 

Inilah yang mendorong keduanya berafiliasi dengan mazhab Hanbali, yang merupakan tempat yang nyaman untuk menghindari perdebatan akidah yang melelahkan. Dan sebagai konfirmasi untuk pernyataan ini, disebutkan bahwa Al-Anshari telah menulis sebuah kitab yang mengkritik ilmu kalam. Tidak ada jaminan keseriusan dalam afiliasi mereka. Karena, kedua sufi ini menolak ilmu kalam karena sebab lain selain sebab yang mendorong mereka berafiliasi dengan Mazhab Hanbali. Yaitu sebab yang tidak disebutkan oleh seorang ulama pun.

Tidak jelas bahwa sebagian dari keduanya mendapati urgensi perasaan positif yang dinyatakan kedua sufi tersebut untuk mengagungkan mazhab Hanbali. Seperti ungkapan-ungkapan Al-Anshari yang mendendangkan syair yang berisi pesan bahwa dirinya pengikut Hanbali. Dia menyampaikan kepada sahabat-sahabat sufinya sebuah nasihat agar mereka bergabung dengan mazhab Hanbali, “Wasiatku kepada semua orang, hendaknya mereka menjadi pengikut Hanbali.”

Hanya, tesis yang menyatakan bahwa para sufi tersebut berafiliasi dengan Mazhab Hanbali karena melarikan diri dari kerumitan Kalam Asy’ari yang menjelaskan persoalan dengan cara yang lebih rumit dibanding persoalan tersebut. Sebagai contoh, bagaimana mungkin para sufi tersebut menemukan tempat berlindung di dalam mazhab Hanbali, jika mazhab ini secara faktual justru memusuhi tasawuf?  Al-Ghazali, sesuai yang dikabarkan, dia adalah seorang pengamal tasawuf yang menghindari kerumitan ilmu kalam, lalu kenapa ia tidak berafiliasi dengan mazhab Hanbali atau lainnya dari mazhab-mazhab yang memusuhi tasawuf? Bagaimana mungkin juga seorang sufi Abu Nasr Al-Qusyairi Ibnul Qusyairi yang sudah diulas sebelumnya, ia bergabung dengan Asy’ariyah; melawan Hanabilah?

Di sana, juga, ada sufi Hanbali Ibnu Qayyimil Jauziyyah, dimana sebagian ulama melihat pemikiran-pemikiran tasawufnya. Khususnya yang berkaitan dengan cinta kepada Allah, yang dipengaruhi oleh Al-Ghazali. Sebagai alternatif dari pengaruh mazhab Hanbalinya. Tidak jelas bahwa di sana pemahaman terhadap kenyataan bahwa sufi Hanbali ini, ternyata juga menulis syarah kitab sufi populer Manazil Al-Sa’irin karya Sufi Hanbali Al-Anshari Al-Hanbali. 

Baca Juga: Mazhab Hanbali dan Tarekat Sufi, Para Hanabilah Pengamal Tasawuf [3 – Habis]
Baca Juga: Apakah Ulama Mazhab Hanbali Memusuhi Tasawuf?

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...