Beranda Sejarah Sejarah Perpustakaan Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah, Kejayaan dan Keruntuhan

Sejarah Perpustakaan Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah, Kejayaan dan Keruntuhan

Harakah.id Artikel ini akan menjelaskan tujuan serta memberi pemaparan tentang bagaimana berkembangnya perputakaan dalam sejarah keislaman, peran perpustakaan dalam peradaban Islam, perpustakaan-perpustakaan terpenting pada masa peradaban Islam hingga kehancuran perpustakaan Islam.

Perpustakaan keislaman menjadi sesuatu yang amat melekat terhadap jalannya sejarah umat Islam itu sendiri. Semenjak berdirinya perpustakaan, agama ini adat perpustakawannya telah dikenalkan serta dasar-dasar bagi tumbuh dan berkembangnya perpustakawan telah dicanangkan.

Fakta tersebut dibuktikan dengan bertumbuhnya serta berkembangnya pusat perpustakaan dalam pembangunan kehidupan peradaban umat islam. Banyak hal yang harus diketahui dalam sejarah perpustakaan Islam dari sudut pandang yang berbeda. Didalam tulisan ini aka dicabarkan beberapa mengenai sejarah perpustakaan Islam  dan yang berkaitan dengan hal tersebut.

Artikel ini akan menjelaskan tujuan serta memberi pemaparan tentang bagaimana berkembangnya perputakaan dalam sejarah keislaman, peran perpustakaan dalam peradaban Islam, perpustakaan-perpustakaan terpenting pada masa peradaban Islam hingga kehancuran perpustakaan Islam.

Perkembangan Perpustakaan Didunia Islam

Lingkup kesejarahan semenjak berdirinya keislaman, kepenulisan telah menjadi asal muasal tumbuhnya keperpustakaan. Pedersen berpendapat bahwasanya (1996:15-16),dengan ditemukannya tulisan-tulisan diatas sebongkah batu yang diyakini sebagai do’a, sebutan suatu tempat, perhukuman, dan dokumen-dokumen, serta kiasan keislaman dapat menjadi bukti bahwasanya kemasyarakat pra-islam di jazirah arab sebelumnya telah mengenal tulis menulis. Berdasarkan temuan pada masa prasejarah melalui penelitian AlKhatib,(1998:127) ditemukan fakta tentang keberadaan tulisan yang berada di semenanjung bangsa arab yang menggunakan bahasa bangsa arab terdahulu. Orang-orang Arabia sendiri memiliki julukan kepada seseorang yang pandai dalam kepenulisan, pandai dengan alat panah, serta memiliki kepandaian dalam renang. Walaupun begitu, secara umum alKamil Arabia merasa mealu ketika menunjukkan keahliannya dimuka umum. Disamping itu, Penyair tersohor arabia amat merasa bangga atas hafalan serta kemampuan mereka dalam kuatnya mengingat. Mereka akan selalu menutupi kemahirannya ketika sedang membaca suatu bacaan maupun menulis karangan atau tulisan.

Berkenaan ketika perputsakaan pertama kali lahir, para ahlul sejarah memilik pendapat-pendapat yang muncul seiring dengan perkembangan keperpustakaan. Berikut ini awal berkembangnya sejarah berdirinya perpustakaan Islam menurut para ahli:

Menurut Muhammad Mustafa Azami

Kesejarahan perputakaan keislaman muncul pada masa sekitar akhir abad 6 Hijriah. Perpustakaan yang didalamnya terdapat berbagai macam buku serta tempat permainan pertama kali didirikan oleh Abdul Hakam bin ‘Amr bin Abdullah. Perpustakaan tersebut juga menyediakan tempat untuk menggantung baju dimana fungsinya agar pengunjung perpustakaan dapat menaruh bajunya, kemudian dapat menlanjutkan membaca buku maupun bermain permainan. Dalam kitab Al-Aghani karya Abu Al-Faraj Al-Ashfahani (1995) jilid 4 halaman 250 dapat ditemui penjelasan-penjelasan tersebut. Disisi lain, Abdurrahman bin Abu Laila mendirikan perpustakaan terkhusu bagi para orang yang ingin membaca AlQuran. Didalam keperpustakaan tiu dapat ditemui lembaran-lembaran dimana Pada perpustakaan tersebut terdapat mushaf-mushaf di mana orang-orang pedesaan mauupun perkampungan membaca AlQur’an serta saling berkumpul satu sama lain. Orang-orang tersebut jarang keluar uktuk beraktivitas, namun mereka akan keluar bila ada kebutuhan yang harus dipenuhi seperti mencari makanan.[1]

Dari uraian diatas, berarti permulaan berdirinya keperpustakaan ketika masa kepemerintahan Bani Umayyah ada pada kepemimpinan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Menurut data kesejarahan, Mu’awiyah bin Abu Sufyan berkuasa selama kurang lebih 19 tahun yakni pada 41 H/661 M hingga 60 H/680 M.

Pada masa Bani Umayyah perpustakaan masih dalam kondisi suatu kumpulan naskah yang dimiliki perorangan (lebih banyak dimiliki oleh para ulama), akan tetapi penggunaannya terbuka untuk umum dan digunakan untuk keperluan belajar dan mengajar. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Ali Audah (1999), bahwasanya perpustakaan yang ada pada masa daulah Bani Umayyah ialah perpustakaan Ibn Amr Ibn al-A’la (689-770 M). berdasarkan penjelasnya, berbagai buku dari macam-macam sumber berada disitu bahkan karena terlalu banyaknya, buku-buku tersebut membuat seisi rumah penuh sampai atap-atap langit tertutupi.

Pendapat Mackhensen

Menurut Machensen Sejarah berdirinya perpustakaan didunia keislaman berawal ketika keilmu pengetahuan berkembang melalui perpustakaan-perpustakaan di era Bani Umayyah karena kebiasan kepenulisan. Keperpustakaan awal yang berdiri adalah perpustakaan AlZuhri. AlZuhri didalam sejarah keislaman dianggap sebagai sosok yang memulai menulis hadits yang diinstruksikan oleh Khalifah Umar Bin Abdul Azis.

Sebagaimana pemikiran pertama, pemikiran kedua yang dipaparkan Mackensen tentang sejarah awal berdirinya perpustakaan terlebih adalah berisi kumpulan serta koleksi-koleksi baik buku, naskah, dan tulisan yang lain dari sang guru. Dengan kata lain, Kperpustakaan itu merupakan keperpustakaan mandiri.

Pendapat Ahli Sejarah

J. Pedensen  meneliti serta memaparkan bahwasanya keperpustakaan sudah didirikan oleh Khalid Yazid Ibn Muawiyah, Ali Audah berpendapat bahwa perpustakaan tersebut perpustakaan terbesar dan teratur. Jadi, Menurut pendapat ahli sejarah oleh Pedersen (1996), quraishi (1970), dan Ibn Nadim (1970) awal berdirinya perpustakaan di dunia Islam adalah perpustakaan yang didirikan oleh Khalid Ibn Yazid.

Pedersen menjelaskan bahwasanya berdirinya perpustakaan itu dilatar belakangi oleh kekecewaan karena gagal menjadi khalifah. Lantas dia mengadakan perpustakaan dalam upaya berdamai dengan diri sendiri. Mansoor A. Quraishi (1970) juga menerangkan bahwasanya sejak era Bani Umayyah dalam sejarahnya Khalid Ibn Yazid telah mendirikan keperpustakaan. Ibn AlNadim (1970) menerangkan bahwasanya Khalid Ibn Yazid menyuruh golongan filsuf Yunani yang pada saat itu hidup di Mesir untuk menterjemahkan tulisan-tulisan Yunani kedalam bahasa Arab. Karena itulah, penterjemahan mulai dilaksanakan dan juga dalam upaya menyimpanbuku-buku yang telah diterjemahkan Khalid Ibn Yazid membuat keperpustakaan.[2]

Berdasarkan pemaparan diatas Khalid Ibn Yazid telah mendirikan sebuah perpustakaan atas dasar kekecewaannya. Perpustakaan tersebut tidak hanya sebagai menyimpan berbagai literature akan tetapi sebagai pusat penerjemahan. 

Perpustakaan-Perpustakaan Islam Dalam Sejarah Peradaban Islam

Baik rakyat desa maupun perkotaan dan penguasa pemerintahan saling bersaing dalam pendirian keperpustakaan serta sarana prasanara guna melayani orang-orang yang menuntut ilmu dan para orang yang beribadah ke tanah haram pada saat itu. Hal tersebut dilaksanakan tidak lain karena keinginan dalam mencari pahala serta membuat oang-orang semakin sering menuju tanah haram.

Barangkali perpustakaan Baitul Maqdis yang paling jelas dalam menggambarkan penuhnya upaya-upaya umat Islam dalam memberikan pelayanan terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan untuk penduduk kota suci Al-Quds ini dan para pendatang kota ini dari berbagai jenis dan daerah.[3]

Adapun perpustakaan-perpustakaan yang terpenting dalam peradaban Islam yang paling Mansyhur di Baitul Maqdis adalah :

  • Perpustakaan Masjidil Aqhsa (wakaf dari orang-orang dermawan , para pembesar ulama, dan para penguasa).
  • Keperpustakaan Syaikh Al-Khalili (beridiri tahun 1138 H/1720 M)
  • Keperpustakaan Al-Khalidiyah Al-Umumyyah (berdiri tahun 1318 H/1900 M)
  • Keperpustakaan Madrasah Al-Fakhriyah (wakaf dari Qadhi Fakhruddin Muhammad bin Fadhillah).
  • Keperpustakaan Madrasah Al-Aminiyah (wakaf dari Syaikh Muhammad bin Shaleh Syaikh Madrasash.
  • Keperpustakaan Madrasah Ash-Shalahiyyah (wakaf dari Shalahuddin Al-Ayyubi pada 13 Rajab 588 H).
  • Keperpustakaan Madrasah Al-Jawaliyyah (didirikan oleh Amir Alamuddin Al-Jawali tahun 715 H/1315 M).
  • Keperpustakaan Madrasah At-Tankiziyah (didirikan oleh Amir Tankaz An-Nahiri tahun 729 H/1328 M).
  • Keperpustakaan Ali Qadhinah (didirikan oleh Madzhab Hambali, perpustakaan ini hilang setelah Israel menduduki Palestina tahun 1948 M).
  • Keperpustakaan Syaikh Ahmad bin Yahya (didirikan oleh Ahmad bin Yahya)
  • Keperpustakaan Al-Badiri (wakaf dari Syaikh Muhammad Badir Al-Maqdisi tahun 1205 H/1790 M).
  • Keperpustakaan Abdullah Mukhlis (didirikan oleh Abdullah Mukhlis tahun 1948 M).
  • Keperpustakaan Ibnu Qadhi Ash-Shalt Syafafuddin bin Muhammad (terletak didepan Masjidil Aqsha  didirikan oleh  Ibnu Qadhi Ash-Shalt Syafafuddin tahun 1598 M).
  • Keperpustakaan Al-Asyrafiyah (didirikan oleh Raja Al-Asyraf (Sya’ban bin Husain bin Qalawun).

Peradaban Islam dikenal dengan berbagai macam perpustakaan yang belum pernah diketahui pada peradaban manapun. Perpustakaan ini menyebar diseluruh penjuru negeri Islam. Perpustakaan didapati di istana khalifah, sekolah-sekolah, tempat belajar menulis dan membaca, universitas-universitas, sebagaimana juga perpustakaan didapati di ibukota pemerintahan dan di desa-desa terpencil, serta tempat-tempat yang jauh. Semua itu menguatkan akan hubungan erat akan kecintaan ilmu bagi anak-anak peradaban ini.[4]

Kehancuran Perpustakaan Islam

Kemunduran peradaban Islam tidak terlepas dari hancurnya perpustakaan-perpustakaan Islam. Ilmu dihancurkan dengan pembakaran perpustakaan dan pembuangan buku-buku.bahan bacaan, karya-karya ulama atau ilmuan pada waktu itu hilang dengan dihancurkannya perpustakaan. Adapaun penyebab hancurnya perpustakaan Islam karena adanya : a) Perang saudara, b) Konflik Islam dan Kristen, c) Politik, dan d) Kesulitan ekonomi

Perpustakaan Muslim di Tripoli telah dihancurkan oleh tentara perang Salib, atas komando seorang rahib yang tak senang saat menemukan demikaian banyak al-Qur;an di sana. Perpustakaan besar Sultan Nuh Ibn Mansur seluruhnya terbakar, sesaat setelah filosof besar tersbut menyelesaikan penelitiannya. Ketika sekolompok bangsa Mongol dan Tartar menjarah kota Bagdad, tahun 1258, mereka membakar semua perpustakaan. Demikian juga hal serupa terjadi di Samarkan dan Bukhara.Di Spanyol, semua perpustakaan pribadi dan umum mengalami suatu akhir ketidakberuntungan, ketika bangsa Moor diusir oleh Pangeran Kristen tahun 1492 dan ribuan buku-buku berbahasa Arab dibakar. Escorial yang didirikan oleh Philip II dan berisi sejumlah besar manuskrip dan buku-buku Muslim yang diperoleh dalam penangkapan terhadap sebuah perahu Maroko, telah dibakar pada akhir Juni 1674, dan 8000 buku-buku berbahasa Arab dihancurkan. [5]

Perpustakaan-perpustakaan Islam merupakan symbol kebanggaan bagi para ilmuan khususnya ilmuan muslim. Keberadaan perpustakaan telah menjadi Peradaban Islam sangatlah maju. Kemunduran kebudayaan Islam salah satu penyebabnya adalah perpustakaan.  Akhirnya sangatlah diperlukan kesadaran bagi masyarakat ummat Islam untuk merubah pikiran bahwa kemajuan tidak dapat dicapai tanpa usaha dan penguasa terhadap ilmu pengetahuan.

Artikel kiriman dari Mukhamat Muhtazul Malik, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang


[1] Agus Rifai, Perpustakaan Islam : Konsep, Sejarah, Dan Kontribusinya Dalam Sejarah Membangun Peradaban Islam Masa Klasik, ( Jakarta : Rajawali Press, 2014 ), Hlm.60

[2] Ibid, Hlm.63

[3] Salamah Muhammad Al-Harafi, Buku Pintar Dan Sejarah Dan Peradaban Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar,2016),Hlm.448

[4] Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, (Jakarta : Al-Kautsar, 2011), Hlm.672

[5] Fatimah Zuhrah, Perpustakaan Sebagai Pusat Studi Islam, ( Jurnal Iqra Nomor 02 Volume 02, 2008 ), Hlm.70

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...