Beranda Sejarah Sejarah Pesantren Darussalam Parung, Pondok Pesantren Tertua di Parung Bogor

Sejarah Pesantren Darussalam Parung, Pondok Pesantren Tertua di Parung Bogor

Harakah.id Harapan ini kemudian diwujudkan dengan dibangunnya Pondok Pesantren Darussalam di Desa Pamegarsari, Parung, Bogor, Jawa Barat pada tahun 1989. Haji Usman mewakafkan beberapa meter tanah untuk dibangun Gedung Madrasah dan Asrama Santri.

Setelah VOC menguasai Batavia, kekuasaannya terus meluas hingga ke arah selatan sampai ke Buitenzorg atau Bogor. Di sebelah, kawasan yang dikuasai VOC berbatasan dengan Kesultanan Banten.

Perbatasan antara kedua kekuasaan ini dibatasi oleh Sungai Cisadane yang membentang dari kota Bogor sampai Kota Tangerang di Pantai Utara. Sebelah Barat sungai Cisadane berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten. Sedangkan sebelah timur dikuasai VOC. Termasuk di antaranya adalah kawasan Kuripan dan Parung. Parung pernah menjadi pusat distrik yang membawahi Depok dan Bogor.

Sekalipun pernah dijadikan pusat pemerintahan setingkat kabupaten pada era VOC, nyatanya Parung kemudian menjadi daerah yang lebih tertinggal dibanding dua bekas bawahannya, Depok dan Bogor. Dua kawasan yang disebut terakhir berhasil menjadi kawasan yang maju dan padat saat ini.

Sekalipun berada dalam kekuasaan VOC, para pendakwah yang dikirim Kesultanan Banten dapat menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat di daerah Parung secara berkelanjutan. Salah satunya, dapat dilihat dari keberadaan makam tua yang disebut Makam Demang Arya atau Sunan Parung. Makam ini berada di desa Waru, dekat dengan Kantor Pemerintahan Kecamatan Parung, Bogor.

Dakwah Islam terus bergulir di kawasan Parung dengan kedatangan para pendatang dari daerah Sunda maupun Batavia. Menjelang era kemerdekaan, beberapa ulama datang ke kawasan ini seperti KH. Mansur dan KH. Syamlawi. Kedua tokoh ini adalah santri dari kawasan Cisaat, Sukabumi.

Kedatangan kedua tokoh Islam ini semakin memperkuat dakwah Islam di kawasan Parung. Dimana pada era pasca kemerdekaan, kedua tokoh menjadi penggerak organisasi-organisasi Islam seperti NU, PUI dan Masyumi. KH. Mansur bergabung dengan PUI (Persatuan Umat Islam) yang didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi, Gunungpuyuh, Sukabumi. Sedangkan KH. Syamlawi bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari, Jombang Jawa Timur.

Setelah Indonesia merdeka, NU dan PUI menjadi salah satu anggota istimewa Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Namun, kemudian terjadi perpecahan sehingga beberapa anggota istimewa Masyumi melepas keanggotannya dalam partai tersebut. Hal ini berakibat pada perpecahan para alim ulama yang dulunya pernah bernaung di bawah partai tersebut.

Sekalipun kondisi sosial politik berjalan dinamis dengan berbagai macam warna-warninya, dakwah Islam tidak berhenti. KH. Mansur misalnya, mendirikan SMP Islam Parung. Lokasinya berada di dekat Masjid Besar Riyadhus Shalihin Parung. Sedangkan KH. Syamlawi mendirikan Madrasah Tsanawiyah, yang kemudian menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Bogor. Lokasinya berada di Desa Pamegarsari, di selatan Pasar Parung.

Pada tahun 1980-an, seorang pengusaha dari Jakarta datang ke Desa Pamegarsari, Parung. Ia membeli sejumlah tanah di desa tersebut. Pengusaha tersebut bernama H. Usman bin Muhammad. Haji Usman, demikian ia akrab dipanggil, merupakan seorang pengusaha sukses dan anak Haji Muhammad, seorang ulama Betawi seangkatan Habib Ali Kwitang.

Dalam sejarah hidupnya, Haji Muhammad adalah seorang yang aktif berdakwah dengan cara mengajarkan kitab kuning dari satu masjid ke masjid lainnya. Dari satu musalla ke musalla lainnya. Selain ia memiliki sejumlah usaha.

Dari sekian banyak anak Haji Muhammad, Haji Usman adalah anak yang berhasil mewarisi jiwa entrepreneurship sang ayah. Tetapi, didikan keagamaan sejak kecil telah menumbuhkan semangat dan kepedulian terhadap agama Islam.

Ketika ia mendatangi desa Pamegarsari ini, ia melihat bahwa daerah ini masih memerlukan penguatan dakwah Islam. Ia berkenalan dengan ulama setempat, KH. Syamlawi dan lainnya. Kemudian, Haji Usman mendirikan Musalla kecil di kampung tersebut. Musalla kecil itu, kelak akan berkembang menjadi pondok pesantren.

Sebagai orang yang memiliki kepedulian terhadap agama, Haji Usman mengirim anak-anaknya ke sejumlah pesantren di Sunda dan Jawa. Misalnya, ia mengirim anaknya Ali Nurdin dan Muhammad Yunus ke pesantren Sunanul Huda, di Sukabumi. Selepas dari pesantren yang menjadi basis pendukung Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, keduanya mengembara ke Jawa Tengah dan masuk pesantren Tegalrejo, Magelang. Beberapa pesantren di tanah Betawi juga disinggahi oleh anak-anak Haji Usman tersebut, seperti pesantren Al-Asyiratus Syafi’iyyah, Jakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan di sejumlah pesantren, anak-anak Haji Usman mulai berdakwah di Pamegarsari Parung. Bermula dari pengajian di Musalla kecil, pengajian itu berkembang dengan semakin banyaknya jamaah dari masyarakat sekitar.

Haji Usman dan putera-puterinya kemudian memikirkan bahwa akan sangat bagus jika kelak ada pondok pesantren yang menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman di kawasan ini. Karena, menurut sebagian sumber, saat itu belum ada pondok pesantren.

Harapan ini kemudian diwujudkan dengan dibangunnya Pondok Pesantren Darussalam di Desa Pamegarsari, Parung, Bogor, Jawa Barat pada tahun 1989. Haji Usman mewakafkan beberapa meter tanah untuk dibangun Gedung Madrasah dan Asrama Santri. Dua puteranya, yaitu KH. Ali Nurdin dan KH. Muhammad Yunus menjadi dua pilar utama perjalanan awal pondok pesantren ini.

KH. Ali Nurdin pada tahun 1990-an, tercatat kemudian menikah dengan puteri KH. Syamlawi, Parung. Demikian pula dengan KH. Muhammad Yunus, sang adik, yang juga turut menikah pada tahun awal pendirian Pesantren Darussalam.

Pesantren Darussalam tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga melaksanakan pendidikan umum dengan mengadopsi sistem madrasah. Saat itu, dibuka dua tingkatan sekaligus, yaitu tingkat Tsanawiyah dan Aliyah.

Hubungan yang baik dengan berbagai pihak, aktifitas KH. Ali Nurdin sebagai penceramah kondang pada zamannya, serta keterlibatannya dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Parung telah mengantarkan pada perkembangan pesantren Darussalam dengan cara yang mengagumkan. Dari puluhan hingga ratusan santri berdatangan menuntut ilmu di pesantren ini. Kebanyakan santri pesantren Darussalam berasal dari wilayah sekitar Parung, seperti Ciseeng, Gunungsindur, Depok, Bogor dan Tangerang.

Sejak berdiri hingga hari ini, Pesantren Darussalam telah melahirkangenerasi muda yang memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang lebih baik. Ada pula yang berhasil menjadi tokoh agama di masyarakatnya masing-masing. Para alumni Pesantren Darussalam memiliki profesi yang sangat beragam; mulai dari pedagang, guru dan lain sebagainya. Apapun profesi mereka, pengetahuan agama yang lebih baik dibanding masyarakat pada umumnya menjadi salah satu keunggulan mereka.

Di bawah kepemimpinan Bapak Haji Burhan Wira Subrata sebagai pembina, dan Ibu Hj. Hapsah, S.Ag sebagai ketua yayasan, Pesantren Darussalam terus berbenah dan melanjutkan misi mencerdaskan kehidupan bangsa serta memegang teguh misi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan (tafaqquh fid din).

Berbagai program dikembangkan untuk mendukung tujuan mulia ini. Hal ini seperti program sekolah formal melalui Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), SMK Multimedia, Balai Latihan Komunitas (BLK), pengajian bandongan dan sorogan Kitab Kuning, Bahsul Masail, Muhadharah, Tahfizh Al-Quran, dan program-program strategis lainnya.  

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...