Beranda Keislaman Hadis Sejarah Singkat Perkembangan Hadis pada Zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in

Sejarah Singkat Perkembangan Hadis pada Zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in

Harakah.idHadis Nabi SAW terbentuk di kota Mekah dan Madinah selama 23 tahun. Jumlah terbesar hadis merupakan peristiwa yang terjadi setelah Nabi SAW berhijrah ke Madinah (Baca: Hadis Madani).

Hadis merupakan seluruh laporan tentang Nabi Muhammad SAW. Meliputi kata-kata, tindakan, pengakuan dan karakteristik fisik serta mental Nabi Muhammad SAW. Hadis menjadi salah satu rujukan keagamaan umat Islam yang utama, setelah Al-Quran. Hadis terbentuk sejak Nabi SAW mendapat wahyu hingga beliau wafat di Madinah. Hadis Nabi SAW terbentuk di kota Mekah dan Madinah selama 23 tahun. Jumlah terbesar hadis merupakan peristiwa yang terjadi setelah Nabi SAW berhijrah ke Madinah (Baca: Hadis Madani).

Terbentuknya hadis bersifat sangat alami. Para sahabat merekam interaksinya bersama Nabi SAW, secara alami dan secara sadar. Nabi SAW hidup di tengah-tengah sahabatnya dan komunitas lain di jazirah Arab abad ketujuh. Nabi SAW menyampaikan khutbah, pelajaran, perintah, keputusan hukum, nasihat, dan memberikan tuntunan kepada para pengikutnya.

Setelah wafatnya Nabi SAW, para sahabat menghadapi berbagai persoalan. Terkadang membutuhkan legitimasi. Nabi SAW meninggalkan kekuasaan, ajaran, tuntunan dan tradisi. Tradisi dan kata-kata yang pernah disampaikan oleh Nabi, dan diingat oleh sahabat, menjadi rujukan legitimasi penting pada zaman sahabat. Di sini, hadis telah menjadi otoritas yang terpisah dari pribadi Nabi SAW.

Para sahabat yang pernah mendengar kata-kata Nabi SAW, akan teringat ketika menghadapi suatu peristiwa. Nabi SAW telah menjadi “Idol” bagi para sahabat. Kata-kata dan tindakannya kerap dikutip, setidaknya seorang sahabat akan mengingat pengalamannya bersama Nabi SAW. Karenanya, tidak heran jika dalam merespon suatu peristiwa, seorang sahabat seringkali mengutip kata-kata Nabi SAW.

Di antara sekian banyak sahabat Nabi SAW, ada sebagian sahabat yang sangat bersemangat mengoleksi hadis. Sebagian di antaranya cukup bersemangat menyebarkan kata-kata yang diklaim sebagai kata-kata Nabi SAW. Umar bin Khathab, pemimpin umat Islam saat itu, sampai perlu mengeluarkan instruksi yang melarang sahabat meriwayatkan hadis.

Bersamaan dengan penyebaran para sahabat ke berbagai kota di Timur Tengah, hadis turut menyebar bersama mereka, keluar dari kota Madinah. Pusat penyebaran hadis di antaranya adalah Damaskus, Kufah, Basrah, Yaman, Mesir, dan beberapa kota di Asia Tengah.

Pertengahan zaman sahabat, terjadi konflik sesama umat Islam. Bersamaan konflik di kalangan umat Islam itu, muncul kelompok yang membuat hadis palsu. Para murid sahabat mulai berhati-hati dalam menerima hadis. Sikap hati-hati ini adalah embrio munculnya tradisi isnad (silsilah keguruan). Sebagaimana sahabat, ada generasi tabi’in yang senang mengumpulkan kata-kata Nabi SAW. Atau lebih dari itu, membuat catatan-catatan. Fenomena ini semakin massif. Puncaknya, Umar bin Abdul Aziz (101 H.), penguasa Dinasti Umayah, mengeluarkan instruksi pengumpulan hadis (tadwin). Al-Zuhri (124 H.) mendapatkan amanat melaksanakan perintah ini. Tadwin adalah pengumpulan catatan-catatan yang berisi hadis.

Malik bin Anas (179 H.) tercatat mengeluarkan catatan pertama dan tertua yang terjaga hingga hari ini yang disebut Al-Muwatha’. Catatan pada generasi awal, umumnya, masih bercampur antara kata-kata Nabi, kata-kata sahabat, dan kata-kata para tabi’in. Murid Malik bin Anas yang bernama Imam Al-Syafi’i (w. 204 H.) merancang teori yang menjadi cikal-bakal ilmu kritik hadis yang disebut ulumul hadis.

Demikian sejarah perkembangan hadis pada zaman Nabi, sahabat dan tabi’in. Semoga “Sejarah Singkat Perkembangan Hadis pada Zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in” bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...