Beranda Khazanah Sejarah Tafsir di Masa Tabiin, Dari Polarisasi Acuan Tafsir Hingga Dominasi Kisah-Kisah...

Sejarah Tafsir di Masa Tabiin, Dari Polarisasi Acuan Tafsir Hingga Dominasi Kisah-Kisah Israiliyyat

Harakah.idSejarah tafsir di masa tabiin sama menariknya dengan sejarah tafsir di fase-fase sebelumnya maupun sesudahnya. Tafsir di masa tabiin memiliki karakteristiknya sendiri, baik itu soal metodologi, sumber dan lain sebagainya.

Secara etimologi makna tabi’in menurut Kamus Mahmud Yunus berasal dari bahasa arab yang berarti mengiring, mengikut, menurut, dan mengusir. Secara sederhana, yang dimaksud dengan masa tabi’in adalah masa yang datang setelah masa sahabat dan  juga mereka yang mengikuti jejak para sahabat dalam hal akidah yaitu beragama Islam, oleh karena itu orang-orang yang hidup pada masa tersebut jika tidak beragama Islam maka tidak bisa disebut golongan tabi’in. Bahkan, menurut al-Khatib al-Baghdadi (sejarawan dari Baghdad yang hidup pada abad ke 4 h), seorang muslim dapat dikatakan sebagai tabi’in jika pernah bersahabat dengan sahabat Rasulullah jadi bukan sekedar pernah hidup di masa tersebut atau pernah berjumpa saja.

Kebutuhan Para Tabi’in Terhadap Tafsir

Sama halnya dengan generasi sahabat, generasi tabi’in juga tentu sangat membutuhkan tafsir, terlebih karena semakin berkembang zaman membuat kebutuhan akan tafsir akan semakin bertambah, hal ini dikarenakan problem-problem yang dialami oleh manusia pun semakin banyak yang bahkan tidak terjadi pada masa Rasulullah dan sahabat.

Maka dari itu, para tabi’in memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar untuk mempelajari tafsir dari para sahabat tentang apa yang mereka terima dari dari Rasulullah secara langsung dan apa yang mereka saksikan setelah sebab-sebab turunnya sebuah ayat, apa yang mereka pahami dan apa yang mereka amalkan tentang ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam menuntut ilmu tafsir kepada sahabat para tabi’in sangat tekun dan serius, bahkan dalam “Studi Perbandingan Aqidah dan tafsir” dijelaskan para tabi’in bahkan membawa alat tulis untuk mencatat dan menanyakan pada sahabat tentang penafsiran yang mereka butuhkan dari Surah Al-Fatihah sampai akhir. Di sini fase awal sejarah tafsir di masa tabiin terbentuk.

Sumber dan Karakteristik Penafsiran Tabi’in

Hal yang lain yang patut diamati dari sejarah tafsir di masa tabiin adalah soal sumber dan karakteristik. Yang dimaksud dengan sumber penafsiran adalah faktor atau rujukan yang dapat dijadikan acuan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Nah sumber penafsiran tabi’in ada empat: Al-Qur’an, Hadis Nabi, Atsar sahabat, Ahl kitab dan ijtihad tabi’in.

Sementara karakteristik dari tafsir tabi’in seperti yang disebutkan oleh Muhammad Amin Suma dalam “Ulumul Quran” terdapat empat karakteristik. Pertama, tafsir masih dijaga dengan sistem talaqqi dan riwayat, namun bukan talaqqi dan riwayat dengan arti komprehensif seperti yang ada pada masa Nabi, melainkan talaqqi dan riwayat yang dibatasi pada figur, seperti ulama Mekkah yang hanya menaruh perhatian pada riwayat dari Ibnu Abbas, ulama Madinah dari Ubay dan seterusnya.

Kedua, banyak perbedaan pendapat di antara tabi’in dalam penafsiran, meskipun relatif sedikit dibanding dengan perbedaan pendapat yang terjadi sesudahnya. Ketiga, di masa ini telah muncul benih-benih perbedaan mazhab. Sebagian tafsir tampak mengusung mazhab-mazhab ini di dalamnya. Keempat, banyak mengambil sumber dari kisah israilliyat. Hal ini karena banyaknya ahl kitab yang masuk islam, dan dipikiran mereka masih melekat ajaran-ajaran kitab suci mereka, khususnya hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan hukum-hukum syariat seperti berita tentang awal penciptaan, dan lain-lain. 

Terdapat empat tokoh mufassir yang paling aktif dan banyak menafsirkan Al-Qur’an di masa tabi’in yang juga disebutkan oleh Muhammad Amin Suma dalam “Ulumul Quran”. Mereka adalah murid-murid Ibnu Abbas (Mujahid, Ikrimah, Thawus bin Kisan al-Yamani, dan Atha bin Abi Rabbah), murid-murid Ubay bin Ka’ab (Zaid Ibnu Aslam, Abu ‘Aliyah, dan Muhammad Ibnu Ka’ab al-Qurzhi), dan murid-murid Abdullah bin Mas’ud (Alqamah Ibnu Qais, Masruq, al-Aswad ibnu Yazid, Murah al-Hamdani, Amir as-Sa’bi, Hasan al-Basri, dan Qatadah ibnu Di’amah as-Sudusi).

Penafsiran-penafiran dari tabi’in ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab tafsir seperti Tafsir ath-Thabari, dan juga terdapat dalam kitab-kitab hadis. Ali Ahmad as-Salus dalam “Studi perbandingan Aqidah dan Tafsir” mengatakan bahwa Sa’id bin Jubair dan Mujahid bin Jabar sebenarnya memiliki tafsir yang telah dibukukan, namun sayangnya kitab tafsir Sa’id bin Jubair tidak sampai ketangan kita hingga sekarang sementara tafsir Mujahid telah didapatkan tulisan tangannya (manuskrip) yang kemudian disalin ke dalam tulisan yang bagus pada abad ke enam hijriyah.

Itulah ulasan singkat tentang sejarah tafsir di masa tabiin, yang menjadi pondasi bagi ilmu dan kerja tafsir al-Quran di abad-abad setelahnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...