Beranda Keislaman Hadis Sejarah Takwil dalam Kajian Pemahaman Hadis, Penerimaan dan Penolakan

Sejarah Takwil dalam Kajian Pemahaman Hadis, Penerimaan dan Penolakan

Harakah.idKajian tentang takwil telah menyita perhatian kesarjanaan Muslim selama berabad-abad. Perdebatan ini mewakili posisi akademis sekaligus ideologis-sektarian. Inila sejarah takwil dalam kajian pemahaman hadis.

Kajian tentang takwil telah menyita perhatian kesarjanaan Muslim selama berabad-abad. Perdebatan ini mewakili posisi akademis sekaligus ideologis-sektarian. Isu takwil menjadi sangat sensitif ketika dikaitkan dengan sejumlah persoalan teologi (kalam, aqidah). Sekte-sekte dalam Islam memiliki pandangan yang beragam. Ini artinya, ada sejarah takwil yang cukup panjang dalam kajian pemahaman teks-teks Islam, baik Al-Quran maupun hadis.

Dalam sejarah, telah bermunculan cukup banyak literatur yang menggunakan judul takwil, baik terkait dengan kajian Al-Quran maupun hadis. Tetapi, seluruhnya merupakan karya yang berada dalam jenis karya tafsir atau syarah hadis. Berikut adalah di antara sebagian literatur yang menggunakan takwil dalam teks Al-Quran dan hadis;

Klasik

  1. Ta’wil Mukhtalif Al-Hadits karya Abu Muhammad Abdullah bin Qutaibah Al-Dinawari (w. 278 H.)
  2. Ta’wil Musykil Al-Qur’an karya Abu Muhammad Ibnu Qutaibah Al-Dinawari (w. 278 H.)
  3. Jami’ Al-Bayan Fi Ta’wil Ayi Al-Quran/Tafsir Al-Thabari karya Muhammad bin Jarir Abu Ja’far Al-Thabari (w. 310 H.)
  4. Jami’ Al-Ta’wil Li Muhkam Al-Tanzil karya Syekh Muhammad bin Bahr Al-Ashfahani (w. 322 H.)
  5. Tafsir Al-Maturidi Ta’wilat Ahl Al-Sunnah karya Abu Manshur Al-Maturidi (w. 333 H.)
  6. Musykil Al-Hadits Wa Bayanuhu karya Muhammad bin Hasan bin Faurak Al-Ashabani (w. 406 H.)
  7. Durrah Al-Tanzil Wa Ghurrah Al-Ta’wil karya Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Ashbahani  (w. 420 H.)
  8. Ta’wil Mutasyabih Al-Akhbar karya Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir Al-Baghdadi (w. 427 H.)
  9. Ibthal Al-Ta’wilat karya Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Hanbali (w. 458 H.)
  10. Ghara’ib Al-Tafsir Wa Aja’ib Al-Ta’wil karya Abul Qasim Burhanuddin Al-Kirmani (w. 505 H.)
  11. Qanun Al-Ta’wil karya Al-Qadhi Muhammad bin Abdullah Al-Isybili Al-Maliki (w. 543 H.)
  12. Dzamm Al-Ta’wil karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-Hanbali (w. 620 H.)
  13. Anwar Al-Tanzil Wa Asrar Al-Ta’wil karya Al-Baidhawi (w. 685 H.)
  14. Mullak Al-Ta’wil Al-Qathi’ Bi Dzi Al-Ilhad Wa Al-Ta’thil Fi Taujih Al-Mutasyabih Al-Lafzhi Min Ayi Al-Tanzil karya Abu Ja’far Ahmad bin Ibrahim Al-Gharnathi (w. 708 H.)
  15. Madarik Al-Tanzil Wa Haqa’iq Al-Ta’wil au Tafsir Al-Nasafi karya Abul Barakat Abdullah bin Ahmad Al-Nasafi (w. 710 H.)
  16. Al-Iklil Fi Al-Mutasyabih Wa Al-Ta’wil karya Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali (w. 728 H.)
  17. Lubab Al-Ta’wil Fi Ma’ani Al-Tanzil karya Ala’uddin Al-Khazin (w. 741 H.)
  18. Ta’wilat Al-Qur’an karya Syekh Kamaluddin Abdurrazzaq Al-Kasyi Al-Samarqandi (w. 887 H.)

Modern

  1. Aqawil Al-Tsiqat Fi Ta’wil Al-Asma’ Wa Al-Sifat Wa Al-Ayat Al-Muhkamat Al-Musytabihat karya Mar’a bin Yusuf Al-Maqdisi Al-Hanbali (1033 H.)
  2. Mahasin Al-Ta’wil karya Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi (1332 H.)
  3. Al-Ta’wil Khuthuruhu Wa Atsaruhu karya Umar bin Sulaiman bin Abdullah Al-Asyqar (1433 H.)
  4. Risalah Fi Haqiqat Al-Ta’wil karya Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi Al-Yamani (w. 1386 H.)
  5. Mafhum Al-Tafsir Wa Al-Ta’wil Wa Al-Istinbath Wa Al-Tadabbur Wa Al-Mufassar karua Musa’id bin Sulaiman Nashir Al-Thayyar.

Takwil: Dari Makna Netral Hingga Peyoratif-Negatif

Dalam penggunaannya, takwil pada mulanya digunakan secara netral. Hampir tidak ditemukan karya dari tiga abad pertama yang cenderung negatif. Bahkan, dalam hadis Nabi SAW diriwayatkan bahwa beliau pernah mendoakan sahabat Abdullah bin Abbas (w. 68 H.), allahumma faqqih-hu fi ad-din wa ‘allim-hu al-ta’wil (Ya Allah, pahamkan dia dalam masalah agama, dan ajari dia ta’wil). (HR. Ahmad No. 3102).

Dalam karya kesarjanaan, Ibnu Qutaibah Al-Dinawari (w. 278 H.) menggunakan judul Ta’wil Musykil Al-Qur’an dan Ta’wil Mukhtalif Al-Hadits. Imam Al-Thabari (w. 310 H.) menulis kitab tafsir berjudul lengkap Jami’ Al-Bayan Fi Ta’wil Ayi Al-Qur’an. Begitu pula para teolog seperti Abu Manshur Al-Maturidi, pendiri mazhab Maturidiyah yang menulis kitab berjudul Ta’wilat Ahl Al-Sunnah.

Kecenderungan peyorasi dalam penggunaan kata takwil mulai muncul pada abad kelima hijriah. Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Hanbali (w. 458 H.) menulis kitab yang mengkritik penggunaan takwil dengan judul Ibthal Al-Ta’wil. Kitab ini disusun sebagai kritik atas kitab Musykil Al-Hadits Bayanuhu karya Imam Ibnu Faurak (w. 406 H.), yang setengah abad sebelumnya. Menurut Abu Ya’la Al-Hanbali, Ibnu Faurak yang bermazhab Asy’ari telah melakukan pengubahan atas teks-teks suci dengan melakukan takwil.

Abad kelima hijriah merupakan era dimana kaum Hanbali mendapatkan pengaruh kuat di pemerintahan. Namun, mereka harus menghadapi Syafi’iyyah, Asy’ariyah, Muktazilah dan Syiah yang telah memiliki tradisi keilmuan yang lebih matang. Pada umumnya, para pengikut mazhab Syafi’i pada abad ini telah pula menjadi pengikut mazhab Asy’ari. Takwil merupakan salah satu isu yang diperdebatkan di kalangan yang berbeda mazhab tersebut.

Dalam kajian sejarah takwil, ada yang melihat bahwa takwil mengalami pergeseran makna. Pada mulanya takwil tidak berbeda dengan tafsir. Tetapi, pada abad kelima, takwil telah bergeser menjadi upaya meninggalkan pengertian tekstual karena mempertimbangkan sebuah argumen di luar teks. Baik argumen itu berbentuk teks atau logika. Kaum Hanbali menolak model takwil semacam ini karena dianggap sama dengan meninggalkan teks agama itu sendiri. Karena itu, para sarjana Hanbali menyerang Jahmiyyah, Muktazilah, Syiah, dan Asy’ariyah yang menerima konsep takwil dalam penafsiran teks.

Takwil Shahih dan Takwil Fasid

Dalam persoalan akidah, terdapat dua sikap yang dikeluarkan oleh para ulama. Pertama, kelompok mufawwidhah yang menyerahkan pengertiannya pada Tuhan sendiri. Kelompok ini menyatakan bahwa teks-teks Al-Quran maupun hadis yang menyebutkan sifat-sifat Tuhan harus diterima. Tidak perlu dipertanyakan maknanya secara spesifik. Cukup diserahkan kepada Tuhan sendiri. Namun, mereka menjaga diri dari keterjebakan paham antropomorfisme. Metode kelompok ini juga disebut takwil ijmali, karena sejatinya mereka tidak menetapkan pengertian tekstual sebuah teks.

Kedua, kelompok mu’awwilah yang bertekad menentukan pengertian teks secara spesifik demi menjaga umat dalam jebakan antropomorfisme yang mengimajinasikan Tuhan punya atribut makhluk. Kelompok ini disebut juga penganut takwil tafshili.

Dalam konteks ushul fiqih, perdebatan tentang takwil sudah dianggap selesai. Dimana, dalam diskursus ini, takwil telah memiliki kategorisasi antara takwil yang bisa diterima dan takwil yang tak bisa diterima. Yang pertama disebut takwil shahih. Sedangkan yang kedua, disebut takwil fasid.

Sebuah takwil dibenarkan, dan bisa diterima, jika memenuhi kriteria berikut:

  1. Sesuai kaidah bahasa atau praktik penggunaan bahasa Arab
  2. Didasarkan pada dalil (alasan tekstual atau rasional)
  3. Jika dalilnya berbentuk analogi (qiyas), maka disyaratkan harus qiyas jali
  4. Tidak berakibat pada lahirnya kebatilan (Ali Mustafa Yaqub, 2016)

Demikian sedikit ulasan tentang takwil dalam sejarah pemahaman teks-teks suci Islam, khususnya hadis-hadis Rasulullah SAW. Terdapat banyak sekali pembahasan dalam tema ini. Semoga sejarah takwil dalam kajian pemahaman hadis ini dapat menambah wawasan kita bersama. Wallahu a’lam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...