Beranda Khazanah Sekolah Bahtsul Masail; Genealogi, Metodologi, dan Kontekstualisasi

Sekolah Bahtsul Masail; Genealogi, Metodologi, dan Kontekstualisasi

Harakah.idSekolah Bahtsul Masail yang akan diselenggarakan PCNU Tangsel ini adalah upaya untuk kembali menyegarkan satu tradisi berdiskusi yang akrab diselenggarakan kaum santri.

Sekolah Bahtsul Masail ini diikhtiarkan sebagai salah satu strategi kaderisasi aktivis bahtsul masail. Dalam kultur pesantren-pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, forum-forum bahtsul masail sudah menjadi tradisi yang mengakar kuat. Hal ini berbeda dengan kebanyakan pesantren di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan umumnya di luar Jawa. Karena itu, perlu adanya strategi baru untuk “meratakan” kualitas forum bahtsul masail. Sudah barang tentu, Sekolah Bahtsul Masail ini harus diikuti dengan pembiasaan berbahtsul masail terus-menerus. Santri didukung dan didampingi oleh segenap asatidz ataupun pengurus masing-masing pesantren.

Dalam bukunya yang berjudul “Islam Tradisional yang Terus Bergerak” (2019), KH. Husein Muhammad menegaskan bahwa bahtsul masail adalah bagian integral tradisi keilmuan pesantren. Tradisi ini merupakan pengejawantahan tiga metode pembelajaran yang digariskan Syaikh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Pertama, munadharah, saling mengajukan pendapat atau pemikiran. Kedua, mudzakarah, saling mengingatkan dan menanggapi silang pendapat. Ketiga, mutharahah, saling menawarkan dan menguatkan argumentasi masing-masing pendapat. Karena itu, melalui forum ini akan terbangun sikap tegas sekaligus terbuka.

Sejalan dengan ini, pada tahun 1988, di pesantren Watucongol Magelang, ulama NU telah memutuskan garis besar mekanisme bahtsul masail. Tiga di antaranya adalah, pertama, memahami teks kitab klasik harus dengan konteks sosial historisnya. Poin ini merupakan bentuk kesadaran bahwa di satu sisi, literatur klasik sangat penting menjadi pegangan merespon dinamika masyarakat kontemporer. Namun di satu sisi, konteks historis antara “dulu” dan “kini” juga sangat menentukan dalam merumuskan hukum dan solusi. Solusi yang tepat di masa lalu, belum tentu sepenuhnya tepat untuk era sekarang. Mengingat kondisi masyarakat yang berbeda, meskipun keduanya sama-sama menginginkan kemashlahatan.

Kedua, mengembangkan kemampuan melakukan observasi dan analisis terhadap teks kitab kuning. Kemampuan ini akan berbanding lurus untuk menangkap esensi teks kitab kuning. Selain memudahkan untuk melakukan kontekstualisasi, juga penting untuk memahami nalar epistemik ulama salaf. Dengan demikian, kita tidak hanya mendapatkan rujukan hukum secara literal saja, tetapi juga menangkap alur dan argumentasi metodologisnya. Dari titik inilah, pengembangan hukum secara metodologis (manhaji) dapat dimungkinkan. Sebagaimana ditunjukan oleh KH. Afifuddin Muhajir dalam bukunya “Fikih Tata Negara” (2017), penguasaan terhadap kitab kuning dapat menjadi pijakan membicarakan Pancasila, demokrasi, kebijakan negara, dan lain sebagainya.

Ketiga, menghadapkan kajian kitab kuning dengan wacana aktual melalui bahasa yang komunikatif. Poin ketiga ini sangat penting untuk mendorong santri dan kalangan pesantren mampu menghidupkan kitab kuning. Hidup dalam artian dapat menjadi sumber inspirasi. Serta komunikatif turut andil meramaikan wacana aktual yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Lebih dari itu, mampu memberikan rumusan yang solutif, mudah dipahami, dan implementatif.

20 tahun yang lalu, Kiai Sahal Mahfudh (1937-2014) telah mewasiatkan bahwa pesantren harus mampu mengakses literatur kontemporer lainnya. Dalam bukunya yang berjudul “Pesantren Mencari Makna” (1999), Kiai Sahal menyatakan bahwa yang dibutuhkan adalah kemauan pesantren untuk membuka diri terhadap referensi lain. Pesantren harus mulai mengikis “phobia”-nya terhadap referensi selain kitab kuning. Baik dalam bidang eksak ataupun ilmu sosial. Keduanya perlu dikuasai dan disandingkan dengan kajian kitab kuning.

Lebih lanjut, dalam pandangan Kiai Sahal, jika pesantren dapat mengintegrasikan kitab kuning dengan berbagai referensi lain, maka akan tercapai sinergi ilmiah. Bagi dunia pesantren, hal ini menjadi kesempatan untuk kembali menjadi “pemain” dalam dinamika keilmuan. Yakni mampu mewarnai rumusan solusi permasalahan sosial dengan nuansa pesantren. Dalam upaya ini, satu di antara langkah nyatanya adalah melalui forum bahtsul masail.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...