Beranda Headline Semakin Hari Semakin Serius dan Kurang Lucu, Ketawa Gus Dur Sejatinya Adalah...

Semakin Hari Semakin Serius dan Kurang Lucu, Ketawa Gus Dur Sejatinya Adalah Solusi Bangsa Ini!

Harakah.id Dalam banyak kesempatan, Gus Dur selalu melontarkan kalimat “Gitu Aja Kok Repot” dan Tertawa. Di jaman yang makin serius dan sepaneng hari ini, tawa Gus Dur tampaknya adalah satu yang paling kita rindukan. Ketawa Gus Dur adalah solusi bangsa.

Sakdiyah Ma’ruf, salah satu komika sekaligus Aktivis Perempuan dalam essainya berjudul “Humor dan Rekonsiliasi” yang dimuat salah surat kabar Nasional pada 13/07/19 menyatakan: “Legasi mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kiai dan pemimpin bangsa genius yang menggunakan humor sebagai sarana diplomasi, (kini) seperti lenyap tak berbekas”.

Sudah 10 Tahun memang Gus Dur meninggalkan kita semua. Namun, ada yang musti tak boleh ditinggalkan atau dilupakan dari sosok Gus Dur dan agaknya sangat perlu untuk dilanjutkan pada dewasa ini, yaitu tentang humor dan tawanya. Tawa pada diri Gus Dur begitu melekat. Barangkali sama seperti melekatnya tawa pada diri manusia itu sendiri.

Dalam khazanah pesantren, manusia didefiniskan sebagai; makhluk tertawa. Oleh sebab itu, dalam dunia pesantren tawa pada hakikatnya menegaskan akan kemanusiaan sebagaimana yang digaungkan dalam gagasan humanisme Gus Dur. Atau dapat dikatakan bahwa tawa pada dasarnya sebuah bentuk ekspresi untuk memanusiakan manusia. Setali-uang antara tawa dan kemanusiaan itulah barangkali yang membuat tawa begitu melekat dengan sosok Gus Dur.

Anekdot-anekdot Gus Dur sudah banyak ditulis, buku-buku humor Gus Dur bertebaran. Hal itu menabalkan bahwa Gus Dur pada dasarnya tidak hanya meninggalkan warisan berupa gagasan-gagasan bernas tentang toleransi, pluralisme dan humanis yang perlu dilanjutkan. Lebih dari itu, Gus Dur meneledankan dan meninggalkan warisan berharga berupa tawa.

Sejatinya, tawa tidak hanya menegaskan akan arti memanusiakan manusia semata. Akan tetapi, tawa juga dapat membuat kita memikirkan kembali hal-hal yang telah dianggap mapan. Tawa dalam sisi lain, juga dapat menjadi ekspresi dari bentuk sebuah penolakan. Kita tertawa pada dasarnya sebagai wujud akan penolakan terhadap kemapanan dan suatu yang dianggap benar.

Sebagaimana menurut Simon Critchley dalam Infinitely Demanding, humor ”mengingatkan kita akan sifat rendah hati dan keterbatasan kondisi manusia”. Dengan kesadaran akan keterbatasan itu kita menemui manusia dengan mengakui sifatnya yang ”komikal”, bukan dalam sifatnya pada posisi sebagai sosok yang mewujud dalam kepongahan dan kesombongan. Melalui humor dan perayaan atas tawa itu manusia dapat menyadari atas kepongahan merasa mapan akan kemampuannya merumuskan Tuhan. Dan melalui humor pula manusia dapat meredam ambisi untuk membakukan segala hal.

Atas kerangka itu barangkali, salah seorang sastrawan Ceko, Milan Kundera dengan menyitir peribahasa Yahudi menyatakan “Manusia berpikir Tuhan pun tertawa”. Apa yang tergambar dari ungkapan Milan Kundera itu tidak lain merupakan sebuah parodi, dan mungkin ironi tentang pencarian akan sebuah kebenaran dan kemapanan oleh manusia. Alih-alih menemukan kebenaran, mereka justru mendapat tawa Tuhan.

Tawa Tuhan merupakan ekspresi penolakan atas manusia yang dengan jumawa menahbiskan diri dapat merumuskan sebuah kebenaran. Dari ungkapan sarkastis itu, Milan Kundera secara implisit seolah menyatakan: Kebenaran tak bisa dirumuskan. Ia semata hak preogratif Tuhan. Kalian yang (sok) menemukannya, tentu sedang dagelan.

Tawa Tuhan merupakan ekspresi penolakan atas manusia yang dengan jumawa menahbiskan diri dapat merumuskan kebenaran. Dari ungkapan sarkastis itu, Milan Kundera secara implisit seolah menyatakan: Kebenaran tak bisa dirumuskan. Ia semata hak preogratif Tuhan. Kalian yang (sok) menemukannya, tentu sedang dagelan.

Sepaham dengan Milan Kundera, perkataan seorang sufi besar, Alhujwiri yang dikutip sebagai penghias sampul belakang buku Gus Dur Tuhan Tak Perlu Dibela, menandaskan:

Bila engkau menganggap Tuhan itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Tuhan tidak perlu disesali kalau Dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya”.

Tuhan sebagai representasi dari sebuah kebenaran yang tak terbatas, yang utuh dan yang tak retak oleh Alhujwiri diklaim tak ada satu pun yang dapat merumuskannya. Lebih dari itu, mereka yang menahbiskan diri dapat dan mampu untuk merumuskannya, menurut Alhujwiri justru telah keluar dari garis kebenaran itu sendiri (kafir).

Ungkapan Alhujwiri yang demikian tegas ini, sama sebagaimana menurut Ibnu ‘Arabi, bahwa Sang Mutlak per se tidak bisa diketahui dan senantiasa menjadi misteri gelap bahkan dalam suatu pengalaman mistis “penyingkapan” (kasyf) dan “pencicipan langsung” (dzauq).

Senada dengan pernyataan Alhujwiri, pula nampak pada apa yang dinyatakan oleh Imam Junaid al-Baghdadi, guru utama di Madrasah Sufi, Baghdad, yang juga merupakan salah satu guru Al-Hallaj, ketika ditanya tentang “Apa itu tauhid?”, beliau menjawab dengan menukil tuturan Abu Bakar ash-Shiddiq, “Maha suci Allah yang telah memberikan ketidakmampuan kepadaku untuk mengetahui apa pun tentang-Nya kecuali dalam ketidakmampuan itu aku bisa mengetahui apa pun tentang-Nya.”

Agaknya satu kesimpulan yang penting dari pernyataan-pernyataan di atas, bahwa kita sama sekali tidak dapat berbicara tentang Tuhan karena kemustahilan-Nya untuk diketahui secara utuh, alih-alih membela-Nya. Pengetahuan yang kita susun tentang Tuhan merupakan reduksi terselubung terhadap kebenaran-Nya yang tak terbatas. Benang merahnya setara dengan paparan Imam Junaid al-Baghdadi, yakni “ketidakmampuan manusia merumuskan-Nya”. Usaha merumuskan-Nya adalah pengingkaran pada ketidakmampuan diri dan sekaligus kemahaan Allah. Jelas itu adalah suatu kelancangan yang tak terperikan.

Atas dasar ketidakmungkinan dan kemustahilan itulah, Tuhan agaknya justru akan lebih baik jika didekati dan dimeriahkan dengan tawa. Karena di atas muka bumi, Dia tak akan pernah mapan. Yang justru mungkin terjadi adalah manusia merasa mapan akan kemampuannya merumuskan Tuhan. Dan pada saat itulah kita membutuhkan tawa, sebab tawa dapat meredam ambisi manusia membakukan segala hal—termasuk Tuhan. Di sinilah, warisan Gus Dur berupa tawa mendapat tempatnya.

Dengan tawa, kita tak dirundung kepongahan atas sikap merasa dapat merumuskan Tuhan dan merasa menjadi pihak paling benar. Dengan kata lain, manusia lebih selamat jika perayaan atas tawa tak dibungkam, humor tak dimatikan, tak dilupakan dan tawa serta permainan tak diharamkan dan manusia mengakui ada yang lucu dalam ketaksempurnaannya. Dan dengan pengakuan itu ia jadi menyadari atas ketakmampuannya, serta menolak adanya kemapanan atas rumusannya tentang kebenaran.

Peninggalan warisan Gus Dur berupa tawa inilah yang diperlukan oleh bangsa kita hari ini. Sebab, bangsa kita kini sedang menuju gejolak yang tiada terperi. Tidak hanya saling berebut kebenaran, namun masing-masing telah merampok dan merampas kebenaran itu sendiri dari pihak lain dan dengan jumawa mengklaim akan kebenaran hanya ada pada diri atau kelompoknya, kemudian menyalahkan orang lain. Dan pada saat ini juga kita membutuhkan tawa sebagai rekonsiliasi.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...