Beranda Headline “Serabien” di Malam 21 dan “Bhibien” di Malam 27 Adalah Sejatinya People...

“Serabien” di Malam 21 dan “Bhibien” di Malam 27 Adalah Sejatinya People Power

Sudah saatnya mengembalikan makna people power kepada rumpun dan akar genetisnya. People adalah masyarakat, maka power masyarakat sejatinya berada di dalam istilah “masyarakat” itu sendiri. Masyarakat atau musyarakah adalah simpul kerukunan dan gotong royong yang menjadi karakter kita selama pengalaman panjang hidup sebagai sebuah bangsa yang bhineka.

Di daerah saya, Bondowoso Jawa Timur, ada semacam tradisi atau kebiasaan di Bulan Ramadan. Ada beberapa jenis makanan yang khusus dibuat dan disajikan pada waktu tertentu, untuk merayakan semacam momentum dan situasi yang dinilai “sakral” dan penuh berkah. Khusus di Bulan Ramadan, momentum itu terjadi di malam 21 dan malam 27 Ramadan. Kalaupun boleh dirasionalisasi, alasan mengapa dua malam itu yang dipilih mungkin karena keduanya akrab sebagai simbol waktu turunnya Lailatul Qadar. Sebagaimana yang kita tahu, Lailatul Qadar kemungkinan besar jatuh di malam-malam ganjil 10 hari terakhir Bulan Ramadan.

Di malam 21 Ramadan, makanan yang biasa disajikan adalah “serabih” atau surabi. Sejenis makanan yang terbuat dari kelapa, yang biasanya disajikan dengan sejenis kuah gurih putih beraroma pandan. Serabien – nama tradisinya – masih cukup massif dilakukan oleh masyarakat saya. Selepas tarawih dan kala tadarus berlangsung, biasanya beberapa sajian “serabih” diantar dan dihidangkan di langgar. Di luar langgar, masyarakat biasanya juga saling bertukar “serabih” dengan tetangga sekitarnya.

Di malam 27 Ramadan, giliran tradisi “bhibien” yang berlangsung. Kalau dilihat dari bentuknya, “bhibien” mirip dengan nasi kucing. Nasi-nasi yang dibungkus daun pisang, ditaburi orap atau urap dengan lauk teri dan sambal terasi bajak. Tentu saja lauknya bisa beragam, tergantung selera si pembuatnya. Nasi-nasi bungkusan ini biasanya juga dibagi-tukarkan di antara sesama tetangga dekat.

Di bulan-bulan lainnya tradisi yang mengental dalam sajian makanan juga kerap kita temukan. Misalnya, ada beberapa jenis bubur atau tajin yang dibuat di bulan-bulan tertentu. Tajin sorah yang dibuat di Bulan Suro dan tajin sappar yang biasa dibuat di Bulan Shafar. Selain itu, banyak lagi jenis makanan yang tak hanya menjadi jenis kuliner an sich, namun juga mewujud simbolisasi dan abstraksi dari keyakinan berikut cara hidup masyarakat Nusantara, khususnya dalam merespons waktu dan momentum yang mereka anggap sakral, suci dan penuh berkah.

Saya menyakini, budaya dan tradisi telah mencapai puncak transendentalitasnya ketika ia sulit dilacak asal muasalnya. Siapa yang memulai tradisi serabien di malam 21? Atau siapa yang pertama kali memiliki inisiatif untuk membuat tradisi bhibien di malam 27? Siapa pencetus tajin sorah, tajin sappar dan bangunan kultur kuliner Nusantara lainnya? Saya rasa agak sulit – untuk tidak mengatakannya mustahil – melacak asal muasalnya. Kekaburan historis semacam ini bukanlah kekurangan, ia justru menjadi kelebihan sekaligus bukti praktek konsensus masyarakat yang terjadi secara paripurna dalam wataknya yang egaliter dan sosialis.

Maka people power sejatinya adalah medan kekuatan yang bergerak dalam istilah “masyarakat” itu sendiri. Tidak perlu korlap, provokator ataupun orator untuk membangkitkan kekuatan internal masyarakat tersebut. Kesatuan visi dan kesamaan motif adalah api pemantik yang mampu menyalakan kekuatan tersebut dalam wujudnya yang paling lirih namun menyeluruh. Ada satu ruang kosmologi tempat person-person dan individu dalam masyarakat meletakkan mimpi dan angan-angannya secara bersamaan. Di ruang itulah berbagai aspirasi, pandangan dan tawaran dipertemukan, direvisi, digugat dan disempurnakan secara egaliter. Satu proses pematangan “people power” yang benar-benar terjadi dalam level abstraksi dan kesadaran yang paling fondasional.

Maka people power sejatinya adalah medan kekuatan yang bergerak dalam istilah “masyarakat” itu sendiri. Tidak perlu korlap, provokator ataupun orator untuk membangkitkan kekuatan internal masyarakat tersebut. Kesatuan visi dan kesamaan motif adalah api pemantik yang mampu menyalakan kekuatan tersebut dalam wujudnya yang paling lirih namun menyeluruh. Ada satu ruang kosmologi tempat person-person dan individu dalam masyarakat meletakkan mimpi dan angan-angannya secara bersamaan. Di ruang itulah berbagai aspirasi, pandangan dan tawaran dipertemukan, direvisi, digugat dan disempurnakan secara egaliter. Satu proses pematangan “people power” yang benar-benar terjadi dalam level abstraksi dan kesadaran yang paling fondasional.

Tradisi, adat dan kebiasaan di Nusantara yang selama ini menjadi simpul kultural di tengah keperbedaan yang sangat beragam itulah produknya. People Power atau kekuatan musyarakah dalam masyarakat betul-betul menjadi semacam rumah yang tak mengandaikan sekat pemisah dan pembeda. Kita tidak sibuk memperdebatkan asal muasal, aktor utama dan inisiatornya, karena memang kita semua adalah insiator, aktor sekaligus asal muasalnya. People power semacam ini melampaui ruang dan waktu sehingga ia tidak mampu dibentuk dan dipengaruhi oleh tendensi sektarianistik atau prefensi politik tertentu. Ia bergerak dan menemukan bentuknya secara alamiah.

Dari sini, upaya membangkitkan people power sebenarnya harus diawali dengan meletakkan kesadaran kita pada ruang kultural tempat subyektifitas kita ditempa dan dibentuk sebagai orang Indonesia. Membangkitkan people power harusnya adalah kembali kepada tradisi dan traktat perjanjian agung bahwa kita akan hidup bersama, rukun, saling membantu dan menghargai dan menjaga mati-matian eksistensi Nusantara sebagai wadahnya. Membangkitkan people power sejatinya harus menghilir pada kehendak untuk mencari titik pertemuan, bukan mengotak-atik sekat-sekat perbedaan.

Inilah wujud people power yang paling yahut. Berkumpul bersama orang lain, menikmati serabih di tengah lantunan ayat al-Qur’an sembari ditemani rokok dan kopi. Tak ada kebencian, kemarahan dan dorongan untuk menjatuhkan. Apa saja kita obrolkan. Mulai dari harga tembakau hingga sama-sama menertawakan pertikaian yang tak berujung usai oleh mereka yang menyebut dirinya kota dan pintar.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...